in

Pesona Mentawai Sebagai Surga Bagi Peselancar

HALUAN.CO – Kepulauan Mentawai terdiri dari banyak pulau.Meski begitu, Kepulauan Mentawai memiliki 3 buah pulau utama yang banyak dihuni: yakni yaitu Pulau Utara, Pulau Pagai Selatan, dan Pulau Siberut. Total luas wilayah kepulauan ini adalah 4.000-an km persegi, dengan jumlah penghuninya sebanyak 29 hingga 30 ribuan jiwa.

Suku Mentawai tersebar dan bermukim di Kepulauan Mentawai. Yang membuat Suku Mentawai ini menarik karena merupakan salah satu suku yang tertua di Indonesia. Nenek moyang dari Suku Mentawai ini diketahui dan diyakini oleh para peneliti sudah mendiami lokasi kepulauan Mentawai di barat Sumatera sejak tahun 500 SM.

Berlokasi di sisi barat Pulau Sumatera, Kepulauan Mentawai menjadi salah satu Kabupaten yang termasuk ke dalam Provinsi Sumatera Barat. Posisinya yang langsung menghadap Samudera Hindia, membuat kepulauan Mentawai memiliki ombak besar yang konsisten sepanjang tahun. Hal itu menjadi dari anugerah alam bagi pengembangan wisata serta olahraga ekstrem di sana.

Selain mampu mengundang para peneliti orang-orang yang tertarik dengan Suku Mentawai. Kepulauan Mentawai juga menjadi kepulauan yang acapkali dikunjungi oleh wisatawan asing dibandingkan oleh wisatawan lokal sendiri. Pasalnya Kepulauan Mentawai menjadi surga tersendiri pagi para penggemar olahraga surfing atau selancar.

Bagi wisatawan yang ingin berpetualang, seperti berburu dengan suku asli Mentawai, bisa mengunjungi pulau Siberut. Sedangkan jika ingin menikmati keindahan pantai dan hendak berselancar, pilihannya adalah berkunjung ke pulau Sipora.

Persoalan biaya mahal seringkali menjadi kendala yang dipikirkan oleh wisatawan lokal ketika ingin mengunjungi kepulauan Mentawai. Namun semua itu dirasa sepadan karena pesona alam yang ditawarkan oleh Kepulauan Mentawai juga begitu luar biasa.

Posisi geografis Kepulauan Mentawai yang langsung menghadap Samudra Hindia, membuat ombak di Kepulauan Mentawai begitu besar. Potensi bencana yang dihadirkan pun berbanding lurus. Jika badai datang, semua transportasi laut berhenti beroperasi.

Periode Juni-November, yang bertepatan dengan libur musim panas Eropa, adalah waktu terbaik berselancar di sana. Pada periode itu ombak bisa mencapai 10 meter tingginya. Karakter ombak Mentawai disukai karena memiliki terowongan (barrel) panjang.

Kejuaraan dunia semacam World Champions Surfing Series Mentawai dan Mentawai International Pro Surf Competition, digelar secara rutin di Lance’s Right, Kepulauan Mentawai. 

Ada 99 titik ombak yang berkategorikan internasional di Kepulauan Mentawai. Area ombak itu tersebar di daerah Nyang-Nyang, Karang Bajat, Karoniki, Pananggelat, dan Mainuk (Pulau Siberut), Katiet Basua (Pulau Sipora), dan Pagai Utara (Pulau Sikakap).

Setiap titik ombak memiliki karakternya masing-masing. Misalnya di area No Kanduis Left—asal kata dari no can do it. Di sana cocok untuk peselancar goofy foot alias kidal karena ombaknya berjalan ke kiri. Artinya, gelombang akan pecah dari kanan ke kiri—dari sudut pandang peselancar ketika menghadap ke pantai.

Pantai di Mentawai memang masih terbilang cukup sepi, bersih, dan asri. Sebagian besar daratan masih berupa hutan yang memiliki spesies endemik yang dilindungi, seperti Beruk Mentawai.

Tapi keperawanan Kepulauan Mentawai ini ternyata jadi rebutan. Disinyalir ada pertempuran di antara peselancar untuk memperebutkan ombak eksklusif ini.

Meski Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai sudah membatasi 10 peselancar di satu tempat, kenyataan di laut jauh berbeda. Saling selak mendapatkan ombak terus terjadi, bahkan ada yang berujung adu jotos antar peselancar.

Pada akhirnya berlibur ke Kepulauan Mentawai bisa jadi pilihan apabila Anda menyukai olahraga ekstrem atau berselancar. Dengan pesona atau lanskap alamnya yang indah, di Kepulauan Mentawai pun bisa jadi destinasi anda untuk menepi ketika rutinitas harian terasa sudah membuat penat.

Article by

Haluan Logo