in

Komponen Mobil yang Tak Boleh Dimodifikasi

Ilustrasi. Foto: Carmudi

Ada beberapa macam modifikasi mobil yang tak boleh dilakukan sebab berpotensi membuat mobil Anda tak lulus uji emisi. Sebagian besar modifikasi ini mengubah teknis proses pembakaran di dalam mesin hingga sistem gas buang.

Product Planning SGMW Motor Indonesia (Wuling) Danang Wiratmoko membeberkan, setiap mobil yang dijual di dalam negeri sudah memenuhi ambang batas emisi yang ditentukan pemerintah. Namun setelah mobil baru dibeli masyarakat, emisi bisa berubah karena faktor pemakaian, perawatan dan modifikasi.

Uji emisi setidaknya menghitung dua gas berbahaya yang dikeluarkan knalpot mobil, yaitu CO (karbon monoksida) dan HC (hidrokarbon). CO merupakan gas yang dihasilkan proses pembakaran, sedangkan HC adalah sisa bahan bakar yang tidak terbakar.

Nah, berikut beberapa modifikasi yang tak boleh dilakukan sebab membuat mobil tak lulus uji emisi yang dikutip dari CNN, Jumat (15/7/2022):

  1. Sistem knalpot

Sistem knalpot memiliki komponen seperti catalytic converter yang tugasnya mengubah gas berbahaya yang dihasilkan pembakaran menjadi gas tidak lebih berbahaya. Mengganti atau mencopot komponen ini bisa mengubah signifikan emisi yang dikeluarkan.

Danang juga menjelaskan modifikasi pada muffler, header, dimensi pipa bisa memengaruhi hasil uji emisi.

  1. Ubah pembakaran

Proses pembakaran di ruang bakar membutuhkan tiga hal, yaitu udara, bahan bakar dan pengapian. Modifikasi pada proses pembakaran, misal mengganti busi, modifikasi injector bensin atau mengubah saringan udara bisa mengubah hitungan standar.

  1. Ganti komponen internal

Pada tingkat lebih ekstrem, modifikasi komponen internal ruang bakar seperti piston, ring piston atau katup yang biasanya dilakukan untuk meningkatkan performa berisiko mengubah emisi yang dihasilkan.

“Jika tidak dilakukan secara proper akan menimbulkan risiko oli masuk ke ruang bakar dan ikut terbakar,” ujar Danang.

  1. Bahan bakar di luar rekomendasi

APM telah menentukan jenis bahan bakar ideal untuk mobil yang mereka jual, hal ini ditentukan berdasarkan riset dan pengujian untuk memenuhi aturan yang berlaku.

Jika Anda menggunakan bahan bakar tak sesuai rekomendasi, misal kualitas oktan lebih rendah, bakal menimbulkan risiko engine knokcing yang menandakan pembakaran tidak sempurna. Ketika pembakaran tak sempurna maka lebih banyak emisi yang dikeluarkan.

“Konsekuensinya hasil pembakaran yang dikeluarkan jadi lebih kotor. Kalau kaitannya emisi, gas buang jadi lebih banyak CO sisa pembakaran,” ucap Danang.

  1. Modifikasi bobot

Perubahan bobot mobil secara signifikan seperti penggunaan pelek ukuran besar, sistem audio besar atau tingkatan ekstrem seperti perubahan bodi dikatakan Danang dapat menaikkan angka konsumsi bahan bakar alias boros.

Hal ini karena butuh lebih banyak bahan bakar buat menggerakkan mobil yang bobotnya bertambah signifikan. Lebih banyak bahan bakar berarti emisi yang dikeluarkan lebih tinggi.

Article by