in

Moraes: Juara Dunia MMA yang Ditelantarkan di Masa Kecilnya

Adriano Moraes Foto: Onefc.com

Dunia Mixed Martial Arts (MMA) tentu mengenal nama Adriano Moraes. Sosok Adriano Moraes dikenal sebagai orang pertama yang menang KO atas legenda MMA, Demetrious Johnson. Kesuksesan Moraes di arena MMA tak lepas dari kerja keras yang dilakukan sejak kecil.

Masa kecil pilu dan berliku telah menempa pria kelahiran Brasil 1998 menjadi petarung tangguh hingga menjadi juara dunia MMA. Kisah pilu berawal ketika ibu kandungnya menelantarkan dirinya di jalanan,sebuah tempat yang berbahaya bagi siapa pun, apalagi seorang bayi.

Hingga kini, ia tak pernah tahu siapa wanita yang telah melahirkannya. Adriano kecil diselamatkan dari jalanan dan diantar ke sebuah panti asuhan. Saat berusia 3 tahun, ia diadopsi oleh Mirtes Moraes, seorang perempuan yang kini ia panggil sebagai ibu.

“Ibu berarti segalanya bagi saya. Ia adalah idola, saya melakukan segalanya baginya, dan saya akan terus melakukan yang terbaik untuknya,” ungkap Moraes.

Di rumah ibu yang mengadopsinya, Adriano diasuh dan dibesarkan seperti darah dagingnya sendiri. Saat menginjak remaja, Moraes tumbuh menjadi anak ceria yang penuh energi. Untuk mengarahkan bakatnya, sang ibu mendaftarkan dirinya ke berbagai aktivitas seperti capoeira, judo, dan renang.

Hanya saja, ia seperti tak bisa lepas dari jalanan tempatnya mengawali kehidupan dahulu. Petarung berjuluk “Mikinho” ini banyak menghabiskan masa remajanya di jalanan hingga terlibat dalam pergaulan gangster dan perkelahian jalanan.

Namun, semua pengalaman itu membawanya pada tempat yang memberinya arah dalam hidup. Perkelahian jalanan itu juga yang membuatnya memutuskan untuk berlatih Brazilian Jiu-Jitsu (BJJ). Bak keajaiban, pintu dunia baru langsung terbuka bagi Moraes.

Ia meninggalkan kehidupan jalanan untuk berlatih di Constrictor Team, sebuah sasana ternama di bawah bimbingan Erick Medeiros dan Ataide Junior. Dari situ, ia mendedikasikan diri ke dalam disiplin olahraga ini dan meraih berbagai gelar BJJ beberapa tahun kemudian.

Puncaknya, ia menjuarai NAGA No-Gi Pro Division pada 2014 – sebuah turnamen bergengsi di Amerika Latin. Berselang satu tahun, ia menerima sabuk hitam yang menandai tingkatan tertinggi dalam olahraga ini.

Setelah meraih kesuksesan dalam disiplin yang disebut “the gentle art” itu, Adriano Moraes melanjutkan jejak langkah beberapa rekan satu timnya dan mencoba arena MMA.

Atlet Brasil itu menjalani debut profesionalnya dalam MMA pada 2011. Selama tiga tahun berikutnya, ia memenangi 12 dari 13 laga serta merebut gelar kejuaraan di Brasil. Ia meraih puncak karier dengan mengalahkan Geje Eustaquio September 2014 untuk merebut gelar Juara Dunia ONE Flyweight perdana.

“Seni bela diri mengubah kehidupan saya menjadi lebih baik. Hal itu mengubah pemikiran saya, mengubah segalanya dalam hidup saya, dan menjadi sangat penting,” jelas Adriano Moraes.

Setelah berhasil mempertahankan gelar pada Maret 2015, “Mikinho” kehilangan sabuk dari Kairat Akhmetov, atlet Kazakhstan yang kala itu tak terkalahkan. Saat itu, Adriano sempat terpuruk dan merasa mimpinya berakhir.

Tahun 2016, ia pindah dari ke Florida demi berlatih di American Top Team. Dengan staf dan pelatih baru, ia mampu bangkit yang ditandai oleh kemenangan atas Eugene Toquero. Ia lanjut menang submission atas Tilek Batyrov via rear-naked choke dan merebut gelar Juara Dunia Interim ONE Flyweight.

Pada tahun 2021, Moraes mencetak sejarah dengan menjadi orang pertama yang menang KO atas Demetrious Johnson, salah satu petarung MMA terbaik sepanjang masa. Setelah itu, Moraes juga sukses mempertahankan sabuknya dari Yuya Wakamatsu di gelaran akbar ONE X pada bulan Maret 2022.

Article by