in

Elon Musk Batal Beli Twitter, Begini Alasannya

Elon Musk. Foto: AFP

Elon Musk secara resmi mencoba mengakhiri tawarannya untuk membeli Twitter senilai US44 miliar atau Rp658,99 triliun dengan dalih perusahaan yang dipimpin Parag Agrawal itu melakukan pelanggaran perjanjian soal akun bot.

Reuters mengungkapkan bos SpaceX itu menilai perusahaan media sosial tersebut gagal memberikan informasi tentang akun palsu di platformnya. Imbas keputusan Musk itu, saham Twitter turun 6 persen dalam perdagangan yang diperpanjang pada hari yang sama.

Musk sendiri beberapa waktu lalu menyerang Twitter dalam kicauannya atas perhitungan bot. Setelah itu, tim hukum Musk benar-benar mengambil langkah untuk mengakhiri kesepakatan untuk membeli Twitter.

Na, berikut rincian alasan Elon Musk membatalkan membeli Twitter:

  1. Informasi palsu soal akun bot

“Tn. Musk mengakhiri Perjanjian Penggabungan karena Twitter melakukan pelanggaran material terhadap beberapa ketentuan Perjanjian itu, dan tampaknya membuat pernyataan palsu dan menyesatkan yang diandalkan oleh Musk saat memasuki Perjanjian Penggabungan, dan kemungkinan akan mengalami Efek Merugikan Material Perusahaan,” tulis pengacara Musk dalam sebuah surat kepada Chief Legal Officer Twitter, Vijaya Gadde, dikutip dari Techcrunch, Sabtu (9/7/2022).

Musk menuding Twitter menyesatkan investor dan pengguna tentang jumlah akun palsu di platformnya, yang telah lama diperkirakan perusahaan di bawah 5 persen.

“Twitter telah berulang kali membuat pernyataan dalam pengajuan tersebut mengenai bagian mDAU (monetizable daily active users/pengguna aktif harian yang dapat dimonetisasi)-nya yang palsu atau spam,” lanjut pernyataan tim hukum itu.

  1. Tak dapat akses ke pusat data

Pihak Musk juga mengklaim bahwa Twitter tidak memberinya akses yang cukup ke pusat data untuk melakukan analisisnya sendiri. Padahal, Twitter sudah memberinya akses ke ‘firehose’, pusat data mentah media sosial itu.

Hal itu terutama dilakukan setelah Musk bertemu dan melakukan sesi tanya jawab dengan jajaran karyawan Twitter, belum lama ini

  1. Data pengguna tak murni

Surat itu juga menyatakan bahwa Twitter memberi tahu Musk dalam panggilan telepon yang tidak dilaporkan bahwa perusahaan memasukkan akun yang ditangguhkan dalam nomor pengguna aktif hariannya yang dapat dimonetisasi (mDAU).

“Pengakuan Twitter bahwa mereka berhenti menghitung pengguna palsu atau spam di mDAU-nya ketika menentukan bahwa pengguna tersebut palsu tampaknya adalah hal yang salah,” ungkap Gadde.

“Sebaliknya, kami memahami, berdasarkan representasi Twitter selama panggilan telepon 30 Juni 2022 dengan kami, bahwa Twitter menyertakan akun yang telah ditangguhkan – dan dengan demikian diketahui palsu atau spam,” lanjut pernyataan itu.

Terlepas dari dalih-dalih di atas, analis dari Hargreaves Lansdown, Susannah Streeter, menilai ancaman pembatalan kesepakatan yang sudah berulangkali dilakukan itu adalah upaya Musk untuk menurunkan harga penawaran. Pasalnya, estimasi angka bot 5 persen sudah ada sejak 2013.

“Metrik 5 persen sudah keluar sejak lama. Dia jelas sudah melihatnya. Jadi, ini mungkin strategi untuk menurunkan harga,” kata dia, dikutip dari Reuters.