in

Esports Tengah Naik Daun di Afrika dan Dua Orang Kenya Menjadi Top Player Global

Hari ini, Esports menjadi dunia video game kompetitif sekaligus penghasil uang utama yang tumbuh melesat. Fenomena global ini ada dalam liga tersendiri, di mana para pemainnya mungkin tidak terlihat seperti bintang olahraga tradisional, namun memiliki potensi penghasilan yang besar, dukungan merek yang rela menggelontorkan dana sponsor, serta banjir penggemar.

Meski banyak pemain top global berasal dari Eropa, Asia, atau AS, benua Afrika juga menaruh jangkar di pasar global dan telah menarik lebih dari $ 1 miliar pada tahun 2019.

Dilansir dari CNN, Salah satu perusahaan konsultan memproyeksikan bahwa industri game Afrika akan meningkat sebesar 12% dalam lima tahun ke depan, dengan Mesir dan Afrika Selatan yang memimpin industri serta meraup pendapatan tinggi.

Esports sebagai industri bernilai miliaran dolar yang menarik banyak penggemar, telah menjadi lumbung pundi bagi para pemain Afrika. Tahun ini, atlet esports Afrika Selatan yakni Thabo “Yvng Savage” Moloi membuat sejarah dengan menjadi pemain pertama dari Afrika yang disponsori oleh Red Bull. Pada usia 18 tahun, ia adalah pemain FIFA berperingkat teratas Afrika Selatan di PS4 dan peringkat 73 dunia.

Tetapi beberapa bintang paling menjanjikan di benua itu sebenarnya tersebar di Afrika Timur. Terutama dua orang pemain asal Kenya yang membantu menempatkan esports Afrika di peta top global.

Sylvia “Queen Arrow” Gathoni

Mahasiswa hukum di siang hari dan pro-gamer di malam hari, ialah Sylvia Gathoni. Sylvia lebih dikenal dengan nama esports-nya yakni “Queen Arrow”. Dia adalah atlet esports wanita profesional pertama di Kenya. Bidang keahliannya adalah game pertarungan Tekken 7.

Sementara sebuah studi tahun 2019 menemukan bahwa 35% dari semua gamer di seluruh dunia adalah perempuan, Gathoni mengatakan bahwa dia adalah salah satu dari segelintir pemain esports wanita di benua Afrika yang tak mau ketinggalan di seantero esports global.

“Kami tidak memiliki banyak wanita, jadi Anda tidak memiliki sistem dukungan dari orang-orang dengan jenis kelamin yang sama,” kata Gathoni. “Saya harus memastikan bahwa saya menjadi teladan bagi wanita lain, dan orang lain yang bercita-cita untuk berada di industri game.”

Dia telah menjadi pemain reguler di kancah esports sedari 2018 dan hari ini, pada usia 22 tahun, berada di peringkat ke-13 di Kenya. Dia juga menjadi wanita pertama di Afrika Timur yang disponsori oleh merek global.

Namun kenaikannya ke puncak bukannya tanpa tantangan; rintangan terbesar, katanya, adalah seksisme dalam industri yang didominasi laki-laki. Sebuah masalah serius yang semakin mendapat perhatian di dunia esports.

Brian “Beast” Diang’a

Lahir dan dibesarkan di jantung Kibera, daerah kumuh terbesar di Kenya, Brian “Beast” Diang’a adalah salah satu pemain Mortal Kombat paling terkenal di negara itu. “Jika bukan karena bermain game, saya tidak akan berada di sini hari ini,” katanya kepada CNN. “Saya memilih bermain game daripada melakukan kejahatan.”

Perjalanannya ke dunia esports dimulai sejak kecil. Brian menghabiskan seluruh waktu luangnya di pusat game Kibera bernama After Homework, di mana dia mengatakan akan pergi untuk melarikan diri dari kenyataan. “Kami akan hidup tanpa makanan selama berhari-hari, (dan) tidak ada air,” kata Brian tentang kehidupannya di luar game.

Tetapi melalui esports, dia menemukan tujuan. “Hal yang baik tentang Kibera adalah Anda rendah dan Anda tidak bisa lebih rendah dari tempat itu,” katanya. “Satu-satunya tempat yang tersisa bagimu untuk pergi adalah pergi ke tempat lebih tinggi. Jadi aku terus memaksakan diri dan berkata pada diriku sendiri bahwa aku tidak memiliki batasan.”

Article by

Haluan Logo