in

Fenomena Hari Tanpa Bayangan di Indonesia, Simak Penjelasan Astronom

Ilustrasi bayangan. Foto: Shutterstock

Indonesia dilanda hari tanpa bayangan di tahun 2021. Fenomena ini mulai berlangsung akhir Februari dan diperkirakan masih akan berlangsung hingga pekan pertama di bulan April 2021.

“Ketika Matahari tepat di atas Indonesia, tidak ada bayangan yang terbentuk oleh benda tegak tidak berongga ketika tengah hari, sehingga fenomena ini dapat disebut sebagai Hari Tanpa Bayangan Matahari,” ungkap Andi Pangerang, Peneliti dari Pusat Sains Antariksa LAPAN dalam keterangan resminya.

Sebelumnya, Astronom Amatir Indonesia Marufin Sudibyo menjelaskan bahwa fenomena hari tanpa bayangan sebenarnya bukanlah fenomena langka.

Hari tanpa bayangan (Matahari) adalah suatu hari bagi suatu tempat tertentu di mana manusia dan obyek lain yang berdiri tegak akan kehilangan bayang-bayangnya, yaitu saat Matahari mencapai titik kulminasi atas (istiwa’) atau mengalami kondisi transit.

Bayangan akan jatuh tegak lurus karena bertumpu pada benda itu sendiri. Orang-orang sering menyebutnya bayangan yang hilang atau tanpa bayangan.

Marufin menyebut, setiap hari di antara terbit dan terbenamnya, matahari menempuh lintasan khayali di langit yang tercermin dari dua parameter, yaitu altitud matahari dan azimuth matahari.

“Kulminasi atas terjadi saat altitud matahari mencapai maksimum pada hari itu,” ungkap Marufin.

Peristiwa itu berlangsung bersamaan dengan saat azimuth matahari bernilai 180º atau 0º, fenomena yang disebut sebagai transit matahari. Sehingga di saat kulminasi atas terjadi, bayang-bayang benda tegak yang dibentuk oleh pancaran sinar matahari akan mengarah ke utara atau ke selatan.

Hari tanpa bayangan matahari terjadi bila altitud matahari tepat 90º, sehingga matahari tepat berada di titik zenith, titik tertinggi yang bisa dicapai peredaran benda langit.

Daris segi astronomis, hari tanpa bayangan matahari terjadi manakala nilai deklinasi matahari, yakni salah satu parameter dalam sistem koordinat langit, tepat sama dan senilai dengan garis lintang sebuah tempat.

Matahari mengalami gerak semu tahunan yang sifatnya siklik mulai dari yang terbesar deklinasi +23º 26′ sampai yang terkecil deklinasi -23º 26′.

Perubahan deklinasi tersebut membuat matahari akan menempati titik zenith yang tepat berada di atas Garis Balik Utara (lintang 23º 26′ LU) setiap tanggal 21 Juni, pada saat deklinasi matahari mencapai maksimum dan berada di atas Garis Balik Selatan (lintang 23º 26′ LS) setiap tanggal 22 Juni pada saat deklinasi matahari mencapai minimum.

Terkait dengan Indonesia, negara ini secara geografis terletak di antara lintang 6º LU hingga lintang 11º LS.  Dengan begitu, akan terjadi hari tanpa bayangan matahari pada titik-titik tertentu di Indonesia, manakala matahari memiliki deklinasi +6º hingga deklinasi -11º dan sebaliknya.

“Hari tanpa bayangan Matahari dapat terjadi di seluruh Indonesia, walaupun bergantung kepada garis lintang masing-masing tempat,” jelas Marufin yang juga aktif di Jogja Astro Club dan International Crescent Observationts Project (ICOP).

Senada, Andi juga mengatakan, sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami fenomena hari tanpa bayangan matahari sebanyak dua kali dalam setahun. Tepatnya di kota-kota yang terletak di antara Garis Balik Utara (23.4 derajat Lintang Utara) dan Garis Balik Selatan (23,4 derajat Lintang Selatan).

Untuk kota-kota yang terletak tepat di Garis Balik Utara dan Garis Balik Selatan akan mengalami hari tanpa bayangan hanya sekali dalam setahun, yaitu saat Solstis Juni (21/22 Juni) maupun Solstis Desember (21/22 Desember).

“Di luar wilayah tersebut, matahari tidak akan berada di atas kepada kita (zenit) ketika tengah hari sepanjang tahun,” jelasnya.

Article by

Haluan Logo