Di zaman media sosial yang serba cepat ini, istilah “aesthetic” seolah menjadi mantra yang menghipnotis banyak orang. Mulai dari kamar tidur yang tertata rapi, foto yang diambil dengan sudut sempurna, hingga makanan yang disajikan dengan indah, semua harus memenuhi standar estetika sebelum diunggah ke dunia maya. Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa otak kita begitu terpikat oleh hal-hal yang estetis?
Pola dan Keteraturan: Kebutuhan Dasar Otak
Otak manusia secara alami dirancang untuk mencari pola dan keteraturan. Ini adalah kemampuan mendasar yang membantu nenek moyang kita bertahan hidup di lingkungan yang penuh tantangan. Ketika kita melihat sesuatu yang teratur, simetris, atau rapi, otak kita dapat memproses informasi tersebut dengan lebih mudah. Hal ini tidak hanya mengurangi energi yang dibutuhkan untuk memahami bentuk, tetapi juga memberikan rasa nyaman secara otomatis. Sebagai contoh, kamar yang rapi dan berwarna senada terasa lebih menenangkan dibandingkan dengan kamar yang berantakan. Ini bukan hanya soal perfeksionisme, tetapi lebih kepada bagaimana otak kita menyukai keteraturan.
Warna dan Emosi: Hubungan yang Tak Terpisahkan
Setiap warna memiliki kemampuan untuk memicu reaksi emosional yang berbeda di otak kita. Warna pastel, misalnya, dikenal dapat menenangkan, sementara warna hangat seperti kuning dan oranye dapat meningkatkan mood. Warna bumi memberikan rasa aman dan nyaman, sedangkan warna biru dikenal dapat memberikan efek stabil, fokus, dan tenang. Tidak heran jika feed Instagram yang estetis sering kali menggunakan palet warna yang lembut, hangat, dan konsisten. Ini bukan kebetulan, melainkan karena warna-warna tersebut mampu menghasilkan efek emosional yang positif.
Simetri dan Komposisi: Sumber Kepuasan Visual
Ada alasan mengapa foto dengan komposisi yang baik terlihat sangat memuaskan. Hal ini berkaitan dengan sistem penghargaan di otak kita, yang melibatkan ventral striatum dan orbitofrontal cortex. Ketika mata kita melihat sesuatu yang seimbang, simetris, dan memiliki komposisi yang tepat, kedua bagian otak ini menjadi aktif. Hasilnya, kita merasa puas, nyaman, dan bahkan bisa ketagihan melihat hal-hal yang estetis. Inilah mengapa video-video “satisfying” sering kali mendapatkan banyak penonton.
Dalam kehidupan yang sering kali tidak dapat diprediksi, otak kita cenderung menyukai sesuatu yang dapat diprediksi. Hal-hal yang estetis, seperti ruangan yang rapi, tata letak yang teratur, dan warna yang konsisten, memberikan ilusi kontrol, rasa stabil, dan rasa aman. Inilah salah satu alasan mengapa banyak orang suka menata kamar atau menciptakan estetika tertentu; mereka sedang menciptakan lingkungan yang lebih dapat dikendalikan oleh otak.
Tidak hanya otak kita yang terpengaruh, tetapi juga kebiasaan digital kita. Platform seperti Instagram, TikTok, dan Pinterest mendorong kita untuk menyukai visual yang cantik, komposisi yang rapi, dan warna yang seragam. Semakin sering kita terpapar hal-hal estetis, semakin otak kita menganggapnya sebagai standar keindahan. Akhirnya, kita ikut memproduksi, menyukai, dan mencari hal-hal estetis setiap hari.
Penelitian menunjukkan bahwa melihat pemandangan indah, karya seni, atau ruang yang didesain dengan baik dapat mengurangi hormon stres, menurunkan tekanan darah, dan memperbaiki suasana hati. Inilah mengapa merapikan meja kerja, menaruh tanaman kecil, atau mengganti lampu dengan warna hangat dapat meningkatkan mood meski tidak mengubah banyak hal. Otak merasa lebih nyaman.
Hal-hal estetis sering kali diasosiasikan dengan momen spesial, masa kecil, suasana liburan, atau kenangan yang menyenangkan. Misalnya, warna beige dapat mengingatkan kita pada pantai, lampu warm white pada suasana kafe, dan warna hijau sage pada ketenangan alam. Ketika otak memproses visual tersebut, memori positif ikut terbawa, membuat kita merasa lebih bahagia.
Ketertarikan kita pada hal-hal estetis bukan sekadar tren internet atau sekadar “ikut-ikutan”. Otak manusia memang dibangun untuk menyukai hal yang rapi, cantik, teratur, dan mudah diproses. Visual estetis memberikan rasa nyaman, kontrol, stabilitas emosional, dan memicu rasa puas. Tidak heran jika generasi sekarang semakin dekat dengan dunia estetika—dari outfit, meja kerja, kamar, hingga cara memotret makanan. Otak memang mencarinya secara alami.
