in

Langkah China Mengembangkan Internet 6G

Pada Minggu, 8 November 2020, Kementerian Sains dan Teknologi China meluncurkan satelit uji 6G pertama di dunia ke orbit. Upaya itu digadang sebagai bagian dari penelitian awal tentang konektivitas seluler generasi berikutnya, tetapi apakah dunia benar-benar membutuhkan generasi jaringan seluler lain?

Menurut pendapat beberapa ahli, kecepatan 6G bisa mencapai 1 TB per detik, atau sekitar 8.000 kali kecepatan 5G. Dilansir dari Gizchina, sejak 7 November 2020, China telah membentuk dua kelompok kerja untuk mengembangkan penelitian pada 6G.

Salah satu kelompok terdiri dari beberapa eksekutif dari kementerian sektor terkait yang bertanggung jawab untuk mendukung upaya kelompok kedua, yang murni teknis. Kelompok kedua terdiri atas 37 ahli dari universitas, lembaga penelitian dan perusahaan teknologi.

Dalam sebuah artikel yang diterbitkan awal pekan ini, BBC mengungkapkan bahwa kecepatan transfer data 6G yang lebih tinggi, menyoroti penggunaan teknologi gelombang terahertz frekuensi tinggi “untuk mencapai kecepatan transmisi data berkali-kali lebih cepat daripada 5G.”

Satelit uji coba itu pergi ke orbit bersama dengan 12 satelit lainnya dari Pusat Peluncuran Satelit Taiyuan di Provinsi Shanxi. Perusahaan telekomunikasi masih beberapa tahun lagi untuk menyepakati spesifikasi 6G, sehingga belum bisa dipastikan teknologi yang diujicobakan akan masuk ke standar final.

Riset dan pengembangan ini masih pada tahap awal, mengingat 5G masih dalam masa pertumbuhan. Namun, untuk mengembangkan jaringan internet generasi baru dibutuhkan sekitar satu dekade. Jadi dalam proyeksinya, teknologi 6G direncanakan bakal bisa dinikmati sekitar pada tahun 2030.

Menurut Dr. Mahyar Shirvanimoghaddam dari University of Sydney, secara teori, jaringan 6G dapat menawarkan kecepatan hingga 1 terabyte per detik atau 8.000 gigabit per detik. Kecepatan ini jelas bakal membuka pintu lebar bagi berbagai macam penggunaan internet yang benar-benar baru, dan merevolusi hubungan manusia dengan teknologi itu sendiri

Era 6G disinyalir dapat menawarkan perspektif baru dalam hal antarmuka otak-komputer. Sebagai contohnya, adalah kemungkinan untuk menggunakan perangkat “melalui otak kita,” imbuh Shirvanimoghaddam. Sebagai gambaran dalam penggunaan internet sehari-hari, 6G mampu mengunduh lebih dari 142 jam video berkualitas tinggi per detik..

Jauh sebelum meluncurkan satelit 6G pertama di dunia untuk diuji ini, China memang sudah membahas teknologi komunikasi generasi keenam ini sejak jauh hari.

Pada Mei 2020 lalu, sebagaimana dilaporkan media Global Times, perusahaan telekomunikasi China Unicom dan produsen peralatan telekomunikasi, Zhongxing Telecommunication Equipment Corporation atau ZTE sudah bekerjasama untuk membahas prospek, tren teknologi, dan meneliti teknologi utama 6G.

Ma Jihua, selaku analis industri veteran China, mengatakan kepada Global Times bahwa 6G akan menjadi medan pertempuran dekade berikutnya. Hal itu berlaku karena semua negara ingin memimpin dan memiliki suara yang kuat di pasar telekomunikasi masa depan.

“Hanya dengan bekerja sama dengan beberapa pemain titik-temu di industri, perusahaan dapat menjamin bahwa mereka tidak akan terpinggirkan begitu standar dan teknologi 6G digunakan,” ungkap Ma, mengomentari kerja sama antara China Unicom dan ZTE saat itu.

Lebih lanjut lagi Ma mengatakan bahwa penelitian 6G China lebih maju daripada 5G. Itu tak terlepas karena negara ini memiliki basis bakat yang besar dan sangat canggih, pengalaman teknis yang solid, dan permintaan aplikasi yang kuat dari para pengguna.

Fu Liang, pakar industri telekomunikasi yang berbasis di Beijing, mengatakan bahwa jaringan komunikasi masa depan, termasuk 6G, juga akan mematahkan struktur sentralisasi internet dan mencegah satu perusahaan atau perusahaan dari pemerintah untuk membangun dominasi.

Para peneliti di berbagai negara kini sedang mempelajari pita frekuensi 6G mana yang harus diadopsi. Selain itu para analis juga menyatakan jaringan 6G akan menyertakan satelit untuk membentuk jaringan yang terhubung ke luar angkasa dan planet bumi.

Article by

Haluan Logo