Perjalanan Street Art, Dari Coretan Jalanan Hingga Seni Kontemporer

Street Art
Sejarah Street Art, Foto: Magazine Artsper

Street art seringkali dianggap sekadar coretan di tembok. Padahal, seni ini sudah ada sejak zaman kuno, bahkan di Indonesia sendiri ditemukan lukisan gua berusia lebih dari 45 ribu tahun. 

Dari sekadar ekspresi spontan hingga karya bernilai tinggi, street art punya perjalanan panjang yang menarik untuk disimak.

Awal Mula Street Art

Sulit menentukan kapan street art benar-benar dimulai. Namun, sejak peradaban awal, manusia punya naluri untuk menggambar di dinding. 

Seiring waktu, seni ini berkembang menjadi bagian dari budaya urban yang sering dikaitkan dengan gerakan sosial dan kritik terhadap keadaan di sekitarnya.

Saat ini, street art tidak lagi dianggap sekadar vandalisme. Banyak seniman ternama memulai kariernya dari jalanan, hingga akhirnya masuk ke dunia seni kontemporer yang lebih luas.

Era Graffiti di Tahun 70-an

Tahun 1970-an di New York menjadi tonggak penting dalam sejarah street art. Pada dekade ini, graffiti berkembang pesat sebagai bagian dari subkultur perkotaan. 

Banyak seniman menggunakan tembok kota sebagai kanvas, menciptakan gaya khas berupa tulisan dan ilustrasi yang mencolok.

Di era ini, graffiti terbagi menjadi beberapa gaya. Ada yang fokus pada permainan tipografi dan kaligrafi urban, ada pula yang lebih dekat dengan seni pop. Popularitas graffiti semakin meningkat berkat sorotan media dan dokumentasi para fotografer.

Tembok Berlin dan Pesan Sosial

Runtuhnya Tembok Berlin pada tahun 1989 menjadi momen bersejarah yang juga berpengaruh pada perkembangan street art. 

Bagian tembok yang tersisa menjadi media ekspresi bagi seniman untuk menyuarakan pesan sosial dan politik. 

Karya-karya yang muncul di sana menggambarkan harapan, kebebasan, dan perubahan zaman.

Street art di Berlin bukan hanya sekadar ekspresi seni, tetapi juga simbol perlawanan dan kebangkitan masyarakat. Hal ini memperkuat posisi street art sebagai media komunikasi yang lebih dari sekadar estetika.

Komersialisasi Street Art di Era 2000-an

Memasuki awal 2000-an, street art mulai mendapat tempat di pasar seni kontemporer. Salah satu seniman anonim dari Inggris berhasil menarik perhatian dunia lewat karya stencil yang mengandung kritik sosial. 

Karya-karya ini kemudian mulai dikoleksi dan dihargai tinggi oleh para kolektor seni.Seiring dengan itu, semakin banyak seniman jalanan yang mendapat pengakuan dan mulai diundang untuk pameran di galeri besar. 

Bahkan, beberapa karya street art di jalanan dicopot dan dilelang dengan harga fantastis.

Street Art di Era Digital

Di era digital seperti sekarang, street art tidak lagi terbatas pada ruang fisik. Teknologi seperti augmented reality (AR) dan dunia virtual memungkinkan seniman untuk berkarya di dimensi yang lebih luas. 

Kini, seseorang bisa menikmati street art tanpa harus berada di lokasi tertentu. Dengan perkembangan ini, street art semakin diakui sebagai bagian dari seni modern yang terus berevolusi. 

Tak hanya sekadar gambar di tembok, tapi juga pengalaman interaktif yang bisa dinikmati oleh siapa saja di seluruh dunia.

Street art telah melalui perjalanan panjang, dari coretan di tembok hingga seni kontemporer yang diakui. Seiring waktu, medium ini terus berkembang dan menemukan bentuk baru, baik di jalanan maupun di dunia digital. 

Dengan pesan yang kuat dan ekspresi yang unik, street art akan selalu menjadi bagian penting dari budaya urban dan seni global.