in

Studi: Penurunan Jumlah Hewan Buat Tanaman Sulit Beradaptasi

Ilustrasi burung, makanan burung. Foto: Unsplash

Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa penurunan jumlah spesies burung dan mamalia membuat tanaman di seluruh dunia mengalami kesulitan beradaptasi dengan perubahan iklim.

Hal ini karena penurunan jumlah hewan membuat penyebaran benih tanaman lebih sulit. Alhasil, tanaman tak dapat beradaptasi secara efektif terhadap perubahan iklim. Studi terkait ini telah dipublikasikan di jurnal Science.

Sekitar setengah tumbuhan di Bumi bergantung pada hewan untuk menyebarkan benih mereka. Berbagai penelitian juga telah menunjukkan betapa pentingnya peran hewan besar sebagai pengangkut benih jarak jauh.

Nah, kali ini para peneliti dari Rice University, Texas, melakukan studi terhadap permasalahan tersebut. Apalagi dampak penurunan satwa liar dan efeknya terhadap penyebaran benih belum pernah diteliti di tingkat global sebelumnya.

Dalam studinya, para peneliti mengumpulkan data 302 spesies hewan dan benih tumbuhan yang penyebarannya dibantu oleh hewan-hewan tersebut.

Para peneliti kemudian menggabungkannya dengan informasi dari studi lapangan, termasuk seberapa jauh benih bergerak dan bagaimana bertahan hidup setelah melewati usus hewan. Peneliti selanjutnya juga membandingkan informasi tersebut dengan pemodelan komputer.

Tim peneliti menemukan bahwa penyebaran benih secara global telah menurun drastis dibandingkan dengan model dunia yang belum pernah mengalami penurunan burung dan mamalia.

Hilangnya burung dan mamalia telah mendorong 60 persen kemampuan tanaman untuk bertahan dari perubahan iklim.

Kemampuan bertahan terhadap perubahan iklim juga akan bertambah turun sebanyak 15 persen lagi jika hewan penyebar benih kemudian punah.

Para peneliti menyebut pula bahwa penurunan hewan bervariasi, tetapi yang terbesar terjadi di daerah beriklim sedang daripada daerah tropis.

“Keanekaragaman hayati hewan mendukung adaptasi iklim tanaman dunia. Saya pikir ini adalah persimpangan yang sangat jelas dari krisis keanekaragaman hayati yang sangat berdampak pada krisis iklim,” papar peneliti dari Rice University, Texas Evan Fricke, dikutip dari New Scientist, Senin (17/1/2022)

Sementara itu, Frank Schurr dari Universitas Hohenheim, Jerman, melihat penelitian mengenai dampak hilangnya hewan dan hubungannya dengan penyebaran benih secara global merupakan studi baru dan penting.

“Ini menunjukkan kekuataan menggabungkan kumpulan data besar keanekaragaman hayati,” katanya.