in

Tantangan Mengasuh Anak yang Terbiasa dengan Internet

Ilustrasi orang tua dampingi anak online

Kemajuan teknologi memang membantu banyak orang, termasuk saat pandemi. Bekerja bisa dilakukan dari rumah bahkan pembelajaran anak sekolah juga bisa dilakukan secara online.

Hanya saja, kemajuan teknologi ini nyatanya menjadi tantangan tersendiri bagi pola asuh anak. Tak dipungkiri, orangtua punya tantangannya sendiri di masa pandemi yang mengharuskan semua hal ‘online.’

Bukan hal yang aneh kalau anak-anak zaman sekarang mungkin lebih melek teknologi dibanding orangtuanya. Anak-anak yang ‘sibuk’ dengan internet dan gadget alias kerap online tentunya jadi lebih jarang berkomunikasi secara sosial dengan orang lain.

“Ketika anak sibuk dengan gadget, tantangan orangtua adalah anak jadi kurang punya banyak skill dalam hidupnya dan untuk masa depannya,” kata Rensia Sanvira, Parenting Expert and Founder of Mamalyfe.id dalam Launching “Rebuild The World #BebaskanKreasimu! The LEGO Group beberapa waktu lalu.

Rensia mengungkapkan bahwa di masa serba online saat ini, orangtua punya tantangan lebih berat untuk mengajarkan semua skill yang dibutuhkan anak untuk hidupnya di masa depan.

Berikut sejumlah tantangan yang dihadapi oleh orang tua dalam mendidik anak yang ketergantungan internetan:

  1. Komunikasi sosial

“Tantangannya adalah komunikasi sosial. Ketika mereka komunikasi di gadget gampang tapi di kehidupan nyata susah. Skill komunikasi itu penting, ini buat orangtua tantangan, melatih anak belajar komunikasi,” ungkap Rensia.

Sulitnya berkomunikasi di dunia nyata ini akan merugikan anak di masa depannya, ketika mereka harus berkomunikasi secara langsung dengan orang lain.

  1. Daya juang rendah

Tantangan lainnya yang dihadapi orangtua saat anak lebih sibuk online adalah daya juang yang rendah. Rensia mengungkapkan, ketika semua hal bisa didapatkan dengan mudah melalui online, kemampuan anak untuk berjuang mendapatkan sesuatu juga.

“Daya juang anak itu kurang, sekarang serba online, jadi kurang kasih tanggung jawab ke anak. Ini harus dibina, misalnya beresin mainan,” jelas Rensia.

  1. Kurang peka

Anak yang sibuk online sehari-seharinya juga dinilai bakal kurang peka dengan kebutuhan orang lain. Hal ini disebut akan sangat berpengaruh saat anak dewasa dan menikah. Dia mengungkapkan ini terjadi lantaran kurangnya interaksi sosial dengan orang lain.

  1. Kurang bonding dengan orangtua

Kurangnya bonding dengan orangtua ini terjadi karena anak sibuk dengan gadgetnya dan orangtua yang kadang sibuk dengan aktivitasnya.

“Kurang main seru dengan anak, kurang melakukan aktivitas yang bisa komunikasi dengan anak,” ucapnya.

“Bukan cuma mainnya, anak itu justru lebih paham dan ingat memori indah dengan orangtua dibanding Anda yang selalu teriak-teriak ke anak atau memberi masukan buat anak. Anak akan lebih ingat memorinya ketika bersama Anda. Memori indah sama ortu itu penting buat anak, soal bagaimana mereka merasakan sesuatu,” jelas Rensia.

Rohan Mathur, Marketing Director The LEGO Group di Asia Tenggara juga mengungkapkan bahwa di masa anak-anak, memang jadi waktu yang penting untuk mengajarkan mereka soal skill.

“Anak-anak usia dini cocok untuk eksplor kreasi mereka, gagal ga masalah dan akhirnya skil berkembang sejak usia dini dan itu yg dibutuhkan dari anak-anak,” papar Rohan.

Article by

Haluan Logo