Di era digital saat ini, kita sering kali tidak lagi membawa dompet ke mana-mana. Uang tunai dan kartu debit seolah tergantikan oleh ponsel dan koneksi internet. Dari membeli kopi hingga tiket konser, semua bisa dilakukan hanya dengan memindai kode QR.
Fenomena ini bukan sekadar tren sementara, melainkan cara hidup baru bagi generasi muda di era digital. Kita telah memasuki fase yang bisa disebut “Cashless 2.0”, di mana uang tidak hanya tidak terlihat, tetapi juga berpindah dengan lebih cepat.
Dompet Fisik Mulai Menghilang
Beberapa tahun yang lalu, dompet masih menjadi barang wajib di dalam tas. Namun kini, banyak yang bahkan tidak memiliki dompet sama sekali. Semua transaksi beralih ke e-wallet dan aplikasi pembayaran digital.
Menurut riset dari Bank Indonesia pada tahun 2025, lebih dari 78% transaksi harian anak muda di kota besar dilakukan tanpa uang tunai. Alasannya? Praktis, cepat, dan mudah dilacak. Bahkan, sebagian besar anak muda sekarang lebih hafal saldo e-wallet mereka daripada jumlah uang di rekening tabungan.
Gaya Hidup Serba Cepat
Kopi, ojek online, donasi, hingga jajan — semua bisa dilakukan tanpa repot. Sistem ini membuat hidup terasa lebih efisien, terutama bagi generasi yang terbiasa dengan kepuasan instan alias “semua harus cepat”.
Keuntungan lainnya: tidak perlu uang receh, tidak ada drama “tidak ada kembalian”, dan tidak repot mencari ATM. Bagi banyak orang, cashless bukan hanya metode pembayaran, tetapi simbol kebebasan bisa jajan kapan saja asalkan sinyal kuat dan saldo aman.
Dari QR Hingga Paylater
Generasi muda sekarang juga telah melewati tahap cashless dasar (menggunakan e-wallet untuk membayar makanan). Kini mereka memasuki Cashless 2.0, yang mencakup ekosistem keuangan penuh:
– Membayar listrik, air, pulsa, dan tagihan dalam satu aplikasi.
– Belanja online menggunakan paylater atau cicilan digital.
– Investasi, top-up e-gold, bahkan menabung koin di aplikasi fintech.
Semuanya saling terhubung. Namun di balik kemudahannya, muncul tantangan baru: pengelolaan keuangan digital. Banyak anak muda yang “terlalu lancar” menggunakan paylater hingga tidak sadar utangnya menumpuk.
Apakah Cashless Membuat Boros? Bisa Jadi
Transaksi digital membuat uang terasa “tidak nyata.” Saat kamu gesek atau scan, tidak ada momen “kehilangan fisik uang” yang membuat sadar pengeluaran. Oleh karena itu, psikolog finansial menyarankan trik sederhana:
– Cek ringkasan pengeluaran setiap minggu.
– Miliki batasan harian e-wallet.
– Dan tetap simpan sedikit uang tunai untuk keadaan darurat (karena listrik mati = sinyal mati).
Dompet fisik boleh hilang, tetapi kesadaran finansial jangan ikut lenyap. Kehidupan cashless membuat hidup lebih praktis, tetapi juga membutuhkan disiplin baru. Kamu tidak perlu berhenti menggunakan e-wallet — cukup kenali batasnya. Karena di era Cashless 2.0, yang paling penting bukan seberapa cepat uang berpindah, tetapi seberapa bijak kamu menggunakannya.
