in

Sejarah dan Makna Tari Saman dari Aceh

Tari Saman
Tari Saman, Foto: Liputan6.com

Tari Saman adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari Aceh dan telah dikenal luas, bahkan hingga ke tingkat internasional. 

Tarian ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga memiliki nilai budaya, filosofi, dan pesan moral yang dalam. 

UNESCO telah mengakui Tari Saman sebagai warisan budaya tak benda pada tahun 2011, membuktikan betapa berharganya kesenian ini.

Asal-Usul Tari Saman

Sejarah Tari Saman diperkirakan telah ada sejak abad ke-13, bersamaan dengan masuknya ajaran Islam ke Nusantara. 

Nama “Saman” sendiri diambil dari Syekh Saman, seorang ulama yang menyebarkan ajaran Islam di Aceh. 

Tarian ini awalnya berkembang dari kesenian tradisional masyarakat Gayo yang disebut “pok ane”, sebuah seni tepuk tangan dan tepuk paha yang diiringi nyanyian.

Syekh Saman kemudian memodifikasi kesenian ini dengan memasukkan unsur-unsur ajaran Islam, seperti pujian kepada Tuhan dan salam dalam bahasa Arab. 

Seiring berjalannya waktu, Tari Saman semakin dikenal dan menjadi bagian penting dari budaya masyarakat Aceh.

Penyebaran Tari Saman di Aceh

Tari Saman berkembang pesat di berbagai wilayah Aceh, seperti Kabupaten Gayo Lues, Aceh Tenggara, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang. Anak-anak muda sering memainkan tarian ini sebagai hiburan di waktu luang. 

Selain itu, Tari Saman juga digunakan untuk menyampaikan nasihat-nasihat moral, seperti menghormati orang tua dan menjunjung tinggi nilai-nilai agama.

Pada awalnya, Tari Saman hanya boleh dimainkan oleh laki-laki dengan jumlah penari ganjil. Namun, seiring perkembangan zaman, perempuan juga mulai ikut serta dalam pertunjukan tarian ini.

Perkembangan Tari Saman dari Masa ke Masa

1. Zaman Kolonial

Tari Saman sudah dikenal jauh sebelum masa kolonial. Catatan perjalanan Marcopolo pada tahun 1292 menyebutkan bahwa ia melihat masyarakat Gayo menampilkan tarian ini saat singgah di Kerajaan Samudera Pasai. 

Namun, ketika Belanda menjajah Indonesia, Tari Saman sempat dilarang karena dianggap memiliki unsur magis. Meskipun demikian, masyarakat Aceh tetap melestarikannya secara diam-diam.

2. Era Modern dan Pengakuan Internasional

Pada tahun 1972, Tari Saman mulai ditampilkan dalam acara resmi seperti Pekan Kebudayaan Aceh dan menarik perhatian banyak orang, termasuk Ibu Negara saat itu, Tien Soeharto, yang menjulukinya sebagai “Tari Tangan Seribu.” 

Sejak saat itu, Tari Saman sering dikirim ke berbagai festival budaya di luar negeri, seperti di Malaysia, Spanyol, Maroko, dan Amerika Serikat.

Pada tahun 2011, Tari Saman diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya tak benda dari Indonesia. 

Tarian ini juga sukses mencetak rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) pada tahun 2017, dengan 12.262 penari tampil bersama di Stadion Seribu Bukit Blangkejeren, Gayo Lues, Aceh.

Gerakan Tari Saman dan Maknanya

Tari Saman memiliki lima gerakan utama, yaitu:

1. Gerakan Persalaman

Gerakan ini dilakukan di awal tarian sebagai bentuk penghormatan kepada penonton. Para penari menggumamkan nada “mmmmm” dengan irama khusus, kemudian mengucapkan salam sebagai tanda awal pertunjukan.

2. Gerakan Ulu Ni Lagu

Gerakan ini merupakan pembuka tarian, di mana penari mulai menggerakkan tangan dan kepala dengan tempo yang lambat. Pada tahap ini, syair-syair nasihat mulai dinyanyikan.

3. Gerakan Dering

Pada tahap ini, ritme tarian mulai meningkat. Gerakan tangan dan badan menjadi lebih dinamis dan selaras antar penari.

4. Gerakan Klimaks

Bagian ini adalah puncak dari Tari Saman. Gerakan dilakukan dengan cepat dan penuh semangat, menunjukkan harmoni dan kekompakan para penari.

5. Gerakan Penutup

Tarian diakhiri dengan gerakan yang lebih tenang, diiringi dengan ucapan syukur dan salam penutup.

Tari Saman bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga cerminan dari budaya, kebersamaan, dan nilai-nilai moral masyarakat Aceh. 

Dari masa ke masa, tarian ini terus berkembang dan semakin dikenal di kancah internasional. 

Dengan pengakuan dari UNESCO, Tari Saman semakin diakui sebagai salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan oleh generasi mendatang.