in

Lilac, Warna Pastel Misterius yang Masih Jadi Favorit

Ilustrasi warna lilac. Foto: FemaleDaily.

Buat Anda pencinta fashion warna pastel mungkin punya busana berwarna ungu pucat atau lilac. Lilac memang masih menjadi warna pilihan sejak tahun 2021 lalu. Warna ini hadir lewat kaos, hijab, rok, gaun lembut, dan celana.

Lilac merupakan pilihan warna yang memancarkan misteri karena ketidaktegasannya. Warna ini sangat berbeda dengan warna primer dan sekunder (seperti biru, kuning, hijau, dan merah) yang memiliki peran mapan dan ajeg dalam dunia desain dan barang konsumsi.

Warna lain, yang senada, seperti pink perlahan-lahan masuk ke wilayah netral. Namun ungu tidak pernah masuk ke dalam wilayah itu. Ungu adalah warna yang terkait dengan kreativitas, spiritualitas, dan royalti, tetapi ungu (dan ungu cerah khususnya) juga merupakan warna yang janggal.

Menurut Color Psychology Meaning, lilac mendorong ekspresi emosional, terkadang mengakibatkan kurangnya kontrol emosional, juga dipercaya bisa membantu mengurangi agresi. Lilac juga bisa meningkatkan energi dan mendorong kesenangan dan mungkin ketidakdewasaan.

Nama “lilac”, pertama kali digunakan pada tahun 1775. Namanya diambil dari warna dari bunga lilac.

Lilac adalah ungu, warna yang memiliki sejarah agung. Sebelum tahun 1856, pewarna ungu sangat mahal dan membuatnya menjadi warna yang didambakan dan terkait dengan kekayaan dan kekuasaan. Konon, di bawah pemerintahan Ratu Elizabeth I dari Inggris pada abad ke-16, hanya kerabat dekat keluarga kerajaan yang diizinkan mengenakan pakaian berwarna ungu. Begitupun, Julius Caesar memutuskan bahwa hanya dia yang bisa memakai toga ungu.

Katy Kelleher dalam artikelnya yang dirilis di The Paris Review menyebut lilac sebagai warna yang memancarkan kesedihan sekaligus fashionable.

“Pada abad kesembilan belas para janda mengenakan lilac saat mereka hampir selesai mengenang kehilangan suami mereka. Baik di era Victoria dan Edwardian, pelayat terikat oleh aturan etiket yang ketat. Tahap pertama, mereka akan mengenakan gaun wol hitam yang dipangkas dengan kain krep,” tulis Kelleher.

Article by