in

Debut Ingenuity Sebagai Langkah Awal Misi Berawak ke Mars

Dilansir dari Deutsche Welle Indonesia, Helikopter mini Ingenuity sukses terbang di planet Mars. Langkah kecil ini membuka cakrawala lebih besar, yakni penerbangan ulang alik ke planet merah tetangga Bumi itu.

Sukses terbang perdana helikopter mini di planet Mars Senin (19/04) menunjukkan teknologi ini juga bisa berfungsi di planet lain di luar Bumi. Dengan begitu, terbuka peluang untuk misi ulang alik ke planet merah tetangga kita ini.

“Data altimeter mengkonfirmasi, Ingenuity sudah melakukan terbang perdana sebuah wahana bermotor di planet lain”, demikian pengumuman para insinyur di ruang pengendali Jet Propulsion Laboratory.

Sebuah klip pendek yang dikirimkan oleh rover Perseverance ke ruang pengendali menunjukkan, helikopter mini itu mula-mula berada di tanah, lalu melayang setinggi 3 meter di atas permukaan Mars dan kemudian mendarat kembali. Ingenuity sendiri mengirim foto hitam putih dari kamera yang diarahkan ke bawah, menunjukkan bayangan drone itu di permukaan Mars.

“Kami sekarang bisa mengatakan, manusia telah menerbangkan wahana berbaling-baling di planet lain”, ujar MiMi Aung, manajer proyek Ingenuity kepada tim misi Mars 2020.

Ingenuity lebih tepat disebut drone ketimbang helikopter. Bobotnya 1,8 kilogram (di Bumi) atau hanya sekitar 680 gram di planet Mars yang gaya gravitasinya hanya sekitar sepertiga gravitasi Bumi. Drone dilengkapi, antenna, sel surya dan kamera serta sensor termodern untuk penelitian planet merah itu.

Rotornya memiliki panjang total dari ujung ke ujung 1,2 meter. Ingenuity punya daya jelajah hingga lebih 300 meter pada ketinggian sekitar 3 meter. Helikopter mini ini bergerak otonom dan tidak bergantung lagi pada rover Perseverance.

Atasi kendala atmosfer dan cuaca

Drone Ingenuity merupakan salah satu alat penelitian yang diangkut Perseverance, yang mendarat di permukaan Mars 18 Februari lalu. Yang menarik adalah, target misi Ingenuity tidak berkontribusi pada tujuan riset rover Perseverance.

Targetnya mandiri, untuk menunjukkan teknologi helikopter juga berfungsi di planet merah tetangga Bumi itu. Dengan begitu, akan terbuka cakrawala baru penelitian terestrial Mars, karena cakupan eksplorasi di masa depan akan jauh lebih luas dari wahana penjelajah darat.

Waktu untuk penerbangan perdana Ingenuity diperhitungkan dengan memperhatikan cuaca di Mars. Pasalnya, angin di permukaan planet merah itu bisa bertiup sangat kencang, hingga kecepatan 400 km/jam yang bisa menggagalkan misi. Juga udara di permukaan Mars amat tipis, hanya sekitar satu persen dari tekanan di atmosfer Bumi. Kondisi ini makin menyulitkan “take off” walaupun drone dibantu oleh lebih rendahnya gravitasi.

Memperluas cakrawala hingga ujung alam semesta

Nama Ingenuity dipilih dari 28.000 nama yang diusulkan siswa sekolah di AS dalam sebuah kontes penulisan essay terkait misi ke planet Mars yang digelar NASA tahun 2019. Ingenuity diusulkan oleh Vaneeza Rupani seorang siswa sekolah menengah atas dari Alabama.

Dalam essaynya Rupani menulis: “Kecerdasan adalah hal yang memungkinkan kita meraih hal yang menakjubkan, dan memungkinkan kita memperluas cakrawala hingga ke ujung alam semesta”

Jajaki misi berawak ulang alik di masa depan

NASA menyebutkan, misi Ingenuity di planet tetangga bumi itu, sebagai upaya untuk mendemonstrasikan dan mengujicoba penerbangan bermesin perdana di dunia lain. Sukses terbang perdana di Mars ini, ibaratnya menjadi langkah kecil untuk sebuah langkah raksasa yang akan menyusul berikutnya.

Ekspedisi ke Mars sejauh ini hanya mendaratkan wahana di permukaan planet merah itu. Tidak ada satupun wahana yang kembali mengangkasa, atau lebih jauh lagi, kembali ke Bumi. Dengan penerbangan Ingenuity, para insinyur ingin menunjukkan, bahwa teknologi ulang alik ke Mars sudah siap diterapkan.

Ingenuity dirancang melakukan rangkaian ujicoba penerbangan, dalam kerangka waktu eksperimental “30 hari Mars” mulai hari Senin (19/4). Rencana terbang perdana tanggal 11 April lalu dimundurkan waktunya, karena para operator NASA di Bumi mengidentifikasi masalah perangkat lunak pada rotor drone.

Impian para ilmuwan sejak lama adalah, mengangkut batuan Mars ke Bumi untuk diteliti lebih lanjut. Targetnya, dalam 10 tahun mendatang hal itu bisa menjadi kenyataan. Langkah berikutnya adalah mengirim misi penelitian berawak atau robotika ke Mars, dan tentu saja bukan misi “one way” melainkan misi ulang alik ke Bumi.

Article by

Haluan Logo