in

Ikan Disebut Telan Mikroplastik Sejak 1950an, Umumnya dari Pakaian

Koleksi ikan sand shiner di Field Museum yang dikumpulkan dari tahun 1907. Koleksi digunakan untuk studi mengenai mikroplastik. Foto: Phys

Para ahli mengungkapkan bahwa mikroskopis plastik atau mikroplastik ternyata sudah ditelan oleh ikan sejak 1950an. Hal tersebut terungkap setelah peneliti memeriksa isi perut ikan air tawar yang diawetkan di museum.

“Selama 10 atau 15 tahun terakhir telah ada semacam kesadaran publik mengenai masalah dengan plastik di dalam air. Tapi tanpa kita sadari organisme telah terpapar sampah plastik sejak plastik pertama kali ditemukan,” beber Tim Hoellein, profesor biologi di Loyola University Chicago, Amerika Serikat, seperti dikutip dari Phys, Jumat (30/4/2021).

Tapi tentu saja tak mudah untuk menemukan bukti-bukti di masa lalu. Maka, Hoellein pun kemudian melakukan studi mikroplastik dari spesimen ikan yang diawetkan di museum.

Hoellein kemudian menghubungi Caleb McMahan, ahli ikan di Field Museum yang bertanggung jawab terhadap sekitar dua juta spesimen ikan yang sebagian besar diawetkan.

“Spesimen itu lebih dari sekadar ikan mati, mereka adalah kehidupan potret kehidupan di Bumi. Kita tak akan pernah bisa kembali ke periode waktu itu,” ungkap McMahan.

Mereka pun kemudian menganalisa empat spesies ikan umum di museum yang memiliki catatan kronologis dari tahun 1900, untuk melhat apakah terdapat mikroplastik dalam perut mereka. Ikan-ikan tersebut di antaranya adalah ikan bass mulut besar, ikan lele, ikan sand shiner, dan ikan gobi bulat.

Selain sampel dari Field Museum, peneliti juga menggunakan spesimen dari Illinois Natural History Survey dan University of Tennessee, Amerika Serikat.

Untuk benar-benar menemukan plastik di dalam perut ikan, peneliti harus menggunakan hidrogen peroksida untuk melacaknya. Sebab plastik yang tertinggal terlalu kecil untuk dilihat dengan mata telanjang.

“Terlihat seperti noda kuning dan tak akan terlihat sampai Anda meletakkannya di bawah mikroskop,” ungkap Hoellein.

Dalam analisis para ahli, ditemukan adanya kenaikan jumlah mikroplastik dalam usus ikan setelah pembuatan plastik diindustrialisasi pada 1950-an. Sementara sebelumnya, tidak ada partikel plastik yang ditemukan.

Hal tersebut menunjukkan bahwa mikroplastik meningkat secara drastis seiring waktu karena lebih banyak yang diproduksi.

“Kami menemukan bahwa kandungan mikroplastik di dalam perut ikan-ikan ini pada dasarnya meningkat seiring dengan tingkat produksi plastik,” papar McMahan.

Analisis juga mengungkapkan jika mikroplastik seringkali berasal dari pakaian. Itu terjadi setiap kali mencuci baju, benang-benang kecil akan putus dan masuk ke sumber air.

Para ahli belum bisa menyimpulkan bagaimana mikroplastik memengaruhi ikan saat itu. Namun, jika melihat efek jangka panjang untuk ikan, menelan mikroplastik dapat menyebabkan perubahan saluran pencernaan dan peningkatan stres pada organisme itu.

Ahli pun berharap temuan ini menjadi sebuah peringatan tentang bahaya plastik dan dapat mengubah kebijakan publik. Peneliti juga menyoroti pentingnya koleksi sejarah alam di museum yang dapat membantu penelitian-penelitian di masa depan.

“Anda tak dapat melakukan pekerjaan seperti ini tanpa koleksi di museum. Koleksi spesimen adalah sumber daya alam yang luar biasa untuk mengetahui kondisi dunia di masa lalu,” kata McMahan lagi.

Article by

Haluan Logo