in

Jawaban Pertanyaan yang Sering Muncul tentang Vaksin Covid-19

Ilustrasi virus Corona atau Covid-19. Foto: Shutterstock

Vaksin Covid-19 telah diluncurkan di bebebrapa negara, termasuk Indonesia. Vaksin ini sebagai upaya untuk menekan penyebaran virus Corona penyebab pandemi Covid-19.

Namun, hingga kini masih banyak pertanyaan yang muncul di kalangan masyarakat terkait vaksin Covid-19. Salah satunya, apakah seseorang yang telah divaksi Covid-19 masih dapat menularkan virus Corona?

Berikut tiga pertanyaan penting yang sering muncul terkait vaksin Covid-19, dilansir NPR:

  • Apakah orang yang divaksinasi Covid-19 masih bisa menularkan virus Corona?

Ahli imunologi di Universitas Washington, Marion Pepper mengatakan, itu bukan hanya pertanyaan untuk vaksin ini, melainkan untuk vaksin secara umum.

“Saya pikir sulit untuk mengatakannya, karena kami masih terus-menerus dibombardir oleh patogen virus Corona yang berbeda dan kami tidak tahu kapan sistem kekebalan Anda merespons,” ungkapnya.

Setelah divaksinasi, jika seseorang terinfeksi virus Corona kemungkinan tidak akan menimbulkan gejala parah, bahkan mungkin tanpa gejala. Namun, dalam kondisi ini tetap bisa menularkan virus Corona.

“Ketika seseorang terinfeksi atau diinokulasi dengan vaksin, sistem kekebalan bersiap untuk menghasilkan antibodi yang secara khusus menargetkan virus. Seiring waktu, antibodi tersebut secara alami berkurang,” terang Pepper.

Akan tetapi, sistem kekebalan masih menyimpan ingatan terhadap virus, dan jika virus itu muncul lagi, sel-sel mulai bekerja dan mulai menyiapkan kumpulan antibodi baru. Tapi, proses itu bisa memakan waktu tiga hingga lima hari.

  • Apakah vaksin Covid-19 akan tetap efektif saat virus Corona terus berkembang?

Pepper mengatakan, pertanyaan ini sulit dijawab. Menurutnya, sejauh ini para ilmuwan tidak terlalu peduli tentang jenis virus yang saat ini menyebar secara global, karena vaksin dianggap masih akan bekerja melawan virus.

Hanya yang jadi masalha adalah virus akan terus berubah, dengan konsekuensi yang tidak pasti.

“Meskipun semua orang jelas prihatin tentang virus yang berkembang, daya tanggap sel B memori Anda juga akan berkembang seiring waktu,” ungkap Pepper.

Sel B memori merupakan komponen penting dari sistem kekebalan, sebab mereka mengingat infeksi. Ini mengintai di sumsum tulang dan siap untuk berubah menjadi sel penghasil antibodi jika virus yang mereka “ingat” muncul kembali dalam tubuh.

Namun, sel B tidak hanya mengingat satu antibodi spesifik yang telah bekerja melawan virus di masa lalu. Mereka juga dapat secara acak menghasilkan antibodi baru yang serupa dan yang mungkin lebih efektif melawan jenis virus yang belum pernah dilihat tubuh.

“Ini merupakan saat satu-satunya di dalam tubuh, di mana sel dewasa sengaja memasukkan mutasi ke dalam DNA,” beber Pepper.

Tapi ajaibnya, lanjut Pepper, sistem ini memiliki batasan. Virus yang mengalami perubahan signifikan dari satu tahun ke tahun berikutnya seperti flu, bisa mengakali sistem ini.

Itulah sebabnya orang membutuhkan vaksinasi flu baru setiap tahun. Virus Corona yang menyebabkan Covid-19 bermutasi jauh lebih lambat daripada flu, tetapi belum jelas apakah sel B memori akan cukup beradaptasi untuk menjaga virus secara permanen.

  • Berapa lama perlindungan vaksin akan bertahan?

Pada beberapa kasus, sistem kekebalan tubu dapat memiliki memori yang sangat lama. Beberapa infeksi alami dapat memberikan kekebalan tubuh seumur hidup. Ada orang yang hanya mendapatkan vaksinnya sekali, namun dilindungi sepanjang hidup.

Pada dasarnya, vaksin meniru infeksi alami untuk memicu respons kekebalan. Namun, vaksin juga membutuhkan dorongan untuk menjaga kekebalan itu tetap kuat.

Sel B memori yang menargetkan virus Corona yang menyebabkan Covid-19 mungkin tidak memiliki daya tahan sel yang melindungi kita dari campak, misalnya.

Para ilmuwan telah mengamati bahwa sel B memori ini telah bertahan selama berbulan-bulan setelah kasus Covid-19, tetapi masih terlalu dini untuk menyimpulkan apakah mereka pada akhirnya akan memudar.

Pandemi Covid-19 juga menjelaskan apa yang masih belum diketahui, tentang bagaimana sistem kekebalan melindungi seseorang dari virus menular.

“Sangat menarik untuk menyaksikan ini terungkap dalam waktu nyata, karena kami belajar banyak tentang virus Corona dan respons sistem kekebalan terhadapnya dengan cara yang belum pernah kami lakukan sebelumnya,” tutur Pepper.