Kalau kamu mengikuti karya Christopher Nolan, The Odyssey menjadi salah satu film yang menarik untuk diperhatikan. Kali ini Nolan mengangkat kisah dari epos Yunani kuno yang sudah dikenal selama ribuan tahun. Pilihan tersebut terasa cocok dengan gaya bercerita Nolan yang sering mengeksplorasi waktu, sudut pandang, dan struktur narasi.
The Odyssey tidak sekadar membawa cerita perjalanan seorang pahlawan. Film ini juga mempertanyakan bagaimana sebuah kisah bisa terbentuk dari cerita yang disampaikan berulang kali oleh banyak orang. Informasi yang diterima karakter maupun penonton pun tidak selalu hadir secara lengkap sehingga kebenarannya dapat terasa samar.
Sinopsis The Odyssey
Film ini mengikuti perjalanan Odysseus yang diperankan Matt Damon, seorang raja Ithaca yang meninggalkan kerajaannya selama 20 tahun untuk memimpin pasukan dalam Perang Troya.
Setelah perang berakhir, kabar mengenai keberadaan Odysseus menjadi tidak jelas. Apakah ia benar-benar berhasil memenangkan perang dengan strategi Kuda Troya? Apakah sang raja masih hidup? Mengapa ia belum kembali ke Ithaca?
Sementara itu, Penelope yang diperankan Anne Hathaway harus menghadapi banyak pria yang ingin meminangnya. Di sisi lain, putranya, Telemachus yang diperankan Tom Holland, terus menunggu kepulangan sang ayah.
Pertanyaan mengenai nasib Odysseus inilah yang kemudian menjadi bagian penting dalam alur film.
Cara Nolan Menceritakan Kisah Odysseus
Nolan menggunakan struktur cerita yang tidak sepenuhnya berjalan lurus. Perspektif berbagai karakter digunakan untuk memberikan informasi mengenai Odysseus dari sudut yang berbeda.
Dialog menjadi salah satu alat penting untuk membangun dunia dalam film. Melalui percakapan, penonton mendapatkan potongan informasi mengenai masa lalu dan perjalanan Odysseus.
Cara tersebut membuat cerita terasa seperti sebuah legenda yang terus diceritakan kembali. Setiap karakter memiliki sudut pandang sendiri sehingga kebenaran mengenai sosok Odysseus tidak selalu terasa mutlak.
Pendekatan ini juga membuat The Odyssey terasa sangat sesuai dengan gaya Nolan dalam memainkan struktur narasi.
Kepahlawanan yang Dipertanyakan
Hal menarik lainnya adalah cara film ini memandang sosok pahlawan. Jika kisah epos biasanya menempatkan perang sebagai tempat lahirnya kejayaan, Nolan justru memberikan perhatian pada dampak setelah peperangan.
Film lebih banyak menyoroti bagaimana konflik dapat meninggalkan luka bagi seseorang maupun sebuah masyarakat. Pengalaman Odysseus kemudian membuatnya mempertanyakan identitas dirinya sendiri.
Apakah ia benar-benar seorang pahlawan atau justru seseorang yang telah melakukan banyak tindakan yang sulit dibenarkan?
Pertanyaan tersebut membuat karakter Odysseus terasa lebih manusiawi. Ia tidak hanya digambarkan sebagai raja hebat dari legenda, melainkan sebagai seseorang yang harus menghadapi konsekuensi dari perjalanan panjangnya.
Dunia Mitologi Yunani yang Lebih Realistis
Nolan juga memberikan pendekatan berbeda terhadap dunia mitologi Yunani. Makhluk dan unsur supernatural tetap hadir, tetapi kemunculannya tidak dibuat terlalu sering.
Dunia dalam film terasa seperti tempat yang sebagian besar dihuni manusia biasa. Kehadiran makhluk mitologi justru terasa sebagai sesuatu yang tidak biasa ketika muncul.
Athena yang diperankan Zendaya menjadi salah satu sosok penting yang memiliki hubungan dengan perjalanan Odysseus. Kehadirannya memberikan sentuhan mitologi sekaligus memperkuat sisi batin sang karakter utama.
Sinematografi yang Megah
Sinematografi karya Hoyte van Hoytema menjadi salah satu kekuatan The Odyssey. Lanskap yang luas tidak hanya digunakan untuk memperlihatkan keindahan dunia Yunani kuno, tetapi juga menunjukkan betapa kecilnya manusia di tengah alam yang begitu luas.
Pemandangan laut dan daratan terasa megah tanpa harus dipenuhi efek visual yang berlebihan. Ketika sesuatu yang tidak masuk akal muncul, suasana yang dibangun justru lebih dekat dengan rasa takut daripada sekadar kekaguman.
Beberapa bagian bahkan terasa seperti film horor. Kemunculan Circe yang diperankan Samantha Morton menghadirkan visual yang cukup mengganggu, sementara pertemuan dengan Polyphemus memberikan pengalaman audio yang sangat kuat.
Kekuatan Suara dalam The Odyssey
Dengan durasi 173 menit, The Odyssey memanfaatkan suara sebagai bagian penting dalam penceritaan. Salah satu yang paling mudah diingat adalah suara senar busur milik Odysseus sebelum ia menggunakan panahnya.
Suara tersebut bukan sekadar pelengkap adegan. Seiring cerita berjalan, bunyi sederhana itu memiliki makna emosional yang semakin kuat.
Film juga menghadirkan sosok penyair yang diperankan Travis Scott. Kehadirannya semakin menegaskan gagasan bahwa cerita dapat diwariskan melalui suara dan terus mengalami perubahan ketika diceritakan kembali.
Review The Odyssey
Secara keseluruhan, The Odyssey terasa seperti film yang tidak hanya ingin menceritakan perjalanan Odysseus, tetapi juga membahas bagaimana sebuah legenda terbentuk. Nolan memanfaatkan kisah klasik tersebut untuk mengeksplorasi ingatan, sudut pandang, kepahlawanan, dan konsekuensi dari sebuah perjalanan panjang.
Perpaduan narasi non-linear, sinematografi megah, dunia mitologi yang lebih realistis, serta desain suara yang kuat membuat film ini memiliki identitas tersendiri.
Kalau kamu menyukai film Christopher Nolan yang mengajak penonton memperhatikan struktur cerita sekaligus menyimpan makna di balik setiap detail, The Odyssey layak masuk daftar tontonan. Film ini bukan sekadar kisah petualangan dari legenda Yunani, melainkan juga sebuah cerita tentang bagaimana manusia mengingat, menyampaikan, dan memaknai sebuah legenda.
