in

Batu Emas Lawan Gravitasi di Myanmar Bikin Arkeolog Takjub

Arkeolog Takjub Lihat Batu Emas Lawan Gravitasi. Foto: Express.co.uk

Para arkeolog dibuat takjub melihat Pagoda Kyaiktiyo di Myanmar dan legenda kuno di balik konstruksinya. Pagoda ini menyimpan bongkahan batu yang melawan gravitasi sehingga tidak jatuh.

Pagoda Kyaiktiyo yang juga dikenal dengan sebutan Batu Emas, menjadi situs ziarah umat Buddha yang terkenal di Negara Bagian Mon, Myanmar. Pagoda ini terletak di atas bukit Kyaiktiyo (juga dikenal sebagai bukit Kelasa atau pegunungan Yoma Timur), dan berada di punggungan Paung-laung pegunungan Yoma Timur.

Diselimuti awan, asal-usul dan kisahnya penuh misteri dan mitologi yang menarik. Batu Emas yang menjadi daya tarik utama pagoda ini, bisa menyeimbangkan diri berada di tepi jurang.

Bagi mata manusia, melihat batu ini memang akan tampak membingungkan dan hampir mustahil. Meski berada di tepi jurang, batu ini tidak terjatuh. Bagi sebagian yang meyakininya, ini adalah bukti kekuasaan Tuhan.

Dikutip dari Express, Jumat (14/1/2022) umat Buddha di sana percaya bahwa batu itu bisa tetap seimbang karena kekuatan ajaib Sang Buddha. Mereka meyakini di antara batu dan bukit di atasnya, ada sehelai rambut Buddha ditempatkan di sana, sehingga membantu batu tersebut menjaga keseimbangan.

Sebagian orang penasaran dengan teknik di balik konstruksi penempatan batu ini, namun sebagian yang lain mengabdikan diri pada mitologinya. Semakin banyak situs yang diselimuti mitos dan keajaiban, semakin dianggap penting untuk banyak beribadah dan berdoa di sana.

Kisah dan sejarah Pagoda Kyaiktiyo dieksplorasi selama film dokumenter Smithsonian Channel berjudul “Wonders of Burma: Shrines of Gold”. Narator cerita mencatat sifat batu ini unik karena menentang gravitasi. “Ini adalah keajaiban alam yang disakralkan oleh cerita,” ujar mereka.

Legenda di balik batu

Legenda dimulai dengan kerajaan berusia seribu tahun lalu, yang berada di wilayah jauh bernama ‘Upper Mon’. Suatu hari, raja bertemu dengan seorang pertapa yang memegang sehelai rambut di dalam topinya dan mengklaim rambut tersebut milik Sang Buddha. Dia menawarkannya kepada raja.

Sebagai imbalannya, pertapa bersikeras rambut itu harus diabadikan di sebuah pagoda yang dibangun di atas batu dengan bentuk seperti kepalanya. Sang raja sendiri mewarisi kekuatan gaib dari ayahnya Zawgyi, seorang ahli kimia ternama dan ibunya, seorang putri ular naga.

Dia kemudian meminta bantuan Sakra, Thagyamin, untuk menemukan batu yang sempurna di dasar lautan, menariknya dari dasar laut, lalu menggunakan perahu untuk mengangkut batu itu dan akhirnya mengangkatnya ke puncak gunung.

Setelah menyeimbangkan batu di gunung, raja membangun sebuah pagoda di atasnya dan mengabadikan rambut Buddha di dalamnya.

Perahu yang digunakan untuk mengangkut batu juga telah berubah menjadi batu dan disembah oleh para peziarah di lokasi, sekitar 300 meter dari Batu Emas. Situs ini dikenal sebagai Pagoda atau Stupa Kyaukthanban yang secara harfiah artinya perahu batu.

Versi lain dari cerita tersebut menyatakan bahwa batu itu diletakkan di atas rambut, dan rambut itu membantu mencegah batu itu meluncur ke bawah gunung.

Batu Emas dan Pagoda Kyaiktiyo saat ini menjadi daya tarik wisata, terutama di bulan November hingga Maret, ketika banyak peziarah datang.

Article by