in

Sejarah Tersebarnya Terasi di Indonesia

Terasi. Kompas.
Terasi. Kompas.

Terasi sebagaimana disebutkan dalam dua kitab suci Sunda kuno, Carita Purwaka Caruban Nagari dan Mertasinga, telah ada di Jawa sebelum abad keenam.

Menurut Carita Purwaka Caruban Nagari, Cirebon telah membuat marah Raja Kerajaan Galuh setelah mereka berhenti membayar upeti berupa terasi dan garam, produk daerah mereka kepadanya.

Dalam Mertasinga disebutkan bahwa Cirebon diserang oleh Kerajaan Galuh karena menghentikan pengiriman terasi kepada raja.

Terasi adalah salah satu ekspor paling populer di Jawa yang dibeli oleh para pedagang dari pulau tetangga dan luar negeri.

Terasi Jawa atau varian terasi kering Indonesia, biasanya dibeli dalam bentuk balok gelap, tetapi terkadang juga dijual dalam bentuk bubuk butiran kasar.

Warna dan aroma terasi bervariasi tergantung desa mana yang memproduksinya. Warnanya berkisar dari rona ungu kemerahan yang lembut hingga coklat tua.

Di Cirebon, sebuah kota pesisir di Jawa Barat, terasi terbuat dari udang kecil yang disebut rebon, seperti asal nama kota tersebut. Jenis lainnya adalah petis yang terbuat dari udang atau tuna yang dicampur dengan gula aren.

Di Sidoarjo, Jawa Timur, terasi dibuat dari campuran bahan-bahan seperti ikan, udang kecil dan sayuran. Terasi adalah bahan penting dalam sambal terasi, juga banyak masakan Indonesia lainnya, seperti sayur asem, sup sayuran, lotek atau gado-gado, salad ala Indonesia dengan saus kacang, karedok mirip dengan lotek (sayuran disajikan mentah), dan rujak (salad buah pedas ala Indonesia).

Kadang-kadang terasi juga dipanggang untuk mengeluarkan rasa, biasanya menimbulkan bau yang kuat dan khas. Di Australia Utara, varian sambal belacan dikenal secara lokal sebagai blacan atau blachung dan disiapkan secara populer di antara keluarga pribumi, Kehadirannya dianggap sebagai pengaruh para pedagang awal Makassar.

Versi belacan yang mirip dengan terasi bagoong Filipina yang difermentasi untuk waktu yang lebih singkat, dikenal sebagai cincalok.