in

Mengenal Barongko, Hidangan Populer Khas Sulawesi Selatan

Baking World Media

Barongko adalah makanan khas Sulawesi Selatan yang populer di kalangan suku Bugis dan Makassar. Kata “Barongko” berasal dari bahasa Makassar “barangku kuroko,” yang berarti “milikku sendiri yang kubungkus.” Nama ini merujuk pada adonan yang bahan utamanya adalah pisang, dibungkus dengan daun pisang. Adonan barongko terdiri dari pisang kepok yang dihaluskan, telur, santan, gula pasir, dan garam. Pembungkus adonan terbuat dari daun pandan dan daun pisang, dan barongko dibuat dengan cara dikukus.

Pada masa kerajaan Bugis dan Makassar, barongko hanya disajikan untuk raja-raja. Seiring waktu, makanan ini mulai dinikmati oleh masyarakat umum dan disajikan sebagai camilan dalam upacara adat seperti perkawinan. Barongko memiliki makna filosofis yang mendalam terkait hubungan antara adonan dan pembungkusnya. Pemerintah Indonesia telah menetapkan barongko sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Bahan Adonan

Pisang kepok yang matang adalah bahan utama pembuatan barongko. Pisang tersebut dihaluskan dan dicampur dengan gula, santan, dan telur. Di Kabupaten Bone, adonan barongko sering ditambahkan irisan buah nangka matang, yang disebut panasa. Untuk membuat 20 bungkus barongko, diperlukan 18 buah pisang kepok matang, 500 ml santan dari satu butir kelapa, empat butir telur ayam, 190 ml susu kental manis, setengah sendok teh garam, dan 125 gram gula pasir.

Pembungkus

Adonan barongko dibungkus dengan daun pisang. Sebelum dibungkus, lima lembar daun pandan dipotong seukuran 5 cm untuk menambah aroma. Adonan barongko dibungkus dengan daun pisang dan dikukus hingga matang.

Proses Pembuatan

Filosofi Kue Barongko Khas Bugis-Makassar Konon Jadi Hidangan Penutup Para  Raja - Indozone Food
Indozone Food

Untuk membuat 20 bungkus barongko, diperlukan enam buah pisang kepok yang dipotong dadu kecil. Sebagian pisang dipotong-potong dan dicampur dengan santan, telur, susu kental manis, garam, dan gula pasir. Campuran ini dilumat hingga halus, lalu dicampur kembali dengan potongan pisang yang telah disisihkan sebelumnya dan diaduk rata.

Setiap 50 ml adonan dibungkus dengan dua lembar daun pisang. Bagian luarnya ditambahkan daun pandan, lalu dibungkus dengan bentuk tum. Adonan yang telah terbungkus kemudian dikukus sekitar 30 menit hingga matang dan padat. Setelah dikukus, barongko diangkat dan didinginkan.

Makna Simbolis

Penggunaan daun pisang sebagai pembungkus adonan pisang memiliki makna filosofis. Ini berarti bahwa yang terlihat di luar haruslah sama dengan yang ada di dalam, yang dalam pepatah Bugis disebut “barakkumua udoko.” Makna lainnya adalah bahwa kebaikan akan tampak melalui perilaku yang baik pula.

Penambahan irisan nangka (panasa) dalam adonan barongko melambangkan harapan akan kelanggengan rumah tangga bagi pengantin. Ini berdasarkan pepatah Bugis “iyyana kuala sappo unganna panasae na belo kalukue,” yang berarti “kuambil kejujuran dan kesucian sebagai pagar diri dalam rumah tangga.”

Waktu Penyajian

Barongko berfungsi sebagai camilan. Pada awalnya, barongko adalah sajian eksklusif untuk raja-raja pada masa kerajaan-kerajaan Bugis dan Makassar. Selain itu, barongko juga disajikan pada pesta-pesta adat.

Dalam konteks pesta perkawinan adat, barongko biasanya disajikan sebelum atau saat acara dimulai, sering kali dalam wadah tradisional bernama bosara. Barongko disajikan bersama kue tradisional lainnya dan dianggap sebagai kue utama dalam upacara perkawinan adat oleh masyarakat Bugis dan Makassar. Khususnya dalam tradisi mappanre temme di kalangan Bugis, barongko menjadi salah satu kue utama yang disajikan.