in

Studi: Smartphone Tak Sebabkan Tumor Otak

Ilustrasi

Penggunaan smartphone sebagai salah satu pemicu munculnya tumor atau kanker otak masih menjadi perdebatan. Beberapa penelitan terdahulu menunjukkan bahwa penggunaan smartphone tidak memiliki kaitan dengan kanker otak.

Hasil yang sama juga diungkap penelitian terbaru Penelitian terbaru yang diterbitkan oleh Oxford Population Health and International Agency for Research on Cancer menguatkan penelitian sebelumnya bahwa penggunaan smartphone tidak memiliki hubungan sebab akibat pada tumor otak.

Penelitian tersebut berjudul “Penggunaan Telepon Seluler dan Risiko Tumor Otak: Pembaruan Studi pada Jutaan Perempuan di Inggris”. Penelitian ini melibatkan lebih dai satu juta perempuan di Inggris.

Kesimpulan dari penelitian ini menyebut bahwa tidak ada peningkatan risiko tumor otak secara keseluruhan atau subtipe tumor otak, baik pada pengguna ponsel maupun mereka yang tidak pernah menggunakan ponsel.

“Hasil penelitian mendukung bukti-bukti yang sudah ada bahwa penggunaan ponsel dalam kondisi normal tidak meningkatkan risiko kanker otak,” kata Kirstin Pirie, salah satu peneliti dalam riset tersebut dari Unit Epidemiologi Kanker Kesehatan Populasi Oxford.

Meski begitu, penelitian ini memiliki batasan. Batasan penelitian ini yakni belum bisa memastikan dampak penggunaan ponsel pada perempuan yang menggunakan ponsel lebih lama dibandingkan perempuan yang menggunakan ponsel dalam studi tersebut.

Dalam studi tersebut, sebanyak 18 persen perempuan menggunakan ponsel untuk menelpon setidaknya 30 menit atau lebih dalam seminggu.

Perempuan yang ikut dalam studi tersebut juga diizinkan menggunakan teknologi seperti hands-free, atau pengeras suara jika menggunakan ponsel terlalu lama untuk mengurangi radasi.

Joachim Schuz, pimpinan di dalam studi tersebut meyakini bahwa teknologi pada ponsel semakin berkembang, sehingga pancaran radiasi yang muncul akan semakin sedikit.

Kendati yakin, ia tetap menyarankan untuk menggunakan hands-free, atau pengeras suara untuk mengurangi paparan radiasi

“Karena kurang bukti pada pengguna ponsel pada durasi yang lebih lama, menyarankan pengguna ponsel untuk mengurangi jumlah paparan radiasi dengan penggunaan hands-free dan pengeras suara, juga bisa menjadi langkah pencegahan yang baik,” ujarnya.

Kecurigaan terhadap penggunaan ponsel sebagai salah satu penyebab munculnya kanker otak sudah terjadi sejak sebelum smartphone muncul.

Jessica Jones, asisten profesor onkologi di McGovern Medical School, UTHealth Houston, dan Memorial Hermann Health System yang terletak di Houston, AS, mengatakan bahwa kasus tumor otak mengalami kenaikan pada rentang tahun 1995 hingga 2008.

Pada rentang waktu tersebut, peneliti mencurigai ada tren yang meningkatkan jumlah kasus tumor otak. Penggunaan ponsel menjadi yang dicurigai pada waktu itu.

“Ada beberapa tren yang terjadi pada rentang waktu tersebut, salah satunya adalah penggunaan ponsel. Penelitian ini dilakukan kepada banyak pasien, dan kita bisa yakin bahwa ponsel tidak menyebabkan tumor otak,” katanya.

Ponsel dianggap menyebabkan kanker otak karena ponsel memancarkan radiasi. Ponsel memancarkan gelombang radiofrequency (RF) yang digunakan untuk memancarkan sinyal komunikasi.

Pada radiasi yang tinggi, gelombang RF mampu menaikkan suhu tubuh yang berada dalam jangkauan. Pada radiasi yang rendah, ada kekhawatiran gelombang RF menciptakan efek seperti pusing hingga kanker otak.

Pada Mei 2011, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan gelombang RF “diduga karsinogenik, berdasarkan peningkatan kasus glioma, salah satu tipe kanker otak,”

Eks penasihat senior bidang sains dan kebijakan di Agensi Perlindungan Lingkungan AS (Environmental Protection Agency) Lyle D. Burgoon juga menambahkan bahwa penggunaan ponsel tidak berdampak pada risiko tumor otak.

Menurutnya, pihak-pihak yang tidak suka dengan keberadaan ponsel seringkali mengutip temuan Program Toksikologi Nasional (National Toxicology Program/NTP) yang menyebut bahwa penggunaan ponsel dapat menyebabkan tumor otak.

Padahal menurut Burgoon, temuan NTP adalah hasil uji coba radiasi ponsel yang dinaikkan enam kali lipat dan diuji kepada tikus jantan. Dalam radiasi yang dinaikkan hingga enam kali lipat, tikus jantan tersebut mengidap tumor otak.

“Artinya NTP sendiri tidak akan menemukan adanya tumor otak pada tikus jantan jika radiasinya mirip dengan ponsel yang kita gunakan sekarang,” kata Burgoon.

Radiasi yang terpancar di tiap ponsel sendiri tidak bisa disamakan. Laporan BanklessTimes mengatakan bahwa setiap ponsel memiliki radiasi yang berbeda tergantung dari model perangkat, umur perangkat, kekuatan pemancar sinyal dari perangkat, dan jarak dari menara pemancar sinyal.

Seperti dirangkum KompasTekno dari DigitalTrends, Sabtu (16/4/2022), Burgoon mengatakan bahwa selama ponsel yang digunakan mengikuti standar radiasi yang ditentukan Komisi Komunikasi Federal (Federal Communications Comission/FCC) maka tidak ada bukti bahwa pengguna akan mengidap tumor otak.

Di AS sendiri, FCC menetapkan standar SAR (specific absorption ratio) atau perbandingan gelombang medan elektromagnetik (Radiofrequency Electromagnetic Field/RF-EMF), sebesar 1,6 Watt per kilogram (W/kg).

Meski studi ini hanya menyasar kepada perempuan di Inggris, studi lain yang menyasar kepada pengguna ponsel yang lebih muda juga tidak mampu membuktikan adanya peningkatan risiko tumor otak.

Article by