in

Wahana Embung Terpadu Dayun, Lokasi Wisata yang Dulu Bekas Kebakaran Hutan

wahana permainan Embung Terpadu Kampung Dayun. (Pokdarwis)
wahana permainan Embung Terpadu Kampung Dayun. (Pokdarwis)

Kampung satu-satunya non transmigran di Kecamatan Dayun menjadi ladang kebakaran hutan dan lahan. Padahal semua desa transmigran di sekelilingnya bertanam sawit, komoditi yang dianggap sebagai dalang kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Namun, justru di Kampung Dayun yang tidak semuanya sawit justru sering terjadi karhutla yang memunculkan jerebu atau asap. Kepala Desa atau disebut Penghulu Kampung Dayun, Nasya Nugrik, mengungkapkan pohon sawit yang sudah tidak produktif lagi sering dibakar untuk ditanam kembali dengan yang baru.

Sampah sawit ditelantarkan lalu dibakar dan lahan akan menganggur dalam waktu tertentu. Dari situ, lembaga pemadaman karhutla Manggala Agni Daerah Operasional Siak, berkantor di Kampung Dayun. Kurun waktu sebelum pandemi COVID-19 itulah perangkat Kampung Dayun disibukkan oleh siaga karhutla.

Untuk mengantisipasi bencana asap tersebut dibuatlah embung sebagai cadangan air. Pada kolam seluas 6.000 meter persegi itu lah nanti kendaraan darat maupun helikopter akan mengangkut air dari sana.

Untuk genangan air tersebut dana desa sekitar Rp300 juta musti dikeluarkan demi menjaga langit Dayun tetap biru. Pembuatan embung tersebut menelan biaya cukup besar karena pengoperasian alat berat yang tak bisa ditolerir.

Seiring masifnya perintah penjagaan daerah dari belenggu kebakaran lahan, intensitas bara api pun sudah semakin menurun. Pada tahun 2019 embung sebagai cadangan air pun jarang terjamah hingga menimbulkan semak belukar di lokasi Jalan Tengku Makmur tersebut.

Pada saat yang sama Pemkam Dayun bekerjasama dengan perusahaan terdekat yakni Badan Operasi Bersama PT Bumi Siak Pusako-Pertamina Hulu membangun kawasan hijau dan olahraga. Lokasinya persis di depan embung karhutla tersebut.

Di sini ada lapangan multifungsi badminton atau voli, lapangan futsal, sepak takraw, area permainan anak, gazebo, dan lintasan joging seluas 2,4 hektare. Diresmikan pada akhir 2019, namun terlihat jomplang di belakangnya ada embung yang makin berteman belukar.

Ternyata sudah terlintas ide oleh Penghulu Kampung Dayun, Nasya Nugrik untuk memanfaatkan embung tersebut. “Saya pikir ini harus jadi tempat wisata, daripada jadi semak belukar. Apa yang mau dibuat dioret-oret saja dulu seperti flying fox, di embung bebek air misalnya,” ujar dia seperti dinukil dari Antara.

Untuk sumber daya manusia, dimanfaatkan lah kelompok sadar wisata setempat. Kemudian dinamakan Embung Terpadu Dayun dan secara bertahap dibangun sejumlah wahana permainan dan selesai tahun 2020, tapi kondisi pandemi sehingga belum beroperasi.

Wahana Embung Terpadu Dayun

Rute menuju Dayun merupakan jalan menuju Pelabuhan Tanjung Buton dan lokasi Embung Terpadu ini setelah Polres Siak masuk sebelah kanan hingga 1-2 kilometer. Ketika sampai kita akan melihat Kawasan Hijau dan Olahraga di sebelah kiri dan setelahnya ada jalan masuk ke Embung Terpadu Dayun.

Parkirannya cukup luas dan pintu masuknya nanti akan berjalan menurun mengikuti lintasan yang warna warni. Untuk masuk ke Embung Terpadu hingga saat ini tidak dikenakan tiket masuk alias gratis.

Sebelum pintu masuk di sebelah kiri sudah terlihat titik lepas landas wahana “flying fox” kira-kira setinggi 7-8 meter. Dari puncak tersebut kita akan berayun turun sepanjang 116 meter melintasi embung air rawa gambut tersebut. Untuk menikmati wahana ini harganya cukup terjangkau yakni Rp20 ribu saja.

Lanjut mengikuti jalan turun ke embung, mata sudah dimanjakan gapura-gapura minimalis warna warni setiap dua meter. Beberapa langkah kemudian akan terlihat ayunan dan saung-saung lesehan. Di samping tentunya pondok segitiga kekinian dengan atap sampai ke tanah beratapkan rumbia untuk duduk di tepi embung.

Di sebelah kanan sebelum embung sedang dibangun gerai usaha mikro kecil menengah produksi Kampung Dayun. Untuk diketahui produk andalah dari Dayun adalah Semangka yang sudah dibuat turunannya oleh warga setempat. Mulai dari sup, keripik, hingga jelly semangka bahkan kerajinan batiknya dengan motif semangka.

Kembali ke embung di sana telah terdapat pilihan untuk bermain ria di atas air seperti bebek dan sepeda air. Dalam menikmati suasana romantis dan asyik ini cukup merogoh kocek Rp10.000 sekali bermain dalam puluhan menit.

Embung air ini uniknya memiliki pulau di tengahnya dan jika dilihat dari udara akan seperti huruf “e” kecil. Terdapat kanal selebat kira-kira dua meter mengelilingi setengah dari embung ini dengan sepeda maupun bebek air.

