in

Kucing Bisa Stres Selama Pandemi, Bagaimana Membuatnya Bahagia?

Ilustrasi kucing. Foto: Shutterstock

Pandemi yang tak kunjung usai sejak mewabah tahun 2019 memang sangat berpengaruh pada kehidupan, mulai dari kesehatan fisik, finansial, hingga kesehatan mental, seperti stres yang makin menjadi-jadi.

Namun, rupanya stres dalam masa pandemi bukan hanya dialami oleh manusia, tapi hewan peliharaan seperti kucing juga bisa mengalami stres yang dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya, kebiasaan baru manusia di masa pandemi.

Menurut dokter hewan Nyoman Sakyarsih, kebiasaan baru manusia di masa pandemi, meski itu baik, dapat berubah menjadi buruk bagi kucing dan membuat mereka stres.

“Di masa pandemi, manusia biasanya punya kebiasaan baik nih, seperti lebih bersih. Misalnya pakai hand sanitizer. Tapi itu bisa jadi tidak menyenangkan bagi kucing,” beber drh. Nyoman dalam siaran langsung “Kucingku Sayang, Jangan Stress yaa Selama Pandemi” di Instagram live Kind of Live, Jumat (27/8/2021).

Misalnya, jelas drh. Nyoman, kita over-hygiene dan semuanya disanitasi, tapi kita nggak lihat apa bahannya, ternyata berbahaya buat kucing, kucing bisa jadi stres juga.

Menurut drh. Nyoman, over-hygiene sebenarnya dipicu oleh maksud baik. Pemilik kucing tentu tidak ingin kucingnya tertular Covid-19, membuat semua permukaan yang diinjak dan dilalui kucing disemprot disinfektan.

Dokter Nyoman juga mengungkapkan, keparnoan pemilik kucing terkait kontak kucing dengan pasien Covid-19 ini masih jadi kesalahpahaman yang dapat berujung menjadi penyebab kucing stres.

“Masih banyak yang salah paham ya, padahal kalau kucing yang disentuh penderita Covid-19 itu tidak bisa nularin ke manusia. Hal ini kadang membuat orang-orang menjauhi kucingnya sendiri karena takut tertular. Kalau diabaikan nanti kucing stres, apalagi sampai dibuang,” jelasnya.

Selain itu, drh. Nyoman juga mengungkapkan beberapa faktor lain yang membuat kucing stres di rumah. Misalnya faktor seperti adanya anak kecil yang terlalu gemas pada kucing, pindah ke tempat baru, atau terlalu banyak kucing di rumah. Bahkan, hormon pun bisa membuat kucing jadi stres.

“Hormonal itu bisa bikin stres, makanya kenapa steril itu penting sekali. Misalnya ada satu jantan yang belum disteril lalu dia spraying (menandai daerah dengan urine),” tuturnya.

“Spraying ini kan tanda dominasi ya karena lagi birahi, terus ada 2-3 kucing jantan yang insecure, yang merasa kalah, bisa jadi nggak mau pipis dan nantinya jadi masalah saluran kencing,” kata drh. Nyoman.

“Jadi pentingnya disteril itu ya, untuk menurunkan agresifitas, terutama di kucing jantan,” tambahnya.

Menurut drh. Nyoman kucing yang stress memiliki ciri-ciri cenderung gelisah.

“Gelisahnya bisa terlihat dari bulu berdiri, telinga yang ditarik ke belakang, sembunyi, atau hissing (mendesis) dan defensive,” kata drh. Nyoman.

Perubahan pola makan, diare, mudah sakit, dan berjamur pun bisa menjadi ciri-ciri stres pada kucing.

Cara Membuat Kucing Bahagia

Menurut drh. Nyoman, terlepas dari perbedaan sifat dan hal yang membahagiakan masing-masing kucing, setiap pemilik kucing bisa membuat hewan kesayangannya bahagia dengan menjamin kesehatan kucing.

“Misalnya, kasih makanan yang oke, pastikan untuk mengobati jamur, menjauhkan dari kutu, memberi vaksinasi, dan terutama men-sterilkan kucing,” katanya.

Ini hal utama untuk menjaga kualitas hidup kucing dan membuatnya berumur panjang. Dengan dia umur panjang, otomatis kita juga bisa bahagia,” ujarnya.

Lalu, drh. Nyoman juga menyarankan general check-up. Untuk obat kutu, kita bisa memberikannya setiap tiga bulan sekali, sementara general check-up bisa dibarengi oleh vaksinasi wajib setiap satu tahun sekali.

“Dengan melakukan itu, kucing akan terjamin masalah kesehatan dan kualitas hidupnya. Lalu jangan lupa steril untuk menekan populasi. Kita harus mendukung itu karena lebih sehat buat kucing juga,” ujar drh. Nyoman.

Article by

Haluan Logo