in

Ternyata Bumi Berdetak Setiap 27,5 Juta Tahun, Diikuti Peristiwa Geologis Besar

Ilustrasi planet bumi.

Ahli geologi Bumi mengungkap bahwa Bumi berdetak dalam rentan waktu 27,5 juta tahun atau lebih. Hal ini menentukan aktivitas geologis Bumi.

Temuan ini diungkap sebuah studi baru yang diterbitkan dalam jurnal Geoscience Frontiers. Dalam studi diungkap, selama 260 juta tahun terakhir lusinan peristiwa geologis besar mulai dari perubahan permukaan laut hingga letusan gunung berapi, tampaknya mengikuti pola berirama ini.

Tim peneliti telah menjelajahi literatur dan menemukan 89 peristiwa geologis besar yang terjadi dalam 260 juta tahun terakhir.

“Banyak ahli geologi percaya bahwa peristiwa geologis terjadi secara acak dari waktu ke waktu,” kata Michael Rampino, seorang ahli geologi dan profesor daari Universitas New York, dikutip dari Futurism, Kamis (24/6/2021).

Peristiwa geologis besar yang dimaksud termasuk fluktuasi permukaan laut, peristiwa anoxic laut (saat lautan beracun karena penipisan oksigen), aktivitas gunung berapi besar dan perubahan lempeng tektonik bumi.

Para ahli telah menelitinya dengan menggunakan alat hitung yang dikenal sebagai analisis Fourier untuk mengambil lonjakan frekuensi peristiwa.

Mereka menemukan bahwa sebagian besar peristiwa itu dikelompokkan menjadi 10 waktu terpisah, yang rata-rata berjarak 27,5 juta tahun. Angka itu “mungkin” tidak tepat, tapi hal itu menjadi perkiraan yang cukup bagus dengan interval kepercayaan 96 persen.

Selain ini para peneliti hanya melihat fenomena 260 juta tahun terakhir saat fenomena alam di Bumi cukup akurat. Tetapi mereka berpikir hasilnya kemungkinan meluas lebih jauh ke belakang dalam sejarah planet Bumi. Namun dilihat dari data perubahan permukaan laut kembali sekitar 600 juta tahun tampak ada detak dalam skala ini.

Tidak jelas apa yang menyebabkan terjadinya bumi berdetak seperti itu dalam aktivitas geologis, tetapi hal itu bisa terjadi karena didorong secara internal oleh lempeng tektonik dan pergerakan di dalam mantel bumi.

Dikutip Live Science, para peneliti menduga ada hubungannya dengan pergerakan Bumi, tata surya dan galaksi. Misalnya, detak bumi pada 27,5 juta tahun mendekati osilasi vertikal 32 juta tahun di sekitar bidang tengah galaksi

Rampino dan timnya berharap untuk mendapatkan data yang lebih baik tentang penanggalan peristiwa geologis tertentu. Mereka juga berencana untuk menganalisis periode waktu yang lebih lama untuk melihat apakah denyut nadi meluas jauh ke masa lalu.

Para peneliti juga berharap, suatu hari nanti, mereka bisa mendapatkan angka pasti tentang pergerakan astronomi Bumi melalui tata surya dan Bima Sakti. Mereka bisa melihat apakah ada korelasi antara siklus astronomi dan geologi.

Rampino menjelaskan, jika pola seperti itu ada, cluster terakhir adalah sekitar 7 juta hingga 10 juta tahun yang lalu, jadi yang berikutnya kemungkinan akan datang dalam 10 juta hingga 15 juta tahun.

Article by

Haluan Logo