in

Melihat Hotel Terapung di Korea Utara yang Nihil Tamu

Four Seasons Barrier Reef Resort. Foto: CNN

Hotel ini dulunya merupakan resor bintang lima yang mengapung di atas gugusan terumbu karang Great Barrier Reef, Australia. Namun saat ini, ia berada di pelabuhan Korea Utara, 20 menit berkendara dari Zona Demiliterisasi, area terlarang yang memisahkan dua Korea.

Hotel ini merupakan hotel terapung pertama di dunia. Dulunya sangat menakjubkan namun berakhir dengan tragedi. Saat ini bahkan disebutkan akan dibongkar. Kapal berkarat ynag punya masa lalu indah ini menghadapi masa depan yang tidak pasti.

Hotel terapung ini merupakan gagasan Doug Tarca, seorang penyelam dan pengusaha profesional yang tinggal di Townsville, di pantai timur laut Queensland, Australia.

“Dia teramat mencintai dan menghargai Great Barrier Reef,” kata Robert de Jong, kurator di Townsville Maritime Museum, dilansir CNN Travel.

Pada 1983, Tarca memulai perusahaan, Reef Link, untuk mengangkut wisatawan melalui katamaran dari Townsville ke formasi karang di lepas pantai.

“Namun kemudian dia berkata: ‘Tunggu dulu. Bagaimana dengan membiarkan orang tinggal di karang semalaman?'”

Tarca awalnya berpikir untuk menambatkan kapal pesiar tua secara permanen ke karang, namun akhirnya menyadari akan lebih murah dan ramah lingkungan untuk membangun sebuah hotel terapung khusus sebagai gantinya.

Konstruksi dimulai di galangan kapal Bethlehem pada 1986, anak perusahaan dari perusahaan baja besar AS yang berlokasi di Singapura yang sekarang sudah tidak beroperasi. Biaya pembangunan hotel ini sekitar U$45 juta — sekitar US$100 juta pada kurs saat ini — dan diangkut dengan kapal angkat berat ke John Brewer Reef, lokasi yang dipilihnya di dalam Taman Laut Great Barrier Reef.

“Ini adalah karang berbentuk tapal kuda, dengan perairan tenang di tengahnya, sangat ideal untuk hotel terapung,” kata de Jong.

Hotel yang diberi nama Four Seasons Barrier Reef Resort diamankan dengan tujuh jangkar besar di dasar laut, diposisikan sedemikian rupa sehingga tidak merusak karang.

Tidak ada limbah yang turun ke laut, air disirkulasikan kembali dan sampah apa pun dibawa ke daratan, agak membatasi dampak lingkungan dari struktur tersebut.

“Ini adalah hotel bintang lima dan tarif bermalamnya tidak murah. Memiliki 176 kamar dan dapat menampung 350 tamu. Ada kelab malam, dua restoran, laboratorium penelitian, perpustakaan, dan toko tempat Anda bisa membeli perlengkapan menyelam. Bahkan ada lapangan tenis, meskipun saya pikir sebagian besar bola tenis mungkin berakhir di Laut Pasifik,” kata de Jong.

Article by