in

Makna Bubur Suro, Menu Khas Tahun Baru Islam

Tahun Baru Islam biasanya dirayakan warga dengan melakukan arak-arakan membawa obor sambil bersyahadat sepanjang jalan.

Selain itu, warga juga memasak panganan khas tahun baru islam yang kemudian dikenal dengan bubur suro atau bubur gurih.

Bubur Suro dibuat gurih dengan menu pendamping lainnya yang memiliki cita rasa asin, gurih hingga pedas.

Dilansir CNN Indonesia, Romo Doni Satriyowibowo, Budayawan Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) menyebut bubur suro memiliki makna tersendiri dalam setiap penyajiannya.

Bahkan dari penamaanya, bubur ini melambangkan nama baik, reputasi baik dan budi pekerti yang harus dijunjung manusia.

Bila penyajian bubur ini dilakukan pada awal tahun Islam, yang berarti menjadi jalan manusia menuju tahun baru dengan pemikiran yang lebih baik.

“Kan bubur dalam bahasa Jawa disebut jenang. Jenang itu artinya ya nama yang baik, hal-hal yang baik,” kata Romo dilansir cnnindonesia.com.

Tak hanya itu, alasan mengapa bubur yang dipilih menjadi makanan khas tahun baru Islam karena bubur merupakan panganan yang melekat satu sama lain, sulit dipecah seperti nasi.

Maknanya, semua akan menjadi satu. Lengket dan saling bahu-membahu. “Jadi konsep bubur atau jenang itu berhubungan dengan nama baik, berhubungan dengan budi pekerti, berhubungan dengan menghilangkan ego pribadi dan lebih ke sosial kolektif,” kata dia.

Rasa gurih bubur suro juga menggambarkan realita kehidupan yang harus dijalani manusia. Jika rasa manis identik dengan suka cita, maka rasa gurih dan asin berhubungan realita kehidupan.

“Konsep dari realita dunia. Jadi orang gak boleh menentang takdir atau tolak keputusan Tuhan. Istilahnya asam garam kehidupan ada di dalam bubur ini,” katanya.

 

Article by

Haluan Logo