in

Bulan Makin Menjauhi Bumi, Terungkap Pemicu dan Dampaknya

Bulan dan Bumi. Foto: Youtube

Para ahli mengungkap bahwa Bulan secara perlahan menjauh dari Bumi. Pada saat pembentukannya, Bulan hanya berjarak 22.500 km dari Bumi, namun ada beberapa penelitian yang mengungkap jaraknya semakin sekarang semakin terpisah.

Astronom asal Inggris, Edmond Halley, pertama kali menduga Bulan saat ini menyusut hampir 300 tahun yang lalu, setelah mempelajari catatan gerhana kuno.

Kecurigan akhirnya dikonfirmasi pada 1970-an, ketika sinar laser memantul dari cermin yang dipasang di Bulan oleh misi AS dan Soviet menunjukkan bahwa ia bergerak menjauh dengan kecepatan 3,8 sentimeter per tahun.

Menjauhnya Bumi dan Bulan juga didorong efek gravitasi Bulan pada Bumi yang berputar. Pasang di lautan menyebabkan hambatan dan dengan demikian memperlambat laju putaran Bumi.

Efek hilangnya momentum sudut Bulan membuatnya bergerak menjauh. Jarak antara Bumi dan Bulan saat ini adalah 402.336 kilometer, ini 17 kali lebih jauh dari jarak awal.

Bulan kini terus berputar menjauh dari Bumi dengan kecepatan 3,78 sentimeter per tahun. Ini hampir serupa kecepatan pertumbuhan kuku jari manusia.

Dipicu Aksi Pasang Surut Bumi

Selain itu para ahli memperkirakan Bulan terbentuk ketika sebuah proto-planet seukuran Mars bertabrakan dengan Bumi pada sekitar 4,5 miliar tahun yang lalu.

Puing-puing sisa bergabung membentuk Bulan. Simulasi komputer yang menerka dampak semacam itu konsisten dengan Bulan yang kita lihat di abad ke-21.

Menjauhnya jarak Bulan dari Bumi terutama disebabkan aksi pasang surut Bumi. Bulan tetap berada di orbitnya karena gaya gravitasi yang diberikan Bumi, tetapi Bulan juga memberikan gaya gravitasi ke planet kita. Hal itu menyebabkan pergerakan lautan Bumi membentuk jalur pasang surut Bumi.

Karena adanya rotasi Bumi, jalur ini berada sedikit berada di depan Bulan lintasannya. Beberapa energi dari Bumi yang berputar akan ditransfer ke lintasan melalui gesekan.

Dengan adanya putaran itu mendorong lintasan menjadi ke depan dan membuat Bumi berada di depan Bulan. Hal itu menyebabkan Bulan terdorong ke orbit yang lebih tinggi seperti jalur luar yang lebih cepat.

Fenomena ini mirip pengalaman permainan komedi putar anak-anak. Semakin cepat bundaran berputar, semakin kuat gaya yang membuat pemainnya terlempar keluar.

Tetapi energi yang diperoleh saat Bulan didorong lebih tinggi diimbangi pengurangan energi gerakannya. Jadi percepatan yang diberikan pasang surut Bumi sebenarnya memperlambat Bulan.

Meskipun 3,78 sentimeter sepertinya tidak banyak, tetapi dalam jangka waktu lama dapat memengaruhi kehidupan di Bumi, membuat planet ini melambat.

Ketika awal Bumi terbentuk, Bumi berotasi 5 jam per hari. Tetapi dengan menjauhnya Bulan yang beroperasi selama 4,5 miliar tahun terakhir, hari telah melambat menjadi 24 jam yang kita kenal sekarang, dan akan terus melambat pada masa depan.

Kita dapat melihat beberapa bukti perlambatan dalam catatan fosil beberapa makhluk. Dengan melihat pertumbuhan harian karang contohnya, kita dapat menghitung jumlah hari yang terjadi per tahun pada periode yang lalu.

Dari situ kita dapat melihat bahwa hari semakin panjang dengan kecepatan 19 jam setiap 4,5 miliar tahun.

Pengaruhi Musim di Bumi

Panjang hari, atau dengan kata lain kecepatan rotasi planet, berperan besar dalam stabilitasnya. Sama seperti menjaga piring berputar pada tongkat, kuncinya adalah membuat piring berputar cepat, dan jika putaran melambat seolah akan jatuh ke lantai.

Dengan cara yang sama, saat rotasi Bumi mulai melambat, seluruh planet mulai goyah secara perlahan dan ini akan berdampak pada musim di Bumi, menurut laporan Science Focus.

Saat ini beberapa musim yang ada di Bumi dipengaruhi kemiringan Bumi, yaitu 23 derajat pada porosnya.

Dikutip dari BBC, selama musim panas Belahan Bumi Utara miring ke arah Matahari sehingga Bumi bagian utara mendapatkan hari yang lebih panjang dan cuaca yang lebih hangat.

Sebaliknya di musim dingin, Belahan Bumi Utara menjauh dari Matahari yang menghasilkan siang lebih pendek dan cuaca yang lebih dingin.

Jika putaran Bumi berubah, dan Bumi menjadi tidak stabil, maka bagian-bagian dunia dapat mengalami perubahan suhu yang jauh lebih besar daripada yang biasa kita alami sepanjang tahun. Dengan suhu Arktik yang membeku di musim dingin diikuti dengan suhu yang sangat panas di musim panas.

Sebagai manusia, kita memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan lokal untuk memenuhi kebutuhan. Namun begitu kemungkinan besar manusia akan bisa selamat dari perubahan cuaca besar-besaran ini.

Sayangnya sebagian besar hewan tidak begitu mudah beradaptasi. Jika perubahan ini terjadi dengan cepat karena putaran planet yang tidak stabil, maka sebagian besar hewan disebut tak akan mampu berevolusi dengan cukup cepat untuk berhibernasi atau bermigrasi keluar dari bahaya.

Umat manusia memiliki sedikit rasa takut saat ini. Pada saat perubahan terjadi, manusia bahkan mungkin telah menghasilkan teknologi yang dapat mempercepat rotasi Bumi atau membawa kita ke planet lain yang dapat ditinggali di planet yang berbeda.

 

Article by

Haluan Logo