in

Nastar, Kue Legendaris Bukan Asli Indonesia yang Digandrungi Masyarakat Nusantara

Ilustrasi nastar keju. Foto: Instagram/@limei_65

Salah satu kudapan legendaris yang kerap menyemarakkan hari raya keagamaan di Indonesia, adalah kue kering nastar. Kue kering berisi selai nanas ini selalu berdampingan dengan kue kering lainnya seperti kastengel atau putri salju.

Jika kastengel bercitarasa manis gurih dengan aroma butter dan keju, nastar bercitarasa sedikit gado-gado. Gurih adonan kue kering yang juga sarat aroma butter, menyatu dengan manis legit selai nanas yang ada di dalamnya.

Apakah nastar juga kue kering asal Belanda layaknya kastengel? Merunut sejarah nastar, kue legit menggoda ini memang tak lahir di Indonesia.

Nastar adalah kudapan Belanda yang akhirnya masuk ke Indonesia dan menjadi kudapan favorit seluruh lapisan masyarakat nusantara. Nastar lahir di negara kincir angin, Belanda.

Dikutip dari laman Indonesian Chef Association (ICA), nama nastar bahkan juga berasal dari bahasa Belanda, yaitu ananas atau nanas dan taartjes atau tart. Nastar, adalah gabungan dari dua kata tersebut.

Racikan resep nastar sendiri terinspirasi dari olahan pie ala Belanda yang dibuat dalam loyang-loyang besar dengan filling atau isian berupa selai blueberry, apel juga stroberi.

Ketika Belanda datang ke nusantara dan ingin membuat pie dengan sari buah-buahan ranum tersebut, mereka kesusahan dalam mencari blueberry, stroberi dan apel yang tekstur kematangannya seperti buah yang ada di tanah Belanda.

Kemudian datanglah ide kreatif, untuk mengganti buah-buahan tersebut dengan buah nanas yang banyak terdapat di Indonesia. Buah nanas juga dipilih karena citarasa nanas yang asam, manis dan segar sesuai dengan citarasa yang dibawa oleh buah stroberi dan apel.

Di Indonesia, nastar mengalami banyak modifikasi. Menurut Chef Andreas dari Hotel Noormans Semarang, selain modifikasi dalam bahan isian, juga ada modifikasi dalam bentuk dan adonan yang ada.

“Jika di Belanda pie yang ada diolah dalam loyang besar, di Indonesia adonan yang ada dibentuk bulatan kecil-kecil dengan maksud agar lebih mudah dikonsumsi. Sekali ambil, bisa langsung habis,” ujar chef yang tergabung dalam ICA.

Awal masuk ke Indonesia, nastar hanya keluar dalam perayaan-perayaan besar atau penting saja. Bahkan hanya lidah-lidah bangsawan atau priyayi saja yang bisa mencecap sajian istimewa ini.

Kini, hampir semua tangan bisa mengolah nastar. Dengan adonan yang terbuat dari terigu, mentega, gula, dan telur ini, nastar akan dibentuk bulatan sempurna atau sedikit elips dengan hiasan sebutir cengkih di atasnya.

Tentang kedudukan nastar di daftar kuliner nusantara sendiri masih menimbulkan perdebatan. Ada yang menyetujui bahwa nastar masuk ke dalam ranah kue kering, namun ada pula yang percaya bahwa nastar masuk ke dalam daftar cake atau kue basah.

Hal ini lantaran selai nanas yang ada membuat keseluruhan citarasa nastar menjadi lembab dan lembut dengan sedikit kandungan air, tak seperti tekstur kue kering yang jauh dari lembab dan bercitarasa crunchy.

Article by

Haluan Logo