in

Ada Bintang Menyerupai Matahari Keluarkan Letusan Raksasa

Ilustrasi. Ada bintang yang mengeluarkan letusan raksasa. Foto: iStockphoto

Sebuah bintang yang berjarak lebih dari 100 tahun cahaya bernama EK Draconis baru-baru ini mengejutkan para peneliti. Bintang itu mengeluarkan cahaya yang sangat eksplosif.

Hal itu ditemukan oleh tim peneliti yang mempelajari EK Draconis. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Astronomy pada 9 Desember lalu.

Cahaya itu berupa letusan coronal mass ejection (CME) seperti gelembung gas plasma dengan ukuran 10 kali lebih besar daripada yang pernah dikeluarkan Matahari sebelumnya. Kejadian itu menjadi peringatan bahwa sebagai bintang, Matahari pun bisa mengalami hal serupa suatu saat nanti.

Jika Matahari meletus dengan cara yang sama, maka hal tersebut akan merusak orbit satelit dan melumpuhkan seluruh jaringan listrik.

EK Draconis sendiri memiliki massa yang sama dengan matahari namun dengan usia yang lebih muda sekitar 100 juta tahun. Sebagai bintang, kedua objek tersebut terbuat dari gas super panas.

“Hasil pemantauan membantu kami meningkatkan pemahaman tentang bagaimana lontaran massa besar koronal telah terjadi selama 4,6 miliar tahun sejarah bintang seukuran matahari,” ujar Yuta Notsu, astrofisikawan di UC Boulder and National Solar Observatory, seperti dikutip Gizmodo.

Peneliti melanjutkan, meski ledakan super besar tersebut umumnya terjadi pada bintang yang berusia lebih muda, bukan berarti hal yang sama tak mungkin dialami Matahari.

“Peristiwa ini dapat menjadi proxy untuk kemungkinan ledakan super besar tersebut setiap seratus atau seribu tahun Matahari,” tambah Notsu.

Mengutip Space, CME yang menghantam Bumi dapat membakar satelit di orbit dan memicu gangguan besar yang dikenal sebagai badai geomagnetik. Badai tersebut diketahui dapat merusak jaringan listrik.

Sebelumnya, CME pernah ‘menghitamkan’ seluruh provinsi Quebec di Kanada dalam hitungan detik dan hampir mematikan jaringan listrik AS.

Tim ini mengamati EK Draconis sepanjang Januari hingga April 2020. Pada 5 April 2020, mereka mendeteksi superflare yang diikuti sekitar 30 menit CME yang bergerak dengan kecepatan sekitar 1,1 juta mph (1,8 juta kph).

Mereka memperkirakan massanya 10 kali lebih besar dari CME terbesar yang pernah dialami Matahari. Dengan kata lain, temuan ini menunjukkan bahwa Matahari muda juga berpotensi meledakkan CME raksasa yang pada gilirannya dapat memengaruhi Bumi.

Article by

Haluan Logo