in

Menyingkap Bedanya Tikitalia dan Tiki-taka

Media Diario AS menyebut Italia dan Spanyol layaknya anak kembar yang bersandar pada konsep permainan identik. Pertama adalah soal formasi. Italia dan Spanyol kompak bermain dengan sistem 4-3-3.

Kedua semifinalis juga terkenal jago dalam menguasai bola dan mengontrol permainan. Italia sejauh ini mencatat rata-rata penguasaan bola sebesar 55,8 persen di Piala Eropa 2020.

Di lain sisi, Spanyol merupakan raja possession football di Euro 2020 lewat catatan rata-rata penguasaan bola mencapai 67,2 persen. Pelatih Spanyol, Luis Enrique, memang tak secara gamblang menyebut timnya masih mengamalkan konsep tiki-taka, filosofi permainan berbasis penguasaan bola yang memuat operan pendek cepat nan rapi.

Kendati demikian, sepak bola operan ala tiki-taka sudah seperti mendarah daging di tubuh Spanyol. Dalam sesi latihan, rondo (latihan operan berantai dalam ruang padat dan sempit), sudah menjadi semacam menu wajib buat Sergio Busquets dkk.

“Kami tak akan bermain operan panjang, sepak bola bertahan, sekalipun bermain dengan cara seperti ini menyebabkan terciptanya partai liar semacam ini.”

“Kami tak akan bermain operan panjang, sepak bola bertahan, sekalipun bermain dengan cara seperti ini menyebabkan terciptanya partai liar semacam ini.”

“Kami hanya bertahan dengan cara menguasai bola dan bermain,” kata Luis Enrique usai laga 16 besar Spanyol vs Kroasia yang dihujani 8 gol.

Lantas apa bedanya konsep sepak bola Spanyol dengan gaya bermain Italia yang sering dilabeli dengan sebutan tikitalia? Tikitalia atau tiki-taka ala Italia racikan Roberto Mancini memukau banyak pasang mata di Piala Eropa 2020.

Mirip seperti Spanyol, Italia nyaris tak pernah mengizinkan lawan untuk mengambil inisiatif permainan. Namun, soal permutasi posisi di lapangan, Italia terlihat lebih cair. Dalam posisi memegang bola, Gli Azzurri (Si Biru) julukan Italia, bisa menyerang dengan lima pemain sekaligus!

Saat menyerang, skema 4-3-3 bisa bertransformasi menjadi 3-2-5. Bek kiri Italia yang biasa diperankan Leonardo Spinazzola sering naik jauh ke depan. Penyerang sayap kiri Italia, Lorenzo Insigne, lantas bergeser sedikit ke dalam.

Penetrasi Nicolo Barella ke depan lantas melengkapi kuintet penyerangan Gli Azzurri. Saat menguasai bola, Italia bisa menyerang dengan Domenico Berardi, Nicolo Barella, Ciro Immobile, Lorenzo Insigne, dan Leonardo Spinazzola.

Ketika berduel melawan Spanyol nanti, tugas Spinazzola yang cedera kemungkinan akan digantikan Emerson Palmieri, sementara Federico Chiesa mengisi tempat Domenico Berardi sebagai penyerang sayap kanan.

“Spanyol bermain dengan formasi 4-3-3 dan kami lebih dinamis di lapangan,” ujar Federico Chiesa menggambarkan perbedaan konsep bermain Spanyol dan Italia.

“Kami bertukar posisi dan peran dalam fase ofensif dan defensif, jadi kami tidak terinspirasi Spanyol.” “Kami nyaris mempunyai ideologi serupa, memenangi penguasaan bola, melakukan pressing tinggi, mencoba mendominasi lawan.

Lalu jelas bahwa permainan di lapangan dibangun dengan cara berbeda.” Chiesa mengakui bahwa Spanyol memang lebih dahulu menerapkan filosofi penguasaan bola. Walau begitu, cara bermain Italia diyakininya mempunyai karakteristik tersendiri.

“Tentu Spanyol lebih lama melakukan ini semua, tapi kami menggunakan penguasaan bola untuk menciptakan peluang, untuk memiliki lebih banyak kans mencetak gol, menjadi lebih ofensif, dan mendominasi musuh,” urai Chiesa dalam sesi interview dengan situs UEFA.

Article by

Haluan Logo