in

Manfaat Mengonsumsi Topokki

Article by
Topokki. Foto: Shutterstock.

Selain kimchi, makanan Korea lainnya yang cukup terkenal adalah topokki. Makanan ini merupakan makanan wajib ketika mengunjungi Korea.

Topokki atau tteok-bokki (떡볶이) adalah cemilan pedas dari Korea yang berbahan dasar kue beras dengan tekstur lengket. Dengan saus cabai sebagai bahan dasarnya, biasanya topokki akan dicampur dengan eomuk atau yang lebih sering disebut fish cake.

Camilan ini biasanya bisa kamu temukan di pasar Asia Tenggara. Salah satu manfaat topokki adalah menambah energi dalam porsi yang besar. Mengonsumsi toppoki juga dapat meningkatkan mineral dan esensi vitamin ke dalam tubuh.

Selain itu, terdapat pula vitamin B6 yang bisa mencegah anemia dengan memperbanyak sel darah merah. Topokki juga menghasilkan serotonin neurotransmitter yang dapat meningkatkan selera makan dan mood.

Selain itu masih ada lagi loh manfaat dari makanan yang satu ini. Berikut rangkuman manfaat topokki untuk kesehatan.

Meningkatkan metabolisme
Tahukah kamu jika sensasi panas dari sajian yang terdapat dalam topokki bisa mempercepat metabolisme tubuh dan membantu menurunkan berat badan lebih cepat.

Metabolisme yang sehat dapat membantu memproses karbohidrat, protein, dan kolesterol di dalam tubuh. Di samping itu, capsaicin yang terkandung dalam topokki dipercaya memiliki efek termogenik yang dapat merangsang pengeluaran energi dan membakar kalori ekstrak selama 20 menit setelah makan.

Membantu menurunkan berat badan
Toppoki sebenarnya memiliki kalori yang cukup tinggi. Akan tetapi, sensasi pedas dari bumbu gochujang dalam topokki bisa membakar lemak dan membantu penurunan berat badan. Senyawa capsaicin dalam gochujang inilah yang dipercaya dapat meningkatkan pemecahan lemak di dalam tubuh.

Mencegah penyakit jantung
Topokki menjadi salah satu jenis makanan pedas yang bermanfaat bagi kesehatan, salah satunya melindungi dan menjaga kesehatan jantung. Mengkonsumsi gochujang terbukti mengalami penurunan lemak perut dan kadar trigliserida yang menjadi faktor resiko penyakit jantung.

Article by