in

Hubungan Perubahan Iklim dan Gas Rumah Kaca

Ilustrasi perubahan iklim. Foto: AP

Isu perubahan iklim erat hubungannya dengan kesadaran publik tentang masalah lingkungan. Meski banyak digaungkan sejumlah aktivis lingkungan dan banyak pemberitaan, istilah perubahan iklim masih asing terdengar bagi sejumlah masyarakat. Lalu apa itu perubahan iklim?

Secara garis besar, perubahan iklim adalah kondisi yang mengubah komposisi atmosfer global dan variabilitas iklim, pada periode waktu yang dapat diperbandingkan.

Komposisi atmosfer global yang dimaksud merupakan komposisi material atmosfer bumi yang membentuk Gas Rumah Kaca (GRK), di antaranya terdiri dari Karbondioksida, Metana, Nitrogen. Tentunya perubahan ini dianggap dampak dari aktivitas manusia.

Dikutip dari Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup, pada dasarnya Gas Rumah Kaca dibutuhkan untuk menjaga suhu bumi tetap stabil.

Namun demikian, konsentrasi gas rumah kaca yang semakin meningkat membuat lapisan atmosfer menebal sehingga jumlah panas bumi yang terperangkap di atmosfer bumi semakin banyak.

Dengan begitu secara global mengakibatkan peningkatan suhu bumi atau biasa disebut dengan pemanasan global.

Lewat peringatan Hari Bumi, publik diharapkan peduli pada isu yang terkait dengan masalah lingkungan. Sejumlah aksi dan konferensi banyak digelar di berbagai negara untuk memperingati Hari Bumi.

Peringatan Hari Bumi pertama kali dicetuskan pada 1970, oleh seorang senator dari Wisconsin Amerika Serikat (AS) yang juga pengajar lingkungan hidup, Gaylord Nelson. Lewat peringatan itu menghasilkan pengesahan banyak undang-undang lingkungan di AS.

Profesor psikologi dan studi lingkungan di The College of Wooster di Ohio, Susan Clayton mengatakan lewat Hari Bumi bisa mengingatkan orang berpikir tentang nilai-nilai kemanusiaan, ancaman yang dihadapi planet ini dan cara membantu melindungi lingkungan.

“Memikirkan sejarah aktivisme lingkungan dan cara individu bekerja sama untuk mengubah kebijakan dapat membuat kita lebih optimis tentang kemampuan untuk membuat perubahan positif di masa depan,” kata Clayton dikutip Live Science.

Article by