in

Nasib Perusahaan-Perusahaan ‘Bentjok’ usai Dituntut Hukuman Mati

Benny Tjokrosaputro. Foto: Jatim Tribunnews

Benny Tjokrosaputro atau lebih sering dikenal sebagai ‘Bentjok’ dalam pembacaan tuntutan yang digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta Pusat Rabu (26/10/2022) dituntut jaksa dengan hukuman mati. Benny Tjokro merupakan terdakwa kasus korupsi investasi PT. Asuransi Jiwasraya sejak tahun 2008 hingga 2018 dan korupsi pengelolaan dana PT  Asabri sejak tahun 2012 hingga 2019.

Benny Tjokro diketahui merugikan negara sebesar Rp22,7 Triliun. Bentjok diketahui memiliki banyak perusahaan investasi yang listing di Bursa Efek Indonesia. Sebut saja seperti PT Rimo International Lestari Tbk. (RIMO), PT Hanson International Tbk. (MYRX) dan PT. Sinergi Megah Internusa Tbk. (NUSA). Benny Tjokro juga diketahui merupakan cucu pendiri dari Batik Keris.

Bentjok dikenal sebagai pengusaha yang ‘piawai’ dalam berinvestasi saham. Dikutip dari wawancara dengan CNBC Indonesia 4 tahun silam, Benny Tjokro sudah berinvestasi saham sejak duduk di bangku kuliah. Hal itu yang mendorongnya untuk membeli saham-saham perusahaan publik yang kemudian perusahaan tersebut ia kelola untuk di kemudian hari dijual kembali. Dengan banyaknya perusahaan yang ia kelola, tentu terdapat karyawan di dalamnya. Lalu bagaimana nasib semua perusahaan dan karyawan Benny Tjokro?

  • PT Rimo International Lestari Tbk (RIMO)

Mengacu pada laporan keuangan perusahaan pada tahun 2018, diketahui RIMO sejak tahun 1987 hingga tahun 2012 telah membuka beberapa gerai di Blok M Plaza, Tunjungan Plaza Surabaya, Solo, Bali, Manado hingga Makassar. Pada tahun 2016 diketahui RIMO menutup seluruh gerai yang dimiliki akibat kalah saing dengan toko online.

Secara struktur dan bisnis perusahaan sebenarnya RIMO baik-baik saja untuk ukuran pengembang properti, karena yang namanya bisnis selalu naik turun. Namun semenjak disuspensi bursa saham pada tahun 2021 dan dilakukan penyitaan beberapa aset perusahaan, semua aktivitas RIMO lumpuh total. Di dalam Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia, saham RIMO memang belum dikeluarkan dari BEI, tetapi total sudah 30 bulan lebih saham RIMO disuspensi oleh BEI. Pada 11 Februari 2021 perusahaan merilis Keterbukaan Informasi, bahwa sejak aset-aset perusahaan disita, RIMO belum membayar tunggakan gaji karyawan.

  • PT Hanson International Tbk. (MYRX)

Mengacu pada laman resmi perusahaan, bisnis utama dari MYRX adalah pengembang properti khusus untuk perumahan komersial. Pada tanggal 8 Juni 2021, MYRX dinyatakan pailit oleh Mahkamah Agung RI. Namun pada tanggal 9 Februari 2022 melalui kuasa hukum, MYRX permohonan peninjauan kembali atas putusan pailit tersebut. Sama seperti RIMO, saham MYRX tidak bisa diperdagangkan sejak Februari 2020. 

  • PT Sinergi Megah Internusa Tbk. (NUSA)

Perusahaan yang bergerak di bidang properti khususnya hotel ini, merupakan perusahaan Bentjok yang masih beroperasi hingga saat ini. Diketahui melalui laman resmi perusahaan, NUSA merupakan operator hotel Lafayette Boutique Hotel di Yogyakarta dan Batam Bay di Batam. NUSA merupakan perusahaan Benny Tjokrosaputro yang baru melantai di Bursa Efek Indonesia pada 12 Juli 2018. 

Pada perdagangan perdana NUSA pada tahun 2018 di Bursa Efek Indonesia, perusahaan mendapatkan dana segar sebesar Rp. 50 Milyar. Status dari saham NUSA juga masih di suspend oleh Bursa Efek Indonesia dan berpotensi dikeluarkan. Belum ada keputusan apapun terkait penyitaan dan pailit yang dihadapi NUSA.

Article by