in

Kisah Francesco Bagnaia yang Terinspirasi dari Hobi Sang Ayah Balapan di Kejuaraan Amatiran

Francesco Bagnaia/Pecco. Foto: Otor.
Francesco Bagnaia/Pecco. Foto: Otor.

Francesco Bagnaia kini menjadi sosok yang sudah tak asing lagi di dunia balap motor. Pembalap Italia yang akrab disapa Pecco ini memiliki karier yang luar biasa selama beberapa tahun.

Ia pertama kali muncul pada tahun 2016 ketika ia memenangkan kejuaraan Moto3, dan sejak saat itu, ia terus memukau para penggemar balap dengan keahliannya di lintasan.

Namun, pada tahun 2022, Bagnaia benar-benar mengukuhkan posisinya dalam sejarah. Pada tahun itu, ia mengakhiri puasa gelar selama 15 tahun bagi Ducati Corse tanpa gelar juara dunia. Kemenangan Bagnaia telah lama dinantikan dan merupakan hasil dari kerja keras dan dedikasi selama bertahun-tahun.

Meskipun Pecco jadi pebalap populer di era saat ini, tak banyak yang tahu bahwa ia adalah anak seorang karyawan biasa di perusahaan aksesori. Kisah unik Francesco Bagnaia ini jarang sekali dibicarakan.

Francesco Bagnaia

Dilansir Sporting Scribe Jumat (25/8), Pecco lahir di Turin, Italia pada 14 Januari 1997. Ayahnya seorang karyawan di sebuah perusahaan aksesori, begitu pula dengan ibunya. Tumbuh dewasa, Pecco mengembangkan kecintaannya pada sepeda motor setelah melihat ayahnya berkompetisi dengan pamannya di kejuaraan amatir. Pada usia enam tahun, ia dihadiahi sepeda motor motorcross Beta 50cc, yang memicu kecintaannya pada olahraga ini.

Meskipun menghadapi kesulitan keuangan, orang tua Pecco sangat mendukung hasratnya dan mendorongnya untuk mengejar mimpinya. Dengan dukungan yang tak tergoyahkan, ia berlatih keras dan bekerja tanpa lelah untuk meningkatkan kemampuannya. Kerja keras dan dedikasinya membuahkan hasil, saat ia mulai menanjak di jajaran dunia balap motor.

Saat Pecco berusia delapan tahun, ia menerima motor balap pertamanya yang kemudian ia gunakan di Kejuaraan Nasional Italia. Hal ini menandai awal dari kecintaannya pada dunia balap, dan ia mendedikasikan dirinya dengan sepenuh hati. Meskipun usianya masih sangat muda, Pecco bertekad untuk sukses dan menghabiskan waktu berjam-jam untuk berlatih dan menyempurnakan kemampuannya.

Pada 2009, Pecco mulai mengalihkan fokusnya ke dunia balap motor, khususnya yang menggunakan roda gigi. Dia membuat jejaknya di dunia balap dengan memenangkan kejuaraan pertamanya di kelas 50cc pada acara ZPF di Viterbo. Kemenangan tersebut merupakan indikasi yang jelas akan potensi dan bakatnya dalam olahraga ini.

2010, Pecco mulai menerima pelatihan dari Emilio Alzamora, mantan Juara Dunia 125cc. Ini merupakan titik balik dalam kariernya karena ia mulai mengasah kemampuannya dan mempersiapkan diri untuk dunia balap motor yang kompetitif. Di tahun yang sama pula ia naik ke kelas Metrakit Pre GP 125cc.

Tiga tahun berselang, setelah mengasah kemampuannya dan menambah pengalaman, Federasi Balap Motor Italia mendekati Pecco untuk menjadi perwakilan mereka di Kejuaraan Dunia Moto3. Pecco sangat senang dan bersemangat untuk menerima tantangan baru ini. Meskipun debutnya tidak sehebat yang ia harapkan, ia tetap fokus dan bertekad untuk meraih kesuksesan.

Kerja kerasnya terbayar ketika ia berhasil menarik perhatian pembalap legendaris MotoGP, Valentino Rossi, yang terkesan dengan potensi yang dimiliki Pecco.

Pada tahun 2014, Pecco memulai perjalanannya bersama Sky Racing Team VR46, sebuah tim bergengsi di dunia balap motor. Dia sangat senang bisa menjadi bagian dari tim yang memiliki reputasi baik dan ingin sekali menunjukkan kemampuannya di lintasan balap. Namun, perjalanannya tidak berjalan mulus, karena takdir memiliki rencana lain untuknya.

Satu tahun kemudian, Pecco pindah ke Mahindra dan meraih podium pertamanya di Moto3. Ia tetap bersama tim hingga Moto3 2016 sebelum memutuskan untuk naik ke Moto2 pada tahun 2017. Di kelas Moto2, Bagnaia kembali ke Sky VR46 dan menjadi rookie yang tangguh. Setahun kemudian, ia sukses meraih gelar juara dunia Moto2 bersama tim asuhan Valentino Rossi tersebut.