in

3 Solusi Jika Hasil Mesin Cuci Piring Tidak Maksimal

Mesin cuci piring. Foto: Suara.com

Mesin pencuci piring adalah salah satu peralatan elektronik dapur yang digunakan untuk membersihkan piring kotor dan sebagainya. Namun, mencuci piring kotor menggunakan mesin pencuci piring terkadang memberikan hasil yang tidak bersih sepenuhnya seperti sisa-sisa kotoran yang masih mengeras.

Jika piring kotor yang dicuci di mesin pencuci piring tidak sebersih yang diinginkan, ada beberapa ide yang perlu coba. Berikut tiga di antaranya yang disadur dari beberapa sumber.

  1. Ganti sabun pencuci piring

Terkadang model mesin pencuci piring tertentu paling cocok dengan jenis atau merek sabun pencuci piring tertentu. Tanyakan kepada produsen mesin pencuci piring untuk melihat produk apa yang mereka rekomendasikan.

Bisa pula melakukan tes di rumah dengan mencoba berbagai merek atau aplikasi berbeda seperti gel cair, polong, atau tablet dan lihat mana yang menyelesaikan pekerjaan dengan mesin pencuci piring.

  1. Jangan mengisi mesin pencuci piring terlalu penuh

Terlalu banyak piring dapat membuat sulit untuk menyingkirkan kotoran secara efektif. Sisakan ruang yang cukup agar tidak memiliki banyak piring yang saling tumpang tindih.

Selain itu, selalu putar penyemprot sebelum menutup mesin pencuci piring untuk memastikan tidak ada piring tinggi yang menghalangi gerakan penyemprot.

  1. Bersihkan mesin pencuci piring secara teratur

Jalankan siklus pencucian mesin pencuci piring pada pengaturan suhu terpanas dengan cuka putih suling (tanpa piring) sekitar sebulan sekali.

Hal ini bertujuan menghilangkan kapur dan penumpukan air keras serta jamur dari mesin pencuci piring. Selain itu, menjaga piring kotor memiliki aroam segar dan bersih setelah dicuci.

Bersihkan partikel makanan besar dari bagian bawah mesin pencuci piring dan kosongkan keranjang filter untuk mencegah penyumbatan.

Kamu juga dapat membersihkan mesin pencuci piring beberapa kali dalam setahun untuk menghentikan pertumbuhan bakteri sebelum menjadi tidak terkendali.

Article by