Lari maraton adalah salah satu cabang olahraga atletik yang populer di seluruh dunia. Biasanya, maraton diikuti oleh para atlet profesional, tapi di berbagai event seperti Fun Run, banyak juga masyarakat umum yang ikut serta.
Maraton sering dikira sama dengan lari jarak jauh, padahal ada perbedaan di antara keduanya. Dalam ajang Olimpiade, maraton adalah lomba lari terpanjang dengan jarak 42,195 kilometer.
Biasanya, maraton digelar di jalan raya dengan sistem penilaian berdasarkan catatan waktu tercepat.
Tidak seperti perlombaan lintasan yang memiliki batas peserta per sesi, maraton bisa diikuti ribuan orang sekaligus.
Karena itu, olahraga ini cukup menantang, terutama bagi pemula yang baru pertama kali mencobanya.
Di Indonesia sendiri, maraton sering diadakan, bahkan masuk dalam cabang olahraga Pekan Olahraga Nasional (PON).
Salah satu pelari maraton yang terkenal di Indonesia adalah Agus Prayogo, yang sudah berkompetisi di level internasional.
Sejarah Lari Maraton
Lari maraton berawal dari legenda seorang prajurit Yunani bernama Philippides atau Pheidippides.
Konon, ia berlari sekitar 30 kilometer dari tempat pertempuran di Marathon menuju Athena untuk mengabarkan kemenangan Yunani atas Persia. Setelah menyelesaikan tugasnya, ia kelelahan dan meninggal dunia.
Pada Olimpiade modern pertama di Athena tahun 1896, perlombaan maraton diadakan sebagai penghormatan terhadap sejarah tersebut dengan jarak sekitar 41 kilometer.
Kemudian, pada Olimpiade 1908 di London, jarak maraton diperpanjang menjadi 42,195 kilometer agar garis finis berada di depan tempat duduk Ratu Alexandra. Jarak ini akhirnya menjadi standar maraton sejak tahun 1921.
Salah satu pelari maraton terbaik sepanjang sejarah adalah Abebe Bikila dari Ethiopia. Ia menjadi orang Afrika pertama yang memenangkan emas Olimpiade dalam ajang maraton Roma 1960.
Hebatnya lagi, ia berhasil mempertahankan gelarnya empat tahun kemudian.
Teknik Dasar Lari Maraton
Sebelum Berlari
Pemanasan sebelum maraton sangat penting untuk mengurangi risiko cedera. Biasanya, pelari melakukan peregangan dan berjalan kaki sekitar 200-300 meter sebelum mulai berlari agar tubuh lebih siap.
Saat Berlari
Saat maraton, langkah kaki harus lebih panjang dari jogging biasa. Jangan langsung berlari terlalu cepat di awal, tapi jaga ritme yang nyaman.
Ketika menghadapi tanjakan, cobalah berlari dengan ritme yang sama seperti di jalan datar. Saat menuruni bukit, kurangi kecepatan dan tetap atur pernapasan agar stabil.
Cara Bernapas Saat Maraton
Pernapasan sangat berpengaruh pada stamina saat berlari. Banyak pelari maraton menggunakan teknik pernapasan 2-to-2, yaitu menarik napas selama dua langkah dan menghembuskan napas selama dua langkah berikutnya.
Teknik ini membantu menghemat energi dan membuat tubuh tetap kuat sepanjang perlombaan.
Manfaat Lari Maraton
- Baik untuk Sendi dan Otot – Jika dilakukan dengan teknik yang benar, maraton bisa membantu memperkuat lutut, pergelangan kaki, dan sendi.
- Membantu Membakar Kalori – Lari maraton bisa jadi pilihan olahraga yang efektif untuk menjaga berat badan.
- Menjaga Kesehatan Jantung – Maraton dapat membantu mengurangi risiko penyakit jantung dan stroke.
- Meningkatkan Fungsi Otak – Berlari secara rutin dapat mengurangi risiko penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson.
- Mengurangi Stres – Saat berlari, tubuh melepaskan hormon endorfin yang bisa meningkatkan mood dan mengurangi stres serta kecemasan.
Lari maraton bukan sekadar olahraga, tapi juga tantangan fisik dan mental yang seru untuk dicoba.
Baik untuk atlet maupun pemula, persiapan yang matang dan teknik yang tepat akan membantu mendapatkan pengalaman terbaik dalam berlari.
Jadi, kalau kamu tertarik ikut maraton, yuk mulai latihan dari sekarang!