Jalan dari samping kiri embung kaki akan menapaki lukisan tiga dimensi yang jadi jogging track. Sebelah sisi kiri bagi yang ingin berkuliner ria bisa mencicipi berbagai jualan masyarakat dalam kios kontainer kekinian.

Apabila ingin ke pulau dari embung ini ada jembatannya yang disebut “Monkey Bridge”. Di tengah embung ini terdapat pendopo atau gazebo, bisa untuk sekedar duduk dan juga makan berjamu yang bisa disediakan pokdarwis.

Selain itu, wahana lainnya yang memicu adrenalin ada di sini yakni “Shaking Bridge”. Ya jembatan bergoyang ini terdiri dari tali dan tapaknya dari kayu di atas ketinggian empat meter. Tak usah kuatir jatuh, karena ada tali dan helm pengaman dan dari pemandu yang terlatih.

Pada jembatan goyang ini juga akan melewati kanal embung sehingga tantangan pandangan ke bawah tak hanya tanah tapi juga air. Untuk menikmati keseruan ini juga hanya cukup membayar Rp10 ribu saja.

Atraksi lainnya di depan embung juga terdapat tempat duduk dan sampan lancang kuning yang entah kapan berlayarnya. Pada sisi kanan juga terdapat “jogging track” yang lintasannya berupa lukisan 3D yang sangat instagramable untuk berfoto. Di atas ada payung-payung serta gapura ala Kyoto Jepang.

Di samping wahana, gazebo, dan gerai-gerai UMKM, di Embung Terpadu sudah terdapat fasilitas penunjang yakni Toilet. Bahkan ada juga akan dibangun dua homestay sehingga memudahkan bagi yang ingin menginap. Pasalnya direncanakan akan ada shuttle bus ke Taman Nasional.

Kampung Dayun Masuk 50 besar

Kampung Dayun berpenduduk sekitar 8.000 jiwa dan jika termasuk para pekerja perusahaan, maka jumlahnya bisa mencapai 12.000 jiwa. Awalnya Dayun masuk kategori desa tertinggal, namun sejak dilakukan berbagai inovasi sekarang sudah berstatus desa mandiri.

Selain juga berpredikat sebagai desa terbaik di Kabupaten Siak, Dayun juga mencoba peruntungan pada kompetisi desa wisata tingkat provinsi maupun nasional. Dengan andalan Embung Terpadu Dayun tersebut pada 2021 meraih Juara I desa wisata se-Provinsi Riau.

Pada tahun itu juga, Kampung Dayun ikut Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021. Pada saat itu Dayun berhasil masuk 300 besar desa wisata dari 7.000 lebih yang ikut mendaftar.

“Tahun 2021 kita coba-coba saja padahal belum punya posko pokdarwis, belum terintegrasi badan usaha milik desa, bahkan toilet saja belum ada,” ujar Penghulu Nasya.

Pada tahun 2022 ini Kampung Dayun kembali ikut ADWI dengan sejumlah peningkatan. Dari tujuh kategori dulu mungkin hanya dua atau tiga terpenuhi, tapi sekarang semuanya sudah ada yakni daya tarik, kelembagaan, homestay, toilet, digitalisasi desa, CHSE, dan souvenir.

Kampung Dayun sekarang sudah melalui penilaian dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Seperti tahun lalu Dayun masuk 300 besar dan peningkatannya berhasil masuk 100 besar dan yang tidak disangka-sangka sekarang masuk 50 besar.

Oleh karena itu Kampung Dayun mendapat kunjungan dari Menparekraf, Sandiaga Salahuddin Uno dan tim penilai. Untuk sejumlah kategori di atas, Nasya Nugrik mengunggulkan kelembagaan.

Menurutnya, banyak objek wisata di Indonesia dikelola pengelola wisata tapi tak bisa kerjasama dengan desa. Tapi di Dayun kelembagaan itu berjalan mulai dari penghulu, pokdarwis, bumdes dan perusahaan saling mendukung.

Tak hanya prestise yang didapat, secara ekonomi Embung Terpadu Dayun juga menghasilkan cuan. Objek wisata ini telah memberikan pendapatan bagi Pemerintah Kampung hingga puluhan bahkan ratusan juta setahun hasil dari jasa permainan wahana-wahana yang disediakan.

Sistem keuangannya adalah berbagi sama-sama 50 persen untuk pokdarwis dan kas kampung (desa). Pokdarwis tersebut merupakan Unit Jasa Wisata di BUMDes yang beranggotakan 12 orang.

“Tahun 2021 kita dapat Rp60 juta. Tahun ini lebaran kemarin saja perputaran uangnya Rp116 juta, itu termasuk omset warga yang berjualan,” kata Penghulu.

Rencana ekonomi selanjutnya aparat Kampung sudah menyusun nota kesepahaman dengan Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam Riau dalam jasa pengelolaan Wisata Danau Zamrud. Di sini Pokdarwis Dayun bisa menyediakan mobil dan perahu ke danau gambut terbesar kedua di dunia itu.

Ada paket yang dirancang apakah satu hari perjalanan atau menginap di rumah nelayan sekitar Danau Zamrud. Tentu pengalaman menikmati lingkungan yang masih asri tersebut bakal jadi memori yang tak terlupakan minimal bersama enam orang rekan sekali pergi.

Itulah sasaran akhirnya, bahwa sejak awal tujuan embung terpadu adalah untuk menunjang wisata ke Danau Zamrud. Pasalrang yang mau pergi ke Danau Zamrud pasti izin ke Dayun yang menjadi lokasi keseluruhan Tasik Pulau Bawah dan Pulau Besar tersebut.

“Harga dirumuskan. Minimal enam orang dengan makan, semua Rp3 juta di pondok masyarakat tepi danau,”pungkasnya.