in

Cumi-cumi Raksasa, Makhluk Misterius dengan Panjang 14 Meter dan Mata Besar

Cumi-cumi raksasa ditemukan dalam kondisi mati di pantai Golden Mile di Britannia Bay, Afrika Selatan, tahun 2020. Foto: Live Science

Spesies cumi-cumi raksasa ternyata menginspirasi legenda Kraken yang diceritakan selama ribuan tahun. Namun, meski digambarkan sebagai makhluk raksasa, nyatanya cumi-cumi raksasa (ArchIiteuthis dux) memiliki ukuran tubuh lebih kecil dibandingkan penggambaran mitologi Kraken.

Di dunia nyata, ArchIiteuthis dux mampu tumbuh dengan panjang sekitar 14 meter. Terlepas dari ukuran jumbonya itu, cephalopoda ini memang merupakan makhluk laut yang misterius karena hampir tak pernah terlihat, dikutip dari Live Science, Rabu (5/5/2021).

Sebagian besar pengamatan berasal ketika cumi-cumi raksasa ini mati atau sekarat di pantai. Namun satu dokumentasi berhasil dibuat pada 2012 saat tim ilmuwan kelautan memfilmkan ArchIiteuthis dux muda di habitat aslinya, sekitar 630 meter di bawah laut selatan Jepang.

Setelah itu, cumi-cumi raksasa kembali dapat tertangkap kamera di habitat alaminya pada 2019 di Teluk Meksiko. Dan sekarang sebuah penelitian yang dipublikasikan secara daring di jurnal Deep Sea Research Part 1: Oceanographic Research Papers mengungkap penyebab makhluk ini begitu sulit temui.

Peneliti menyebut jika penyebabnya adalah lantaran matanya yang sangat besar. Cumi-cumi raksasa dapat hidup ribuan kaki di bawah permukaan laut. Sangat sedikit sinar matahari yang dapat menembus kedalaman itu.

Untuk beradaptasi, cumi-cumi raksasa mengembangkan mata terbesar di dunia hewan. Masing-masing mata cephalopoda itu sebesar bola basket, kira-kira tiga kali diameter hewan lain.

Mata besar tak hanya membantu cumi-cumi raksasa berjalan di sekitar laut yang dalam dan gelap tetapi juga membuatnya sangat sensitif terhadap cahaya terang yang dipasang peneliti kelautan di kapal selam dan kamera bawah air mereka.

Kepekaaan tersebut dapat menjelaskan mengapa cumi-cumi raksasa sangat sulit ditemukan di habitat aslinya. Saat kendaraan peneliti mencapai habitat, cumi-cumi telah lama melarikan dari cahaya dan getaran yang dihasilkan dari kendaraan penelitian.

Untuk mengakali pencahayaan yang berlebih, peneliti kemudian mematikan lampu di kapal selam mereka selama proses pembuatan dokumentasi pada 2012 silam.

Setelah mencapai kedalaman yang diinginkan, kapal selam bernama Medusa itu mematikan lampu dan berhenti bergerak, membiarkan ArchIiteuthis dux datang. Selain itu, tim peneliti menerangi kamera dengan lampu merah redup.

“Banyak spesies laut dalam, termasuk cumi-cumi, memiliki sistem visual monokromatik yang disesuaikan dengan bioluminesensi biru (cahaya) dan biru daripada cahaya merah panjang gelombang,” tulis para peneliti dalam studi ini.

“Dengan demikian, penggunaan lampu merah mungkin menjadi metode yang tidak terlalu mencolok untuk menerangi spesies laut dalam untuk videografi,” tambah peneliti.

Untuk menarik perhatian cumi-cumi, peneliti pada saat itu juga melengkapi kapal selam dengan umpan khusus yang disebut E-Jelly. Umpan berupa lingkaran kecil dengan lampu neon biru pada ujung-ujungnya itu kemudian berputar dan menirukan gerakan ubur-ubur bercahaya.

Umpan tersebut berhasil menarik ArchIiteuthis dux keluar dari kegelapan pada tahun 2012 dan 2019. Saat itu, cumi-cumi juga sempat terkecoh dan melakukan penyerangan terhadap umpan.

Upaya tersebut rupanya menjadi sebuah keuntungan karena peneliti akhirnya dapat mengukur tentakel cumi-cumi yang memiliki panjang 1,8 meter.

Hal tersebut akhirnya menunjukkan bahwa penggabungan antara peralatan minim cahaya dengan umpan bercahaya nampaknya merupakan metode yang diketahui paling efektif untuk menarik perhatian ArchIiteuthis dux.

Article by