in

Review Series Netflix, Avatar: The Last Airbender Versi Live Action

avatar: the last airbender

“Lepaskan masa lalu, atau kamu tidak akan pernah memiliki masa depan.” Inilah pelajaran yang dipelajari Aang, tokoh utama dalam Avatar: The Last Airbender

Namun, ini juga merupakan perjalanan yang harus diambil oleh adaptasi live-action dari serial animasi terkenal tersebut. 

Meskipun adaptasi ini lebih baik dibandingkan film versi M. Night Shyamalan yang banyak dikritik, masih ada beberapa aspek yang kurang memuaskan penggemar.

Adaptasi baru, harapan baru

Serial live-action terbaru dari Netflix ini mencoba menghadirkan kembali kisah Aang dan teman-temannya dalam format baru. 

Serial ini menggandeng Albert Kim sebagai showrunner, dengan Gordon Cormier berperan sebagai Aang, Kiawentiio sebagai Katara, dan Ian Ousley sebagai Sokka. 

Serial ini terdiri dari delapan episode dengan durasi antara 47 hingga 63 menit per episode. Meski begitu, meskipun lebih baik dari film adaptasi sebelumnya, serial ini masih menghadapi tantangan besar dalam menghadirkan esensi dari serial animasi aslinya.

Kisah klasik dengan sentuhan baru

“Avatar: The Last Airbender” mengisahkan tentang empat elemen – api, air, udara, dan bumi – yang bisa dikendalikan secara telekinetik oleh manusia tertentu. 

Aang, seorang anak berusia 12 tahun, menemukan bahwa dirinya adalah Avatar, satu-satunya yang bisa mengendalikan semua elemen. 

Bersama Katara dan Sokka, mereka berjuang melawan Negara Api yang berusaha menguasai dunia. 

Adaptasi ini mencoba menghadirkan cerita yang lebih mendalam dengan menambahkan beberapa elemen baru, namun tetap berusaha setia pada plot asli.

Eksplorasi karakter yang kurang mendalam

Salah satu alasan mengapa serial animasi aslinya menjadi kultus adalah karena kekonyolan dan kedalaman karakter yang disajikan. 

Adaptasi live-action ini mencoba menyasar penonton dewasa, tetapi sayangnya, gagal menangkap keunikan dari serial animasi. 

Meskipun ada beberapa momen komedi, seperti Aang yang mengendalikan udara dan menabrak patung, keseluruhan nada dari serial ini terasa terlalu serius dan tidak seimbang dengan elemen fantasi.

Pemilihan pemain yang tepat

Salah satu langkah positif dalam adaptasi ini adalah pemilihan pemain yang sesuai. Gordon Cormier berhasil menampilkan sifat kekanak-kanakan Aang, sementara Dallas Liu sebagai Pangeran Zuko juga memberikan penampilan yang memukau. 

Hubungan antara Aang dan Zuko yang kompleks seharusnya menjadi salah satu fokus utama, tetapi sayangnya, dinamika ini kurang dieksplorasi dengan baik di layar.

Visual yang mengagumkan tapi tidak konsisten

Meskipun ada beberapa adegan aksi yang cukup baik dan episode terakhir yang memukau secara visual, kualitas efek visual tidak selalu konsisten. 

Beberapa adegan tampak kurang mengesankan, mengingat standar tinggi yang diharapkan dari adaptasi ini. 

Serial ini juga memiliki potensi untuk mengeksplorasi tema-tema berat seperti perang, imperialisme, dan pemberdayaan perempuan, namun sering kali hanya menyentuh permukaannya saja.

Kurangnya ketegangan dan pengembangan karakter

Cerita yang disajikan terasa terlalu lambat dengan banyak eksposisi yang berat. Alur cerita yang dapat diprediksi dan karakter sekunder yang kurang berkembang juga mengurangi ketegangan yang seharusnya ada. 

Meskipun serial ini berusaha setia pada sumber aslinya, adaptasi ini gagal menghadirkan esensi sejati dari acara animasi yang dicintai banyak orang.

Netflix memang berhasil menciptakan adaptasi live-action yang lebih baik dari film versi 2010, namun tetap gagal menangkap keajaiban dari serial animasi klasik “Avatar: The Last Airbender.” 

Meskipun merupakan adaptasi yang setia dengan beberapa penampilan yang layak dan urutan aksi yang solid, tantangan untuk menangkap esensi sebenarnya dari serial animasi tampaknya masih terlalu besar. 

Mungkin dengan sedikit lebih banyak fleksibilitas dan pengembangan, adaptasi ini bisa mencapai potensi sepenuhnya.

Apakah kamu tertarik menonton adaptasi live-action “Avatar: The Last Airbender” ini? Bagi yang sudah menonton, jangan lupa bagikan pendapatmu!