Generasi Alpha, Si Kecil yang Punya Pengaruh Besar

Generasi Alpha
Pengaruh Generasi Alpha, Foto: South China Morning Post

Walaupun terasa baru saja kita mulai memahami Gen Z, kini hadir Generasi Alpha yang sudah mulai menunjukkan pengaruhnya. 

Diperkirakan memiliki daya beli mencapai $5,46 triliun pada tahun 2029, Gen Alpha adalah target pasar yang patut diperhitungkan sejak sekarang.

Lahir antara tahun 2010 hingga 2025, Generasi Alpha adalah kelompok pertama yang tumbuh dengan teknologi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. 

Dengan lebih dari 2,8 juta bayi Gen Alpha lahir setiap minggu di seluruh dunia, jumlah mereka diprediksi akan melebihi 2 miliar pada tahun 2025.

Ciri Khas Generasi Alpha

Mengikuti jejak Gen Z, Generasi Alpha diperkirakan akan menjadi generasi paling beragam dan besar sejauh ini. Di Amerika Serikat sendiri, jumlah mereka sudah mencapai 45,6 juta orang. 

Mereka juga dikenal dengan rasa individualisme yang tinggi, dengan 92% di antaranya menganggap penting untuk menjadi diri sendiri.

Meski dikelilingi teknologi, banyak anak Gen Alpha masih menikmati bermain di luar rumah. Selain itu, pengalaman tumbuh di tengah pandemi juga berpengaruh besar terhadap cara mereka memandang dunia, termasuk kesadaran terhadap kesehatan mental sejak usia dini.

Generasi Digital yang Aktif

Sebagai generasi digital sejati, Gen Alpha sangat akrab dengan perangkat elektronik sejak usia muda. 

Di AS, terdapat sekitar 36,2 juta anak berusia 0-11 tahun yang aktif menggunakan internet pada tahun 2024. Berikut beberapa fakta menarik tentang kebiasaan teknologi mereka:

  • 43% memiliki tablet sebelum usia 6 tahun
  • 58% memiliki ponsel pintar sebelum usia 10 tahun
  • 39% menghabiskan setidaknya tiga jam sehari di depan layar
  • 24% menghabiskan lebih dari tujuh jam sehari menggunakan ponsel

Keberadaan layar digital bukan hanya di genggaman mereka, tetapi juga ada di sekolah, rumah, dan tempat-tempat umum. 

Dengan dunia digital yang begitu melekat dalam kehidupan mereka, merek dan bisnis perlu memahami cara terbaik untuk berinteraksi dengan mereka.

Bagaimana Merek Bisa Terhubung dengan Gen Alpha?

Walaupun mereka masih kecil, Gen Alpha sudah mulai membentuk preferensi terhadap merek. Banyak dari mereka mendapatkan pengaruh dari orang tua mereka, terutama para milenial. 

Bahkan, hampir separuh dari orang tua Gen Alpha melaporkan bahwa anak-anak mereka sudah memiliki merek favorit.

Berikut beberapa cara untuk menjangkau generasi ini:

1. Memanfaatkan Video Digital

Video digital adalah media utama bagi Gen Alpha. Pada tahun 2024, sekitar 81,4% anak usia 0-11 tahun menonton video digital setidaknya sebulan sekali, dengan lebih dari 50% melakukan streaming video setiap hari. Platform favorit mereka meliputi:

  • YouTube: 84 menit per hari
  • Netflix: 49 menit per hari
  • Disney+: 30 menit per hari
  • Hulu: 30 menit per hari

Dengan banyaknya waktu yang mereka habiskan untuk menonton video, merek dapat memanfaatkan konten menarik seperti “storytime”, “review”, atau “day in the life” untuk menarik perhatian mereka.

2. Mengoptimalkan Dunia Gaming

Sebanyak 47,7% anak usia 0-11 tahun bermain game digital setidaknya sebulan sekali. Namun, berbeda dengan Gen Z yang bermain untuk bersantai, Gen Alpha melihat game sebagai sarana untuk mengekspresikan diri dan berkreasi. 

Merek dapat menjangkau mereka dengan menciptakan pengalaman interaktif di dalam game, seperti fitur yang memungkinkan mereka menyesuaikan karakter atau lingkungan virtual.

3. Menggabungkan Pengalaman Digital dan Fisik

Meski akrab dengan teknologi, Gen Alpha juga masih menikmati pengalaman nyata. Faktanya, 78% dari mereka lebih suka berbelanja langsung di toko dibandingkan secara online. 

Ini membuka peluang bagi merek untuk mengintegrasikan teknologi ke dalam pengalaman belanja offline, seperti melalui layar interaktif atau pengalaman belanja berbasis augmented reality (AR).

4. Memanfaatkan Media Sosial dan Influencer

Meski sebagian besar platform media sosial memiliki batasan usia 13 tahun ke atas, banyak anak Gen Alpha yang sudah menggunakannya. 

Sebanyak 65% anak usia 8-10 tahun menghabiskan hingga empat jam sehari di media sosial. Mereka tidak hanya menggunakannya untuk berinteraksi dengan teman, tetapi juga untuk mengikuti kreator konten favorit mereka.

Yang menarik, 49% anak-anak percaya pada rekomendasi dari influencer sama seperti mereka percaya pada pendapat keluarga atau teman mereka. 

Oleh karena itu, bekerja sama dengan influencer yang sesuai dengan nilai dan minat Gen Alpha bisa menjadi strategi pemasaran yang efektif.

Generasi Alpha akan membawa perubahan besar dalam dunia pemasaran digital. Dengan tumbuh dalam era yang serba digital, mereka memiliki kebiasaan dan preferensi yang berbeda dari generasi sebelumnya. 

Oleh karena itu, merek dan bisnis yang ingin terhubung dengan mereka perlu memahami bagaimana mereka berinteraksi dengan teknologi, video digital, game, serta media sosial. 

Dengan strategi yang tepat, merek bisa membangun hubungan yang kuat dengan Gen Alpha dan menciptakan loyalitas jangka panjang.