in

Kemampuan Indonesia Mengikuti Perang Kecerdasan Buatan

Ilustrasi artificial intelligence (AI), kecerdasan buatan digunakan ilmuwan untuk mempelajari data lama NASA. Algoritme AI telah mengkonfirmasi 50 planet baru. Foto: Shutterstock

Orang Indonesia mungkin masih asing dengan istilah kecerdasan buatan atau disebut Artificial Intellegence (AI). Sebab, istilah tersebut terbilang jarang digaungkan dalam kegiatan sehari-hari.

Teknologi terbarukan mulai ponsel hingga teknologi kendaraan saat ini sudah dilibatkan dengan kecerdasan buatan tersebut. Salah satunya, pada ponsel yang saat ini banyak disematkan AI.

Mengenai hal ini, Presiden Joko Widodo dalam Rapat Kerja Nasional Penguatan Ekosistem Inovasi Teknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), mengatakana bahwa Indonesia berada di tengah perang kecerdasan buatan AI.

Sementara itu, Pakar Informasi dan Teknologi Institut Teknologi Bandung, Budi Rahadjo menilai Indonesia mampu bersaing dalam perang AI. Menurutnya, secara keilmuan Indonesia bisa mengejar ketertinggalan tersebut.

“Menurut saya kita ketinggalan secara implementasi, secara kelimuan mah tidak,” paparnya dilansir CNN, Senin (15/3/2021).

Budi menilai implemtasi menjadi salah satu penghalang dalam mengembangkan teknologi AI. Padahal, beberapa negara seperti di China dan Amerika Serikat selalu bersaing di bidang implementasi.

Hampir senada, Pengamat Teknologi dan Informatika Universitas Indonesia Wisnu Jatmiko sekaligus peneliti AI mengatakan, Indonesia masih dapat berakselerasi dengan negara lain untuk pengembangan AI.

Hanya saja, perlu difokuskan pada sektor yang diungguli, seperti sektor pertanian dan perikanan. Hal itu dinilai Wisnu, merupakan segmen yang unggul dan dapat menjadi produk andalan di bidang AI.

“Kita bermain di segmen yang kita menang, salah satunya AI di bidang pertanian atau perikanan dan kelautan,” ungkap Wisnu.

Menurut Wisnu, di sektor perikanan dan kelautan, pengembangan dapat dilakukan dengan cara memprediksi algoritma dari fase ternak ikan dan musim panen ikan. Para peneliti kedepannya dapat mengolah data dari fase tersebut, dan dituangkan dalam bentuk kecerdasan buatan.

Dengan cara tersebut, Indonesia tidak perlu investasi besar-besaran. Sebab, sudah ada ekosistem yang menurutnya mungkin sudah tersedia.

“Enggak perlu kita investasi besar-besaran. Ada ekosistem yang mungkin sudah disediakan, kan nantinya penangkapan udang bisa semua dengan AI,” terangnya.

Lebih jauh, Budi menjelaskan bahwa untuk menguasai dunia lewat AI ada beberapa langkah yang harus ditempuh. Yaitu Indonesia harus memiliki sumber komputasi guna mengolah data menjadi teknologi AI atau disebut Graphics Processing Units (GPU). Ia pun berharap, Indonesia memiliki komputasi tersebut agar dapat digunakan bersama.

“Seharusnya kita punya komputing resourcers yang dishare bersama. Indonesia gak punya makanya kita berharap BPPT punya,” timpalnya.

Di samping itu, tandas Wisnu, dengan digaungkanya flagship AI oleh BPPT sejak tahun 2020, Indonesia diharapkan bisa turut mengambil peran dalam khasanah kecerdasan buatan itu.

Wisnu juga berharap BPPT dapat menciptakan ekosistem yang menunjang pengembangan AI di dalam negeri. Ia setuju dengan lima bidang yang menjadi prioritas pengembangan oleh BPPT, yaitu bidang kesehatan, reformasi birokrasi, pendidikan dan riset, ketahanan pangan dan mobilitas/smart city.

Menciptakan camp untuk menggodok talenta yang kompeten, menurut Wisnu, menjadi salah satu jalan untuk serius dalam mengembangkan AI.

Wisnu menjelaskan, teknologi AI pada prinsipnya merupakan program yang diberi contoh. Program tersebut dapat membedakan sesuatu melalui data yang sudah dikumpulkan ke sistem tersebut, yang disebut data set.

“Kita misalnya pengen AI membedakan kucing dengan anjing. Sekarang bagaimana supaya mereka pintar (mengidentifikasi) maka dikasih gambar kucing dan anjing. Semakin banyak gambarnya (data set) semakin keren AI bisa membedakan,” paparnya.

Article by

Haluan Logo