Avatar: Fire and Ash
Film Avatar: Fire and Ash, Foto: Suara Surabaya
in

Review Film Avatar: Fire and Ash, Munculnya Klan Baru di Pandora

James Cameron kembali melanjutkan kisah Pandora lewat Avatar: Fire and Ash, film ketiga dari semesta Avatar yang rilis hanya berselang tiga tahun dari The Way of Water. Jarak waktu yang relatif singkat ini sempat memunculkan pertanyaan, apakah Cameron masih punya kejutan besar dari sisi teknologi dan cerita. 

Jawabannya tidak sepenuhnya soal hal baru, melainkan soal bagaimana sinema tetap terasa megah, emosional, dan sangat imersif.

Meski bukan film termahal sepanjang masa, Fire and Ash tetap terlihat seperti produksi berskala luar biasa. Setiap adegan terasa mahal, detail, dan digarap dengan kontrol penuh, ciri khas James Cameron yang sulit ditandingi.

Lanjutan Cerita dengan Emosi Lebih Gelap

Avatar: Fire and Ash mengambil latar waktu tidak lama setelah peristiwa The Way of Water. Keluarga Sully masih bergulat dengan duka mendalam akibat kehilangan Neteyam. Peristiwa ini membawa perubahan besar pada dinamika karakter utama.

Jake Sully kini digambarkan lebih dipenuhi amarah, sementara Neytiri menenggelamkan dirinya dalam kesedihan dengan cara Na’vi. Perbedaan cara berduka ini dirangkum dengan baik lewat sudut pandang Lo’ak, yang menyadari bahwa jiwa Jake tetap manusia meski raganya menyatu dengan Na’vi.

Dari sini, film mulai menyoroti tema identitas yang menjadi fondasi utama ceritanya.

Tema Identitas yang Jadi Benang Merah

Isu jati diri kembali diangkat secara konsisten dan lebih luas. Tidak hanya Jake dan Neytiri, karakter lain juga menghadapi konflik serupa.

Beberapa contoh pergulatan identitas yang ditampilkan:

  • Kiri, yang lahir dari avatar Dr. Grace dan mempertanyakan asal-usul dirinya
  • Spider, manusia yang tumbuh di Pandora tetapi tidak sepenuhnya menjadi bagian darinya
  • Miles Quaritch, yang hidup kembali dalam tubuh avatar dengan memori masa lalu

Melalui karakter-karakter ini, film menekankan bahwa identitas mungkin sulit diubah, tetapi cara berpikir dan pilihan hidup selalu berada di tangan masing-masing individu.

Ancaman Baru dari Dalam Pandora

Manusia dari RDA masih menjadi ancaman besar bagi Pandora. Namun kali ini, bahaya juga datang dari sesama penghuni planet tersebut. Klan Mangkwan, yang dipimpin oleh Varang, diperkenalkan sebagai kelompok yang hidup terasing di wilayah gunung berapi dan menentang keharmonisan Eywa.

Varang tampil mencuri perhatian berkat gestur dan karisma yang kuat. Sayangnya, porsi eksplorasi latar belakang klan Mangkwan terasa kurang mendalam. Dengan durasi hampir 200 menit, film sebenarnya punya ruang lebih luas untuk menggali motivasi dan sejarah mereka agar tidak terlihat satu dimensi.

Meski begitu, beberapa aspek budaya klan api ini tetap menarik untuk disimak, terutama ritual dan tradisi unik yang memperkaya dunia Pandora.

Visual Spektakuler yang Tetap Jadi Andalan

Secara visual, Fire and Ash masih berada di level tertinggi. Walau lanskap hutan dan laut terasa familiar dari film sebelumnya, Cameron tetap mampu menyajikannya dengan sudut pandang yang megah.

Hal yang menonjol dari sisi teknis antara lain:

  • Palet warna yang kaya dan kontras
  • Detail lingkungan yang terasa hidup
  • CGI yang sangat halus dan realistis
  • Sinematografi luas hasil kolaborasi dengan Russell Carpenter

Teknologi HFR yang digunakan di sebagian film juga membantu memperkuat pengalaman menonton dalam format 3D, membuat pergerakan terasa lebih mulus dan tajam.

Alur Generik yang Diselamatkan Aksi dan Visual

Dari sisi cerita, pola konflik Fire and Ash masih mengikuti struktur yang cukup familiar bagi penggemar Avatar. Di beberapa bagian, alurnya terasa berulang dan bisa diprediksi. Namun, setiap kali ritme mulai melambat, Cameron menyisipkan adegan berskala besar yang kembali menghidupkan ketegangan.

Pendekatan ini membuat film tetap menghibur, meski tidak sepenuhnya segar dari sisi narasi.

Masih Jadi Standar Tinggi Sinema Spektakel

Avatar: Fire and Ash mungkin tidak menawarkan lompatan teknologi sebesar pendahulunya, tetapi tetap menjadi contoh bagaimana sinema visual kelas atas seharusnya dibuat. Tema identitas yang kuat, dunia Pandora yang semakin luas, serta presentasi teknis yang nyaris sempurna membuat film ini layak ditonton di layar besar.

Buat kamu yang mengikuti perjalanan Avatar sejak awal, film ini menjadi bab penting yang memperdalam konflik emosional dan membuka jalan menuju kisah yang lebih besar di masa depan.