Seren Taun adalah tradisi syukuran masyarakat Sunda yang dilaksanakan sebagai ungkapan terima kasih atas hasil pertanian selama setahun dan harapan untuk masa depan.
Upacara ini digelar setiap tanggal 22 bulan Rayagung dalam kalender Sunda. Selain ritual sakral, acara ini juga dimeriahkan dengan berbagai kesenian dan hiburan.
Tradisi ini bukan hanya soal hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga mencerminkan kebersamaan dengan sesama dan alam sekitar.
Dalam upacara ini, masyarakat berpartisipasi dalam kegiatan seni, pendidikan, dan budaya yang mempererat nilai-nilai kearifan lokal.
Rangkaian Acara Seren Taun
Upacara Seren Taun diawali dengan “Ngajayak” atau menjemput padi pada tanggal 18 Rayagung. Angka 18 sendiri melambangkan kasih sayang dan kemurahan Tuhan bagi umat-Nya.
Ritual ini diikuti dengan prosesi penumbukan padi hingga puncak acara pada tanggal 22 Rayagung.
Pada puncak acara, padi sebanyak 22 kwintal ditumbuk dan dibagikan kepada masyarakat, sementara sebagian digunakan sebagai benih.
Angka 22 melambangkan keseimbangan dalam kehidupan, baik suka maupun duka, serta aspek-aspek kehidupan lainnya.
Padi sebagai Simbol Kemakmuran
Dalam upacara ini, padi menjadi simbol utama kemakmuran karena pertanian merupakan mata pencaharian utama masyarakat Sunda.
Kisah klasik Pwah Aci Sahyang Asri yang dipercaya membawa kesuburan bagi para petani juga sering diceritakan kembali dalam upacara ini.
Kesenian dan Ritual Pendukung
Seren Taun juga dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan seni dan ritual, seperti:
- Damar Sewu – Helaran budaya yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.
- Tari Buyung – Tarian yang mencerminkan kebiasaan masyarakat Sunda dalam mengambil air.
- Pesta Dadung – Ritual untuk menjaga keseimbangan alam.
- Ngamemerokeun – Tradisi pertemuan benih padi jantan dan betina dalam budaya Sunda Wiwitan.
- Tarawangsa – Seni musik yang berasal dari zaman Mataram, dilengkapi dengan tarian khas.
- Tari Pwah Aci – Tarian spiritual sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Pemberi Hidup.
- Seribu Kentongan – Acara penutup yang diikuti oleh ribuan peserta dengan pukulan kentongan bambu, melambangkan kesadaran untuk selalu ingat pada asal-usul dan nilai kehidupan.
Dampak Budaya dan Ekonomi
Seren Taun yang rutin diadakan di Kuningan tidak hanya menjadi kebanggaan budaya, tetapi juga menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.
Meski demikian, potensi ekonominya masih bisa lebih dikembangkan. Masyarakat setempat bisa menciptakan cendera mata khas dan produk lokal yang bernilai agar wisatawan memiliki kenang-kenangan dari acara ini.
Dengan semakin berkembangnya Seren Taun, diharapkan acara ini dapat menjadi bagian penting dalam memajukan pariwisata dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.
Semoga di tahun-tahun mendatang, tradisi ini terus lestari dan semakin memberikan manfaat bagi semua.