in

Kera Berkontribusi Lawan Covid-19, Ketahui Perannya

Ilustrasi kera rhesus. Foto: WIKIMEDIA COMMONS

Kera rhesus dari spesies primata turut berkontribusi dalam studi sains sebagai upaya melawan pandemi Covid-19, Mereka digunakan dalam penelitian ilmiah Pusat Penelitian Nasional Tulane, Amerika Serikat.

Fasilitas yang berada di kota kecil Louisiana, di bagian utara New Orleans, Amerika Serikat ini dilengkapi laboratorium biosafety tingkat tinggi yang mampu menangani ancaman biologis seperti antraks.

Pusat penelitian ini juga memiliki posisi yang strategis untuk bergerak cepat dalam studi Covid-19 saat pandemi Covid-19 melanda dunia.

DNA primata dan fitur fisiologis yang dimiliki kera-kera ini, membuat mereka menjadi model yang ideal untuk diperbandingkan dengan manusia saat mempelajari penyakit.

Hal itu disampaikan Skip Bohm, direktur asosiasi dan kepala petugas medis hewan di pusat penelitian Tulane yang dikutip dari Reuters, Jumat (11/6/2021).

“Primata non-manusia sangat penting bagi kita dalam memahami tidak hanya penyakit dan bagaimana itu memengaruhi organismen, tetapi juga untuk membandingkan perawatan, terapi hingga vaksinasi,” ungkap Bohm.

Kera rhesus adalah spesies primata yang paling umum digunakan untuk penelitian sains. Di pusat penelitian tersebut, spesies ini paling banyak dikembangbiakkan. Di antaranya, sedikitnya ada 200 kera dewasa yang digunakan dalam percobaan virus corona selama setahun terakhir.

Studi terkait Covid-19 oleh pusat penelitian ini, termasuk yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah National Academy of Sciences pada Februari lalu.

Dalam studi yang juga menggunakan kera rhesus dalam penelitian sains ini, para peneliti di pusat penelitian Tulane menemukan dampak Covid-19 pada orang yang lebih tua dan orang dengan indeks massa tubuh yang lebih tinggi.

Primata adalah inti dari penelitian ini, kata Chad Roy, rekan penulis studi dan direktur pusat aerobiologi penyakit menular.

Di antara pekerjaan masa depan, pusat penelitian ini berencana untuk mempelajari ‘long covid’, yakni dampak jangka panjang yang dialami pasien yang telah sembuh dari Covid-19.

Sebab, satu dari 10 pasien yang didiagnosis tetap tidak pulih dalam jangka waktu yang lama setelah mereka mengalami infeksi Covid-19 yang akut atau parah.

“Ada banyak terapi berbeda yang datang online yang perlu diuji, dan dengan jaringan yang kami miliki, kami dapat membandingkan satu perawatan dengan perawatan lainnya,” kata direktur pusat Jay Rappaport, merujuk pada peran fasilitas yang mengoordinasikan pekerjaan Covid-19 dari tujuh pusat penelitian primata di Amerika Serikat.

Setelah eksperimen selesai, pusat sains Tulane menidurkan monyet atau kera-kera yang digunakan dalam penelitian untuk pengumpulan jaringan. Hal ini memungkinkan para peneliti untuk mempelajari dampak Covid-19 di luar sistem pernapasan.

Kathy Guillermo, dari investigasi laboratorium di People for the Ethical Treatment of Animals (PETA), mengatakan primata tidak boleh digunakan untuk pengujian.

“Mereka tidak perlu membunuh mereka (kera) jika mereka tidak menggunakannya. Apa nilai yang akan kita pelajari akan menjadi apa yang kita pelajari dari manusia,” papar Guillermo.

Article by

Haluan Logo