Tradisi Piring Terbang
Tradisi Piring Terbang, Foto: Wedding Market
in

Tradisi Piring Terbang saat Hajatan di Surakarta

Kalau kamu pernah datang ke hajatan di Surakarta atau daerah Jawa Tengah sekitarnya, pasti tahu yang namanya tradisi piring terbang. 

Bukan berarti ada piring yang benar-benar melayang, ya! Ini sebutan unik untuk cara penyajian makanan yang cepat dan efisien dalam acara pernikahan, syukuran, atau hajatan lainnya.

Apa Itu Tradisi Piring Terbang?

Dalam hajatan Solo, tamu undangan biasanya duduk rapi di kursi yang sudah disusun berjajar. 

Nah, saat waktunya makan, panitia hajatan akan sigap menyajikan makanan dengan cara unik: piring-piring berisi makanan diantar cepat oleh pelayan dari dapur ke meja tamu, mirip seperti piring yang “terbang” dari satu tangan ke tangan lainnya.

Proses ini sangat cepat dan terkoordinasi. Dalam hitungan menit, ratusan tamu bisa langsung menikmati hidangan tanpa perlu antre di prasmanan. 

Setelah selesai makan, piring-piring kosong juga langsung diangkat dengan gerakan yang sama cepatnya.

Menu Khas dalam Tradisi Piring Terbang

Makanan yang disajikan dalam tradisi ini biasanya khas Solo dan sekitarnya. Berikut beberapa menu favorit yang sering muncul:

  • Nasi putih – Disajikan sebagai makanan utama, tentu saja.
  • Gudeg dan sambal goreng krecek – Perpaduan manis dan pedas yang bikin nagih.
  • Ayam bacem – Ayam yang dimasak dengan bumbu manis gurih, empuk dan meresap.
  • Telur pindang – Telur yang dimasak lama dengan bumbu khas hingga berwarna kecoklatan.
  • Perkedel kentang – Tambahan lauk yang bikin makan makin lengkap.
  • Kerupuk atau emping – Pelengkap yang wajib ada biar makin renyah.
  • Es teh manis atau es jeruk – Minuman penyegar di tengah suasana hajatan.

Biasanya, makanan ini sudah disusun rapi di piring sebelum dihidangkan. Semua tamu mendapatkan porsi yang sama, jadi nggak perlu khawatir kehabisan.

Keunikan dan Filosofi di Balik Tradisi Ini

Tradisi piring terbang bukan sekadar soal cara menyajikan makanan, tapi juga punya makna mendalam. 

Ini adalah simbol kebersamaan dan gotong royong dalam masyarakat Solo. Semua orang, dari keluarga tuan rumah hingga para tetangga, ikut membantu agar acara berjalan lancar.

Selain itu, tradisi ini juga mencerminkan efisiensi dan keramahan. Dengan sistem ini, tamu bisa menikmati makanan tanpa harus berdiri lama untuk mengambil sendiri. Ini berbeda dari gaya prasmanan yang lebih umum di tempat lain.

Masih Eksis Hingga Sekarang?

Meskipun zaman sudah berubah, tradisi piring terbang masih tetap eksis di banyak hajatan di Solo dan sekitarnya. Bahkan, beberapa daerah lain mulai mengadopsi cara ini karena dianggap lebih praktis.

Namun, di beberapa acara modern, konsep ini mulai bergeser ke prasmanan atau model catering lainnya. 

Meski begitu, bagi yang ingin tetap mempertahankan nuansa tradisional, piring terbang masih jadi pilihan utama.

Tradisi piring terbang adalah salah satu kekayaan budaya kuliner di Solo yang unik dan penuh makna. 

Selain mempercepat proses penyajian makanan, tradisi ini juga mencerminkan semangat gotong royong dan kebersamaan masyarakat.

Jadi, kalau suatu hari kamu diundang ke hajatan di Solo, siap-siap menikmati pengalaman makan yang cepat, rapi, dan tentu saja enak dengan tradisi piring terbang ini!