in

Menggunakan Pestisida Alami dari Cengkih: Bubuk hingga Daunnya

Cengkih

Cengkih atau Syzigium aromaticum adalah salah satu sumber bahan pestisida nabati yang mengandung bahan aktif eugenol dan komponen non-fenolat lainnya.

Cengkih memiliki spektrum penggunaan yang sangat luas karena sangat efektif untuk tanaman, baik sebagai bakterisida, fungisida, insektisida, nematisida, maupun moluskisida. Senyawa eugenol yang terkandung dalam cengkih bersifat toksik terhadap beberapa jenis jamur dan patogen tanaman.

Bagian cengkih, seperti seresah, daun, gagang, bunga, hingga minyak cengkih, semuanya mengandung eugenol. Eugenol dan turunannya memiliki efek anticendawan, antibakteri, antirematik, antiseptik, bahkan antivirus.

Dikutip dari laman Cybex Kementerian Pertanian, hasil uji laboratorium Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) menunjukkan eugenol bersifat racun bagi cendawan patogenik seperti Fusarium Oxysporum, Phytopthora Capsici, Rigidoporus Lignosus, Rhizoctania Solani, Sclerotium rolfsii, serta Pseudomonas Solanacearum.

Hal ini membuat penyakit layu bakteri, busuk lunak, serta bercak daun mampu diatasi dengan ekstrak cengkih.

Tak hanya itu, sebagai pestisida nabati, produk dari cengkih mudah diaplikasikan pada tanaman. Berikut langkah-langkahnya.

  1. Bubuk cengkih

Untuk membuat pestisida dari bubuk cengkeh, cukup mengambil 20 kilogram daun atau bunga cengkih kering, kemudian tumbuk halus, lalu diayak. Setelah itu, campur dengan satu hingga dua gram detergen bubuk, aduh hingga rata, dan simpan.

Untuk dosis penggunaan, larutkan satu hingga 1,5 kilogram bubuk cengkih ke dalam 20 liter air. Penggunaan bubuk cengkih dengan dosis 150-200 gram per tanaman mampu mengendalikan patogen tanah.

Untuk mengaplikasikan, taburkan bubuk cengkih secara merata pada lubang tanam.

  1. Ekstrak daun cengkih

Untuk membuat pestisida dari ekstrak daun cengkih, siapkan 10 kilogram daun cengkih basah, lalu keringkan, serra ditumbuk halus menjadi bubuk.

Kemudian, tambahkan 19 liter air pada bubuk daun cengkih, aduk sampai rata, lalu tambahkan 20 gram detergen. Setelah itu, diamkan larutan selama dua hari dan saring.

Larutan pestisida ekstrak daun cengkih siap digunakan. Untuk dosis penyemprotan sekitar satu hingga 1,5 liter larutan, tambahkan 20 liter air.

  1. Minyak cengkih

Minyak cengkih diekstraksi dari daun cengkih kering dengan cara disuling menggunakan metode kukus atau uap panas.

Untuk mengendalikan cendawan dan hama, cukup menyemprotkan 0,3-0,6 persen larutan minyak cengkih. Namun, karena minyak cengkih tidak larut dalam air, perlu menambahkan detergen dengan konsentrasi 10 persen.

Petani cabai di Kepung dan Puncu, Kabupaten Kediri Kediri, Jawa Timur, menggunakan minyak cengkeh untuk mengendalikan virus kuning (Abutilon mosaic virus) yang dibawa oleh hama kutu kebul (Bemisia tabaci).

Hama ini menyebabkan daun cabai menguning dan mengeriting sehingga pertumbuhan tanaman kerdil dan tidak bisa berbuah.

Dengan penyemprotan 0,25 mililiter minyak cengkih, ditambah dengan 0,25 mililiter sabun cuci dan satu liter air, tanaman cabai tumbuh normal kembali, daunnya hijau, dan tumbuh tunas-tunas baru setelah satu hingga dua minggu.

  1. Pupuk organik plus

Daun cengkih mengandung nitrogen, fosfar, kalium, magnesium, ferum, dan kalsium dengan kadar cukup tinggi sehingga dapat digunakan sebagai pupuk organik plus selain pestisida alami.

Untuk memanfaatkannya, campur satu bagian pupuk organik dengan tiga bagian daun cengkih, lalu difermentasi selama satu hingga dua bulan sebelum menggunakannya.