in

7 Hewan Paling Kuat Hidup di Lingkungan Ekstrem, Mulai Tardigrade

Tardigrade

Bumi memiliki banyak lingkungan ekstrem meski dikenal sebagai planet yang bisa ditinggali manusia. Tempat-tempat ekstrem di bumi ini kebanyakan tidak dihuni manusia, tetapi oleh makhluk hidup lain.

Beberapa di antaranya mampu hidup di lingkungan gersang, sangat panas, atau justru sangat dingin. Hewan dan tumbuhan yang hidup di daerah yang tidak bersahabat dikenal dengan sebutan extremophiles.

Lalu hewan spa saja yang hidup di lingkungan ekstrem? Berikut tujuh diantaranya seperti dikutip dari Encyclopaedia Britannica.

  1. Tardigrade

Tardigrade merupakan organisme mikroskopis yang bisa hidup di seluruh jenis lingkungan. Hewan unik berkaki delapan ini ditemukan hidup di gurun, gletser, mata air panas, hingga di puncak gunung tertinggi di dunia.

Tardigrade juga diperkirakan tinggal di Bulan, berkat pendaratan darurat pesawat penyelidik bulan Israel yang membawa tardigrades sebagai bagian dari muatannya. Peneliti mendapati, per akhir 2021, belum ada lingkungan yang tidak bisa ditinggali beruang air ini.

Tardigrade bertahan hidup di lingkungan ekstrem dengan menjadi kering dan seolah-olah mati, yang disebut fase cryptobiosis. Tardigrade kering ini bisa kembali hidup aktif setelah beberapa dekade “mati suri” bila terkena air.

  1. Penguin Kaisar

Penguin kaisar (Aptenodytes forsteri) biasa tinggal di benua Antartika sepanjang musim kawin. Untuk mengatasi suhu Antartika yang biasa turun hingga −40 °C, burung tangguh yang tidak bisa terbang ini bertahan dengan berkumpul bersama dalam kelompok besar. Berkumpul membantu penguin kaisar berbagi kehangatan dan mengurangi paparan individual pada elemen iklim yang berisiko kematian.

Kerumunan penguin kaisar juga bertukar tempat secara berkala saat berkumpul. Penguin-penguin di lingkaran terluar akan bergantian berdiri di area dalam lingkaran kerumunan. Dengan demikian, setiap anggota kelompok penguin punya kesempatan untuk menghangatkan diri.

  1. Semut Perak Sahara

Semut Perak Sahara (Cataglyphis bombycina) bertahan hidup di gunung Sahara berkat kakinya. Di tengah suhu lingkungan gurun yang dapat melebihi 60 °C, kaki-kaki semut Sahara memungkinkannya bergerak cepat dan menjaga tubuhn di atas pasir yang panas.

Semut perak Sahara merupakan spesies tercepat dari 12.000 spesies semut di dunia, dengan kecepatan 855 mm per detik.

  1. Kumbang Kulit Kayu Datar

Kumbang kulit kayu datar (cucujidae, flat bark beetle) bisa hidup di wilayah Arktik seperti Kanada dan Alaska. Di musim dingin, kumbang kulit kayu datar merah mengeringkan diri hingga tersisa 30-40 persen cairan tubuh.

Mirip katak kayu, kumbang ini menggunakan protein pelindung jaringan yang memungkinkannya tidak mati beku.

  1. Jerboa

Jerboa merupakan hewan pengerat yang tinggal di gurun. Agar bisa bertahan hidup di lingkungan dengan panas yang ekstrem, jerboa tidur di liang sejuk saat siang hari. Malam harinya, jerboa keluar di malam hari saat cuaca lebih dingin untuk mencari makanan.

  1. Cacing Pompeii

Cacing Pompeii (Alvinella pompejana) merupakan spesies cacing polychate laut dalam yang hidup jauh dari jangkauan matahari.

Ekosistem unik cacing Pompeii berkembang di sekitar lubang hidrotermal kaya mineral yang sangat panas di dekat gunung berapi bawah laut Samudra Pasifik. Hewan extremophile ini dapat hidup di suhu setinggi 79 °C.

  1. Unta

Unta atau “kapal gurun” dapat bertahan hidup pada suhu 49 °C dan bertahan selama seminggu atau lebih tanpa mengonsumsi air. Kemampuan unta untuk bertahan di suhu ekstrem gurun yang panas di siang hari, dingin di malam hari, dan mendapat curah hujan rendah ini didukung banyak hal.

Salah satu kelebihan unta yaitu memiliki telapak kaki yang besar dan datar untuk menyebar berat badan di atas pasir. Unta juga memiliki bulu lebat di bagian atas badan sebagai peneduh. Sementara itu, bulu tipis di bagian badan lainnya memungkinkan badan unta tidak kepanasan.

Unta juga buang air kecil dan berkeringat sangat sedikit, sehingga mendukung kemampuannya bepergian tanpa banyak persediaan air dalam waktu yang lama.

Article by

Haluan Logo