Bugonia
Film Bugonia, Foto: The Hollywood Reporter
in

Bugonia: Kekonyolan Paranoia, Ambisi, dan Kepedihan di Bawah Neon dan Lebah

Film Bugonia menjadi karya terbaru Yorgos Lanthimos yang kembali menantang kenyamanan penonton. Sutradara dengan gaya absurd ini menghadirkan black comedy berbalut fiksi ilmiah dan satir sosial yang terasa aneh, gelap, sekaligus memancing banyak pertanyaan. 

Sejak menit awal, kamu langsung diajak masuk ke dunia yang penuh kecurigaan, ambisi berlebihan, dan luka batin yang tidak pernah sembuh sepenuhnya.

Film ini bukan tontonan santai. Bugonia lebih mirip pengalaman sinematik yang membuat kita terus berpikir tentang batas tipis antara keyakinan pribadi dan kenyataan yang sebenarnya.

Premis Cerita yang Aneh Tetapi Menggugah

Cerita Bugonia berpusat pada Teddy Gatz, seorang pekerja pabrik yang hidupnya dikuasai teori konspirasi. Teddy yakin bahwa Michelle Fuller, CEO perusahaan farmasi raksasa, bukan manusia biasa. 

Dalam pikirannya, Michelle adalah makhluk asing yang menyamar dan punya agenda tersembunyi untuk menghancurkan bumi.

Keyakinan ini mendorong Teddy melakukan tindakan ekstrem dengan bantuan sepupunya, Don. Dari sini, film berkembang menjadi perjalanan psikologis yang rumit, penuh kecurigaan, dan sarat kritik sosial. Penonton tidak pernah diberi jawaban pasti, apakah Teddy benar atau justru terjebak dalam delusinya sendiri.

Naskah yang Sengaja Membiarkan Penonton Bingung

Salah satu kekuatan utama Bugonia ada pada penulisan ceritanya. Naskah tidak pernah menggiring kita pada kesimpulan tunggal. Dialognya dipenuhi subteks, jeda sunyi, dan kalimat ambigu yang membuat makna terasa cair.

Beberapa ciri penulisan cerita yang menonjol antara lain:

  • Tidak ada karakter yang sepenuhnya benar atau sepenuhnya salah
  • Konflik dibangun lewat percakapan dan situasi psikologis
  • Jawaban sering digantikan oleh pertanyaan baru
  • Ketegangan muncul dari rasa tidak pasti

Pendekatan ini membuat film terasa seperti labirin pikiran, di mana kamu harus aktif menafsirkan sendiri apa yang sedang terjadi.

Visual yang Menekan dan Sarat Makna

Secara visual, Bugonia tampil dengan gaya khas Lanthimos yang dingin dan tidak ramah. Sinematografi memanfaatkan palet warna pucat, pencahayaan keras, serta framing sempit yang menciptakan rasa terkurung. 

Banyak adegan berlangsung di ruang tertutup seperti ruang bawah tanah dan sudut rumah, membuat atmosfer terasa sesak dan gelisah.

Visual ini tidak sekadar jadi latar, melainkan bagian dari cerita. Ruang sempit seolah menjadi metafora dunia modern yang membatasi pikiran dan emosi manusia.

Akting Kuat dari Jesse Plemons dan Emma Stone

Penampilan para pemain menjadi tulang punggung film ini. Jesse Plemons berhasil menghadirkan Teddy sebagai sosok yang rapuh sekaligus fanatik. Di satu sisi, kita bisa memahami ketakutannya. Di sisi lain, obsesi yang ia miliki perlahan mengikis logika dan empati.

Emma Stone tampil berani dan total sebagai Michelle Fuller. Karakternya ditampilkan ambigu, dominan, misterius, namun juga menyimpan kerentanan. Michelle tidak digambarkan sebagai korban pasif maupun antagonis klise. Justru ketidakjelasan inilah yang membuat karakternya menarik.

Interaksi keduanya terasa intens dan sering membuat penonton tidak nyaman, sesuai dengan visi filmnya.

Desain Suara yang Unik dan Mengganggu

Elemen teknis lain yang patut diperhatikan adalah desain suara. Dengungan lebah digunakan sebagai bagian penting dari atmosfer film. Suara ini muncul berulang kali dan menimbulkan rasa cemas yang sulit dijelaskan.

Fungsi suara dalam Bugonia antara lain:

  • Membangun ketegangan psikologis
  • Menjadi simbol paranoia yang terus mengganggu
  • Mengaburkan batas antara realitas dan ilusi

Dipadukan dengan musik eksperimental, suara-suara ini membuat dunia Bugonia terasa seperti mimpi buruk yang tidak pernah benar-benar berakhir.

Kritik Sosial yang Disampaikan Lewat Absurd

Di balik ceritanya yang aneh, Bugonia menyimpan kritik tajam terhadap masyarakat modern. Film ini menyoroti bagaimana teori konspirasi tumbuh subur di tengah ketidakpercayaan pada sistem, serta bagaimana korporasi besar sering dipandang sebagai entitas tanpa wajah dan tanpa empati.

Lanthimos tidak menggurui. Ia memilih menyampaikan pesannya lewat absurditas, membuat kita tertawa kecil sekaligus merasa tidak nyaman.

Film Tidak Ramah, Namun Penuh Makna

Bugonia jelas bukan film untuk semua orang. Ritmenya lambat, suasananya gelap, dan ceritanya penuh ketidakpastian. Namun bagi kamu yang menyukai film dengan tantangan intelektual dan keberanian artistik, karya ini menawarkan pengalaman yang kuat dan membekas.

Film ini mengajak kita bercermin dan bertanya, sejauh mana keyakinan kita dibentuk oleh rasa takut, dan kapan kebenaran mulai berubah menjadi ilusi. Bugonia mungkin tidak nyaman, tetapi justru di situlah kekuatannya.