in

Proyeksi Industri Luar Angkasa Komersial di Tahun 2021

A SpaceX Falcon 9 rocket with the company's Crew Dragon spacecraft onboard is seen as it is rolled out of the horizontal integration facility at Launch Complex 39A as preparations continue for the Crew-1 mission, Monday, Nov. 9, 2020, at NASA???s Kennedy Space Center in Florida. NASA???s SpaceX Crew-1 mission is the first operational mission of the SpaceX Crew Dragon spacecraft and Falcon 9 rocket to the International Space Station as part of the agency???s Commercial Crew Program. NASA astronauts Mike Hopkins, Victor Glover, and Shannon Walker, and astronaut Soichi Noguchi of the Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) are scheduled to launch at 7:49 p.m. EST on Saturday, Nov. 14, from Launch Complex 39A at the Kennedy Space Center. Photo Credit: (NASA/Joel Kowsky)

Terlepas dari hantaman pandemi, tahun 2020 adalah tahun penting bagi industri luar angkasa komersial. SpaceX menjadi perusahaan pertama yang mengirim manusia ke luar angkasa dengan pesawat ruang angkasa milik pribadi. Pemerintah AS terus bekerja sama dengan perusahaan rintisan dan luar angkasa untuk mengembalikan manusia ke Bulan. Dan, dibantu oleh pemerintah yang mendeklarasikannya sebagai “bisnis penting” di tengah pandemi, sekelompok perusahaan ruang angkasa muda terus bekerja untuk menciptakan roket atau layanan satelit baru.

Tetapi 2021 diperkirakan bakal menjadi lebih menarik untuk industri yang sedang berkembang karena raksasa yang berkuasa seperti SpaceX, terus mengejar teknologi futuristik. Dari roket Mars hingga layanan internet berbasis ruang angkasa, dan pariwisata luar angkasa juga termasuk di antaranya. Berikut adalah sekilas rencana sektor swasta di luar angkasa tahun depan:

Astronot Terbang Komersial

SpaceX membuat sejarah ketika pesawat luar angkasa Crew Dragon-nya membuktikan bahwa ia dapat membawa astronot NASA ke Stasiun Luar Angkasa Internasional. Hal itu menjadi penanda pertama kalinya dalam 18 tahun sejarah SpaceX, bahwa perusahaan itu menempatkan manusia di luar angkasa. Hal itu juga merupakan klimaks dari kemitraan selama satu dekade dengan NASA untuk mengembalikan kemampuan penerbangan luar angkasa manusia ke Amerika Serikat.

SpaceX diharapkan membuat perjalanan itu menjadi rutinitas. Kelompok astronot lain diperkirakan akan terbang dengan Crew Dragon pada Musim Semi 2021, dan penerbangan Crew Dragon lainnya dapat diluncurkan pada musim gugur mendatang.

Kemampuan untuk menerbangkan astronotnya sendiri setelah menghabiskan hampir satu dekade mengandalkan pesawat luar angkasa Rusia, terutama untuk menempatkan astronot AS di luar angkasa, kini menjadi hal pelik baru bagi NASA. Pasalnya badan antariksa itu mengatakan sekarang mereka akan dapat menjaga stasiun luar angkasa tetap penuh staf, memungkinkan peningkatan dramatis dalam jumlah penelitian yang dapat dilakukan astronot di atas ISS.

Tahun depan, Boeing juga dapat menambahkan kendaraan lain ke gudang persenjataan pesawat ruang angkasa Amerika Serikat yang layak bagi manusia. Perusahaan itu berencana untuk melakukan penerbangan awak pertama dari kendaraan Starliner, yang sedang dikembangkan di bawah program NASA yang sama dengan Crew Dragon milik SpaceX.

Starliner dari Boeing, yang terlihat mirip dengan Crew Dragon milik SpaceX, pertama-tama harus melakukan tes penerbangan yang coba dilakukan perusahaan satu tahun lalu. Boeing mengatakan penerbangan itu ditargetkan pada 29 Maret 2021 ntuk upaya kedua. Dan jika semuanya berjalan dengan baik, peluncuran awak pertama Starliner dapat dimulai beberapa bulan kemudian.

Wisata Orbital

Baik pesawat luar angkasa Boeing dan SpaceX, keduanya adalah milik pribadi. Sesuai dengan ketentuan serta kesepakatan pengembangan yang mereka tandatangani dengan NASA, yang berarti kedua perusahaan akan memiliki opsi untuk menjual kursi di pesawat ruang angkasa mereka kepada siapa saja yang mampu membayar sekitar $ 50 juta per kursi.

SpaceX telah menandatangani kesepakatan dengan Axiom, startup yang didirikan oleh mantan Administrator NASA Michael Suffredini, untuk membawa sekelompok “astronot pribadi” ke ISS dengan menaiki Crew Dragon pada paruh kedua tahun 2021.

Axiom telah mengkonfirmasi dua anggota awak yang akan berada dalam penerbangan itu: Michael Lopez-Alegria, mantan astronot NASA dan veteran dari tiga misi Pesawat Ulang-alik yang akan terbang sebagai warga negara pribadi, serta Eytan Stibbe, mantan pilot pesawat tempur Israel sekaligus investor yang dilaporkan mendanai perjalanannya sendiri.

Wahana Kesenangan Suborbital

Dua usaha yang ditopang miliarder, yakni Virgin Galactic karya Richard Branson dan Blue Origin milik Jeff Bezos, sedang mengembangkan kendaraan bertenaga roket kecil dengan tujuan melakukan perjalanan ke atmosfer.

Virgin Galactic, yang lebih dahulu go-public melalui penggabungan pada tahun 2019, telah pindah ke pelabuhan antariksa baru yang mewah di New Mexico dan bersiap untuk membuka bisnis secepatnya tahun depan. Branson berencana menjadi salah satu penumpang pertama di pesawat luar angkasa supersonik yang telah dibangun dan diuji oleh perusahaan selama dua dekade terakhir. Penerbangan uji coba kendaraan itu baru-baru ini dihentikan karena masalah mesin, tetapi Virgin Galactic masih berharap untuk menyelesaikan tes terakhirnya dalam beberapa bulan ke depan.

Blue Origin, yang mengembangkan roket dan kapsul otonom yang lepas landas secara vertikal dari landasan peluncuran, juga dapat dibuka untuk bisnis tahun depan. Perusahaan tersebut telah menguji teknologinya di lokasi terpencil di Texas Barat sebanyak 13 kali dan menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk memamerkan jendela besar pesawat ruang angkasa dan kabin yang luas. Namun, Blue Origin belum mengumumkan harga tiket atau kapan mereka berencana untuk mulai menjualnya.

Article by