in

Rahasia Kebahagiaan Orang-orang Berumur Panjang

Ilustrasi orang bahagia. Foto: Shutterstock

Hidup sehat bergantung kepada gaya hidup yang kita jalani sepanjang usia dan lingkungan sekitar. Bukan ditentukan oleh seberapa banyak jus segar atau suplemen mahal yang kita konsumsi.

Hal tersebut sesuai dengan temuan jurnalis sekaligus penulis Destination Wellness: Global Secrets for Better Living Wherever You Are, Annie Daly pada 2019. Ia meninggalkan kesibukannya saat itu di New York untuk bepergian dan mencari rahasia kebahagiaan dari berbagai belahan dunia.

Daly mengunjungi enam wilayah berbeda, termasuk Norwegia, Hawaii, dan Jepang. Lalu ia mewawancarai lebih dari 100 penduduk lokal dan pakar tentang gaya hidup mereka.

Berikut tiga rahasia kebahagiaan para penduduk paling panjang umur di dunia yang Daly temukan:

  1. Banyak menghabiskan waktu di luar ruangan

Annie Daly mengingat salah seorang temannya dari Norwegia mengenalkan filosofi friluftsliv, yang artinya “kehidupan udara bebas”. Penganut friluftsliv menggambarkannya sebagai perasaan mendasar seseorang untuk menghabiskan waktu di luar ruangan sebanyak mungkin.

Tak peduli fakta bahwa Norwegia cukup sering diguyur hujan sepanjang tahun atau matahari tidak terbit selama tiga bulan di wilayah tertentu, orang-orang Norwegia selalu berusaha agar berada di luar ruangan.

Untuk diketahui, penduduk Norwegia termasuk orang-orang dengan harapan hidup tertinggi di dunia. Bagi mereka, banyak menghabiskan waktu di luar ruangan akan membantu meningkatkan suasana hati, kesehatan mental, dan kesejahteraan emosional.

Ia kemudian membandingkan dengan penduduk di negara asalnya. Orang-orang di Amerika Serikat rata-rata tidak menghabiskan cukup waktu di luar ruangan.

Menurut Badan Perlindungan Lingkungan, mereka rata-rata menghabiskan sekitar 90 persen waktunya berada di dalam ruangan, di mana konsentrasi beberapa polutan seringkali mencapai dua hingga lima kali lebih tinggi daripada di luar ruangan pada umumnya. Itu tidak terlalu baik bagi kesehatan kita.

Di Norwegia, untuk mendapatkan efek penyembuhan dari friluftsliv, kita tidak perlu sampai melakukan perjalanan berkemah atau mendaki yang hebat. Kita bisa mendapatkan hanya dengan berjalan kaki di sekitar rumah untuk membeli bahan makanan tanpa naik mobil atau memakai jasa antar.

Cara lainnya yakni memilih piknik di taman daripada makan di dalam ruangan atau lari di taman daripada di atas treadmill.

Banyak penduduk setempat bahkan meninggalkan bayi mereka di luar dengan kereta bayi selama waktu tidur siang sehingga mereka terbiasa dengan gaya hidup di luar ruangan sejak usia dini.

Sebuah rumah dekat dengan kawasan pedesaan Hamnøya di Nordland, Norwegia. Sebagian penduduk Norwegia merasakan mentalnya lebih baik jika menghabiskan waktu di luar ruangan.

  1. Punya ritual

Sebagian besar orang lebih menyukai segala sesuatu yang praktis, termasuk dalam hal makanan dan minuman.

Padahal, salah satu cara untuk menguatkan fokus dan hadir di masa kini adalah melupakan diri sendiri dengan sesekali terlibat dalam aktivitas yang rumit. Bukan hasilnya, tapi fokuslah pada prosesnya.

Harapan hidup penduduk Jepang rata-rata mencapai 85 tahun. Di sana, para ahli teh mempraktikannya dengan upacara minum teh, ritual menyiapkan dan menyajikan teh. Selama proses itu, fokus mereka begitu dalam sehingga mereka tidak memikirkan hal yang lain.

Menurut profesor filsafat dari Temple University, Shigenori Nagatomo, proses tersebut merangkul konsep Buddhis tentang waktu.

“Banyak orang sering melamun, berpikir bahwa ada sesuatu yang lebih baik di tempat lain selain di mana mereka berada,” bebernya.

“Tapi ada realitas pamungkas yang terbentang tepat di depan mata kita, sepanjang waktu, jadi kita perlu melibatkan diri sepenuhnya dalam hal itu,” lanjutnya.

  1. Mencari tahu kisah leluhurnya

Di Amerika, Hawaii menempati posisi teratas untuk negara bagian dengan rata-rata harapan hidup tertinggi.

Greg Solatario, penduduk asli Hawaii yang tinggal di tanah yang sama tempat ia dibesarkan mengatakan bahwa untuk menjalani kehidupan yang sehat dan bahagia, maka kita harus mengetahui kisah diri kita.

“Saya berasal dari tanah ini. Keluarga saya berasal dari tanah ini,” ungkap Greg sambil menunjuk ke hutan hujan tropis di sekitarnya.

“Saya percaya dengan cara yang sangat dalam bahwa mengetahui dari mana saya berasal membantu saya tetap membumi dan terhubung setiap hari,” lanjut Greg.

Sebagai Solatario generasi ke-50, Greg merupakan bagian dari keluarga kuno terakhir yang masih tinggal di Lembah Halawa, sebidang tanah bersejarah di Molokai, tempat orang Hawaii menetap sejak tahun 650 M.

“Ada ungkapan Hawaii, nana i ke kumu, yang berarti “lihat ke sumbernya”, atau “lihat ke gurunya”. Maksudnya adalah nenek moyang adalah pemandu kita,” ujarnya.

Ketika tahu dari mana kita berasal, kita akan lebih mampu mengenal diri sendiri. Mengenal diri sendiri dan mengetahui kisah leluhur kita merupakan salah satu cara terbaik untuk hidup bahagia.

Jadi, kita bisa menanyakan kepada orangtua, kakek-nenek atau tetangga yang lebih tua tentang kehidupan mereka sebelum kita lahir. Cobalah tanyakan, apa saja tradisi atau tips yang menurut mereka harus diwariskan kepada generasi mendatang.

Ini bukan tentang memahami garis keturunan leluhur semata. Ini merupakan cara mengetahui kisah kita dengan meluangkan waktu untuk terhubung dengan para tetua yang membantu membuat jalan kita tampak lebih jelas.

Article by

Haluan Logo